Cinta, Jangan Lagi Beri Aku Harapan Palsu!

Cinta, Jangan Lagi Beri Aku Harapan Palsu!

0 241

“Jika saja kau ingat, genap setahun kau ikat kuat perasaanku. Kau tanam dan kau pupuk ia dalam kesuburan sapa serta perhatian di setiap pesan yang kau tujukan terhadapku. Namun hari ini, kau tunjukkan bahwa aku keliru, kau tegaskan bahwa Allah tengah menegurku.”

ALHIKMAHCO,– Hari telah senja ketika sayup-sayup kudengar suara langkah kaki mendekat. Beberapa meter dari tempatku duduk, sosok itu melangkah sembari tersenyum ramah, meski gurat-gurat di wajahnya jelas menunjukkan letih dan kebutuhan besar untuk merebahkan diri barang sejenak. Perlahan ia melambaikan tangan, akupun membalasnya.

Assalamu’alaikum, Dik”, sapanya, menyodorkan punggung tangan dan mengelus keningku lembut. Kusambut dan kucium punggung tangan itu lalu berbalik mengucap salam untuknya, “Wa’alaikumussalam, Mas”. Tanpa berpatah kata lagi, kami melangkah masuk ke dalam rumah.

Di teras ini, hampir setiap hari, aku menungguinya pulang dari kantor. Ia bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan ternama di Kota, sedang kami tinggal di Kabupaten, di salah satu desa terpencil. Jarak rumah dengan kantor yang cukup jauh, sekitar dua jam ketika ditempuh menggunakan angkutan umum, menyebabkannya membutuhkan waktu lebih lama untuk pulang dan pergi. Belum lagi, kondisi keuangan keluarga kami yang sedang sulit, tidak cukup mampu memberikannya kemudahan meski sekadar membeli sepeda motor bekas.

“Mas, Adik buatkan teh hangat ya?”, tanyaku. Ia hanya mengangguk pelan dan lagi-lagi menyunggingkan senyum.

Setelah menaruh tas kerja serta merapikan sepatu dan kaus kakinya, aku segera beranjak ke dapur dan membuatkannya teh hangat, sedang ia nampak berselonjor kaki di teras depan.

Dalam kesenyapan itu, tiba-tiba saja, ingatanku melayang pada masa tujuh tahun silam, di mana kami masih belum mengenal satu sama lain, di mana aku tidak pernah membayangkan bahwa ia akan benar-benar menjadi suamiku. Hingga akhirnya, tak mampu lagi kutahan, rebasan tangis meluncur dari pelupuk kedua mataku. Ya Tuhan, harusnya melupakan semua itu akan terasa lebih mudah.

Masih nampak segar dalam ingatan, tujuh tahun silam, begitu banyak perasaan berkecamuk dan meletup-letup di dadaku. Setiap hari, kesibukanku hanya satu, yaitu menatap lamat-lamat layar handphone. Jika ada pesan baru, aku tak pernah mampu bersabar untuk melihat siapa pengirimnya. Jika ia adalah orang yang kutunggu-tunggu, maka segera saja kubuka pesan itu sembari tersenyum dan bergumam “Ah, akhirnya…”.

Kala itu aku masih belia. Usiaku 19 tahun dan baru saja menginjak tingkat 2 bangku perkuliahan. Namun, entah mengapa, sejak menyelami berbagai buku tentang Munakahat dan menghadiri beberapa kajian pra-nikah, aku mengazzamkan diri untuk bersegera menyempurnakan separuh agama. Meski di sisi lain, orang tuaku secara keras melarang. Menurut mereka, aku masih belum cukup siap untuk melangkah begitu jauh.

“Harus berapa kali Ummi katakan, Maryam? Tuntaskan dulu kuliahmu, barulah setelah itu kamu boleh memikirkan persoalan membina rumah tangga!” ucap Ummi, menyergah setiap kali aku mulai membuka topik pernikahan di hadapannya.

Tapi aku tak hilang akal. Segala cara kulakukan agar Ummi dan Abi merestui keputuskanku itu. Setiap hari pukul 3 pagi, aku selalu bangun lebih awal. Kubereskan kamarku dan seluruh kamar lainnya di rumah. Mulai dari menyapu, mengepel, mengelap kaca, mencuci piring, bahkan memasak nasi dan lauk pauk ketika waktu masih begitu panjang menjelang shalat Subuh. Tidak tanggung-tanggung, di akhir pekan, kusempatkan diri untuk merawat bunga-bunga dan memangkas rerumputan di halaman depan rumah.

Ummi dan Abi tentu merasa keheranan pada awalnya. Namun seiring waktu, akhirnya mereka paham bahwa tekad putrinya ini sudah sangat bulat, sehingga tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali memberikan izin bagiku agar dapat segera melangsungkan pernikahan.

Kala itu, jika boleh kukatakan, aku tengah mengagumi seorang ikhwan. Ia adalah aktivis organisasi keislaman di kampusku yang sekaligus memiliki prestasi gemilang di bidang akademik. Sejujurnya, hal itu pula yang menyebabkanku mengambil keputusan untuk ikut aktif di organisasi keislaman yang sama, bahkan memilih bidang yang sama dengannya. Ia Kepala Bidang Syiar Dakwah, sedang aku adalah salah satu staf di sana.

Tidak banyak orang tahu, pun aku tidak akan sengaja memberitahu, bahwa beberapa kali selama menjalani kepengurusan di organisasi, ia pernah memberikanku hadiah-hadiah kecil. Tentu saja itu semakin membuatku merasa bahwa ia mungkin memiliki kekaguman yang sama terhadapku. Aku berharap, melalui izin kedua orang tuaku, ia mungkin akan merasa lebih mudah untuk menyatakan kekagumannya dan bersegera menghalalkan hubungan kami.

