Ceu Ida, Puluhan Tahun Berdakwah, Tak Lelah.. Karena Semua Lillah

Ceu Ida, Puluhan Tahun Berdakwah, Tak Lelah.. Karena Semua Lillah

0 144

Mati Satu Tumbuh Seribu. Mungkin itu adalah kalimat yang cocok untuk menggambarkan sosok wanita mulia yang satu ini. Ia bukan orang pertama di dunia ini yang mengajarkan indahnya Islam di salah satu sudut bumi Nusantara. Namun, ia adalah satu dari pelanjut cita-cita, untuk menyebarkan kalimat Al-Quran di lapisan masyarakat biasa.

ALHIKMAH.CO–Siti Saadah adalah wanita berusia 65 tahun yang tinggal di kawasan Cicalengka, Selatan Bandung. Namun jangan salah, usia ternyata tidak menghalanginya untuk terus beribadah di jalan Allah. Selama 20 tahun lamanya, ia pulang pergi dari Cicalengka ke wilayah Banceuy Bandung, dan sowan ke beberapa daerah lainnya untuk mengajarkan cara membaca Al-Quran yang benar. Tak terhitung berapa sudah jamaah yang diampunya ini. Yang jelas ketika nafas masih berembus, Ceu Ida, sapaan akrabnya akan terus menebarkan kebaikan itu.

Ditemui Alhikmah selepas mengajar ngaji jamaah ibu-ibu di Masjid Al-Fata – Banceuy, Ceu Ida berceritera, sederhananya, apa yang ia lakukan selama ini hanyalah melanjutkan perjuangan dakwah suaminya, (almarhum) Yusuf. Sebab, suaminya termasuk pegiat dakwah yang sangat aktif di organisasi keislaman, sebut saja di Pelajar Islam Indonesia (PII), Persatuan Umat Islam (PUI), dan Gerakan Pelajar Indonesia (GPI). Dengan keilmuannya, Yusuf sangat senang berbagi dengan masyarakat sekitar.

“Bapak selalu berharap agar umat Islam di dunia, khususnya di Indonesia itu bersatu. Tidak tersekat golongan maupun partai. Sebab sedari dulu pun gerakan-gerakan yang bermaksud menceraiberaikan Islam sudah cukup massif. Karenanya untuk membentengi diri dari hal-hal yang demikian adalah dengan menanamkan pemahaman keislaman yang murni,” ujar Ceu Ida di pertengahan Oktober 2014.

“Karenanya, keislaman yang murni itu hanya bisa didapatkan dengan memahami pedoman hidup manusia, yakni sumber utamanya adalah Al-Quran. Ini yang menjadi spirit Bapak yang menular ke Ibu,” tambah Ceu Ida.

Gayung pun bersambut di tahun 1973, sepetak rumah bilik di belakang Masjid  Al-Fata-Banceuy saat itu, menjadi saksi. Ia bersama suami berkenan pindah ke Banceuy untuk mengajarkan cara membaca Al-Quran kepada masyarakat sekitar, khususnya untuk ibu-ibu, serta memakmurkan masjid dengan ragam kegiatan keislaman. Saat itu jumlah jamaahnya bisa dikatakan cukup banyak, sekira 40 orang.

Hingga Tahun 1985, karena kesibukan Yusuf di pelbagai organisasi keislaman itu, ditambah dorongan dari Basirin, anak muda yang membantu Ceu Ida mengurusi pekerjaan rumahnyalah yang membuat ia memberanikan diri untuk mengajar,  menggantikan suaminya.

“Walaupun pada saat itu baru memperbaiki cara membacanya saja, tapi alhamdulillah respon dari jamaah cukup bagus. Karena banyak jamaah yang suka dengan cara Ibu mengajar, akhirnya jamaah di sana meminta Ibu untuk terus mengisi pengajian,” papar Ceu Ida mengenang.

“Tapi kalau kekinian ‘kan tidak bisa seperti itu terus. Makanya Ibu tambah dengan terjemahannya, tafsirannya. Dan responnya lebih luar biasa lagi. Jumlah jamaah yang menghadiri pengajiannya bisa dikatakan jarang anjlok, hingga tak ada,” lanjut Ceu Ida.

Suasana pengajia ibu-ibu di Masjid Al Fata Banceuy
Suasana pengajia ibu-ibu di Masjid Al Fata Banceuy

Namun tak berselang lama, dua tahun kemudian, ibunda Yusuf yang mempunyai pesantren di bilangan Cicalengka, meminta agar Yusuf pulang dan mengurus pesantren saja. Berat bagi Ceu Ida meninggalkan jamaah begitu saja. Lagipula ia merasa sayang bila aktivitas mengaji yang sudah rutin itu terhenti seketika dan tiada yang bisa melanjutkan.

“Ada seorang jamaah yang tidak ingin kami tinggalkan begitu saja. Ia meminta walaupun sudah pindah tempat tinggal, tapi ibu diharapkan tetap memberikan tausiyah dan mengajarkan mengaji. Akhirnya, karena pertimbangan-pertimbangan tersebut, Ibu tetap ngisi pengajian di Masjid Al-Fata hingga sekarang,” ungkapnya.

Spirit menebarkan Islam terus berpendar, walau usianya tak lagi muda. Rupanya, selain mengajar di Masjid Al-Fata, ia memberikan tausiyah dan mengajarkan mengaji di beberapa tempat lainnya, sebut saja di Buah Batu, Garut, dan Cicalengka. Dengan demikian. Jadwalnya pun terbilang padat, Senin di Bandung (Masjid Al-Fata-Banceuy) Selasa dan Sabtu (di Cicalengka), Rabu (di Garut). Sementara itu, di saban Subuhnya, beserta jamaah di tempat kediamannya, ia juga turut membuka kelas diskusi dan mengaji bersama.

Belum sampai disitu, pembaca. Walaupun sudah bertahun-tahun memberikan tausiyah, Ceu Ida tak sungkan untuk terus memperkaya khazanah keilmuannya dengan mengikuti pengajian yang digelar majelis taklim lain di sela waktu kosongnya. Kalaupun tidak, ia juga suka menyimak tausiyah dari layar televisi. Di mana pun, kapan pun, siapa pun ustadznya, ia tak pernah menutup telinga bila itu berkaitan dengan ilmu Islam. Sehingga, ketika ia memberikan tausiyah kepada jamaah pun, apa yang diucapkannya kaya akan sumber pengetahuan. Inilah satu dari sekian hal yang disukai jamaah darinya. Tausiyahnya sarat dengan fenomena kehidupan yang terjadi di masyarakat.

Dengan aktivitas yang demikian, banyak dari jamaah yang menaruh heran. Sebab dengan jadwalnya yang demikian, tak terlihat raut kelelahan dan ia masih sehat wal afiyat. Bahkan, ketika berbincang dengan Alhikmah pun, artikulasi bicaranya masih terdengar begitu jelas. Subhanallah.

Memang Ceu Ida pun tak menampik bahwa dirinya kerap mengalami keluhan penyakit yang biasa dirasakan orang-orang di usianya, namun ia juga berusaha secara syariat dengan mengonsumsi madu dan obat-obat herbal untuk menjaga kesehatannya. Ia tidak mau terlalu bergantung ke obat kimia. Namun, terlepas di luar apa yang telah diupayakan. Ia percaya, segala kenikmatan rezeki cum kesehatan yang dirasakan saat ini semata-mata karena keberkahan ilmu yang selalu ia dan suaminya dulu bagi.

Benarlah ayat yang mengatakan Allah akan menolong hambaNya yang menolong agama Allah. Sulit dipercaya, tapi nyata. Ceu Ida benar-benar merasakan bahwa pertolongan Allah itu dekat. Di kala hati rindu sujud di Baitullah, Allah mudahkan jalannya. Pun ketika anak-anaknya menempuh studi, Allah lancarkan keran rezekinya. Sehingga, kesembilan anaknya sukses menempuh sarjana, lewat pintu yang tak dinyana juga. Alhamdulillah.