Aku sudah cukup risih terlalu sering mengobrol dengannya di media sosial. Namun bagaimana lagi, hanya sebatas itulah interaksi yang dapat kami lakukan. Akan sangat memalukan ketika kami begitu akrab di dunia nyata, apalagi dengan kami yang sama-sama menyandang status sebagai aktivis dakwah di kampus.

Waktu berselang cukup lama. Aku dan ia masih saja hanya mampu mencukupkan diri dengan berinteraksi via media sosial. Meski demikian, letupan itu tidak pernah berubah apalagi berkurang. Aku masih sama antusiasnya menunggu kiriman pesan darinya sejak pertama kali ia melakukannya. Aku masih sama mampu tersenyum lebar ketika membaca pesan-pesannya sejak pertama kali kudapatkan itu darinya. Hingga suatu hari, semua itu berubah bagai ampas, bahkan perlahan menjadi duri di hari-hariku.

Sepekan setelah kepengurusan organisasi berakhir. Tetiba saja, tak ada angin dan tak ada hujan, sebuah kiriman sampai ke rumahku. Kiriman itu berisi surat undangan pernikahan, darinya yang selama ini kuharapkan. Namun, bukan namaku yang tercetak  di lembaran undangan itu sebagai mempelai wanita, melainkan salah seorang sahabat dekatku di kampus.

Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Langit bagai runtuh. Awan gelap menggantung siap terjatuh. Jika saja bukan karena sekeping iman terselip di dada ini, aku pasti sudah berlari dan meraung keras di hadapannya. Mengapa ia begitu tega melakukan ini padaku? Bukankah dahulu ia yang memulai percakapan dan menampakkan perhatian? Tidak cukup baikkah aku sehingga ia lebih memilih wanita lain dibanding melangkah serius bersamaku? Atau setidaknya, jika sejak awal aku tidak pernah menjadi pilihan baginya, mengapa tidak ia sudahi saja keakraban kami sehingga tidak akan begitu sakit perasaanku karenanya saat ini?

Hampir setahun kulewati masa-masa sulit itu. Pedih batinku setiap kali ia berbagi momen-momen bahagia bersama isterinya melalui status, foto, hingga video di media sosial. Bahkan tidak sampai setahun menginjak usia pernikahan, kudengar ia akan segera menjadi seorang ayah. Oh Allah, bagaimana mungkin hidup bisa begitu berat?

Dua tahun kemudian, akhirnya ikhlas itu mulai terasa. Aku memilih merelakannya dibanding bergelut terlalu lama dengan perasaanku sendiri. Kututup lembaran lama, beralih menuju lembaran yang baru.

Mas Fadhil, suamiku kini, hadir dalam kehidupanku tak lama setelah itu. Aku hanya mengenalnya lewat rekomendasi seorang senior di kampus. Kala itu kutahu ia baru saja lulus dan belum memiliki pekerjaan tetap. Meski demikian, ketaatannya dalam beribadah dan keindahan akhlaknya membuatku yakin terhadapnya. Pun aku terus saja berdoa, semoga keputusan ini bukan semata-mata sebagai bentuk pengalihan, melainkan murni dalam rangka beribadah kepada Allah Swt.

Terkadang, ketika hatiku kembali terguncang, kuraih sebuah kotak merah muda yang tersimpan rapi di dalam lemari. Di dalam kotak itu, aku simpan selembar surat yang tidak pernah sempat kuberikan pada orang yang kukagumi dahulu. Bukan untuk kembali merasakan sakit yang sama, melainkan sebagai pengingat sekaligus menjadi penguat hubunganku dengan Mas Fadhil.

****

Irwan,

Semoga Allah senantiasa melindungi dan melimpahkan rahmat-Nya untukmu.

Jika saja kau ingat, genap setahun kau ikat kuat perasaanku. Kau tanam dan kau pupuk ia dalam kesuburan sapa serta perhatian di setiap pesan yang kau tujukan terhadapku. Namun hari ini, kau tunjukkan bahwa aku keliru, kau tegaskan bahwa Allah tengah menegurku.

Aku hanya seorang wanita biasa, yang tentu berharap penuh akan cinta. Namun, kau tahu, seringkali harapan itu tumbuh serakah, hingga ia mengambil tempat yang bukan haknya. Harusnya cinta itu tercukupkan dengan kecintaan terhadap Rabb-nya, namun rupanya kekeliruan membuat ia tak lebih dari hawa nafsu yang bersiap menoreh luka.

Irwan, andaikan benarlah kau seorang ikhwan, tentu kau paham bagaimana perasaanku kini. Jika boleh aku berdalih dan bertanya tegas terhadapmu, apa alasan yang membuatmu memberikan begitu banyak harapan untukku? Jika kau tak pernah benar-benar melihatku sebagai pilihan, mengapa masih saja kau sirami perasaanku hingga kini ia tumbuh beringas?

Semoga Allah senantiasa memudahkan segala urusanmu.

Semoga Allah bahagiakan engkau di atas jalan ridha-Nya.

Sahabatmu,

Maryam Alfiyah

***

Sore tadi, menjelang kepulangan Mas Fadhil, kubuka surat itu untuk kali terakhir. Aku yakin, meski surat itu tak pernah sampai pada pemiliknya, Allah sudah sampaikan pesanku kepadanya. Sehingga, biarlah kini, yang tersisa hanyalah kesungguhan cintaku terhadap Mas Fadhil.Cinta yang dibangun di atas ridha dan keikhlasan. Cinta yang tak pernah menakar diri lebih dari cinta terhadap Rabb-nya. (Asih/Alhikmah)

Komentar ditutup.

BERITA TERKAIT

0 138