“Ibu merasa keberkahan dan segala kemudahan yang ibu alami adalah sebagai bentuk perintah dari Allah secara langsung kepada saya agar saya konsisten di jalan dakwah ini. Seolah-olah Allah yang menempatkan saya di sini,” tandas Ceu Ida berargumentasi

Tapi apa yang membuatnya bertahan hingga dua puluh tahun lamanya? Penghasilan yang melimpah? Tidak pembaca. Ceu Ida mengaku hanya mendapatkan seratus ribu per minggunya. Itupun akan terpotong oleh ongkos perjalanan setengahnya. Bahkan ketika untuk pertama kalinya ia bulak-balik Bandung-Cicalengka, ia hanya mendapatkan uang pengganti ongkos sebesar 10 ribu rupiah. Ia tidak ingin memasang tarif, sebagaimana fenomena ustadz dewasa ini. Ceu Ida sadar akan kebutuhan yang harus dipenuhinya, namun ia tak ingin uang menjadi hal yang membuat ia berdakwah.

Bukan, bukan karena tambahan penghasilan yang membuat ceu Ida betah dengan  kegiatannya ini. Bahkan, di beberapa tahun sebelumnya pun, ia acap kali meminjam uang kepada tetangganya agar bisa sampai di lokasi mengajar, selepas ada lebih baru ia bayarkan.

Ternyata, kecintaan dan rasa sayang Ceu Ida terhadap warga masyarakat di sanalah yang menjadi kuncinya. Ia berpikir, membaca Al Quran adalah salah satu langkah mengimani kitab suci tersebut. Bila membacanya saja tidak bisa, bagaimana bisa dijadikan pedoman? Dan bila tidak menjadi pedoman, bagaimana bisa selamat dari pertanyaan-pertanyaan alam kubur?

Selama 20 tahun ia mengajar, karakteristik masyarakat di pelbagai daerah yang diampunya rata-rata memiliki kesamaan. Sama-sama banyak yang tidak menyadari bahwa selepas kehidupan di dunia ada lagi kehidupan yang kekal. Sementara, orang-orang terlalu fokus mengejar dunia yang hanya sebentar saja, dan terbatas oleh umur. Bukan sekali dua saat mengajar ngaji, ia temukan ibu-ibu yang memakai gelang emas, namun masih terbata saat mengeja ayat suci. Bukan tidak boleh demikian, hanya, hemat Ceu Ida, harus tahu prioritasnya.

Miris memang, tapi begitulah kondisinya. Dasar cinta Lillah inilah yang menguatkan Ceu Ida tetap Istiqamah melakukan dakwahnya. Selain itu, Ceu Ida selalu mendorong jamaahnya agar bisa menjadi dai juga, setidaknya untuk anak dan cucu kelak.

“Semua Nabi dan Rasul itu diperintahkannya sama, yakni menyerukan ajaran tauhid pada umatnya. Mencetak para pelanjut risalahNYa, mengakbarkan kalimat-kalimat Allah di muka bumi ini. Ketika kita ingin meneladani perjuangan Rasul, maka teladanilah bagaimana Rasulullah berdakwah, membina masyarakatnya,” ungkap Ceu Ida.

Dan dalam pandangan Ceu Ida, orang yang mendakwahkan ajaran Islam, rela menyisihkan waktunya, harta, dan pikirannya untuk umat, adalah sebenar-benarnya pahlawan. Karena itu, pada dasarnya semua orang bisa menjadi pahlawan sejati. Yakni dengan menjadi dai yang bukan sekadar mengajarkan cara membaca Al-Quran, tapi hingga diajak berpindah dari jalan hidup yang penuh kesesatan, menuju jalan kebenaran. Wallahua’lam.

(Senandika/Alhikmah)