Cerita Hamida dari Newcastle : Tampilkan Indahnya Islam dengan Perilaku

Cerita Hamida dari Newcastle : Tampilkan Indahnya Islam dengan Perilaku

0 111

 

Adalah sebuah kehormatan bagi saya, bisa berbagi pengalaman dengan sahabat-sahabat semua. Sejenak, saya bisa mengenang masa-masa mengesankan kala saya masih menuntut ilmu di Inggris, tepatnya di Newcastle University. Beragam pengalaman saya sebagai minoritas di negeri besar, mudah-mudahan menjadi inspirasi dan dapat diambil hikmahnya.

ALHIKMAH.CO– Pembaca, bagi sebagian orang, menetap di negeri orang tentu adalah hal yang menantang, sekaligus juga menakutkan. Apalagi bagi insan muslim. Bisa menempuh studi di negeri yang kental dengan budaya Barat, membuat saya sesaat bertanya-tanya dalam hati. Apakah mereka akan menerima saya, yang hidup sebagai muslimah?

Setelah direnungi, perasaan khawatir seperti itu tentu selalu melintas di hati orang-orang yang hendak tinggal di lingkungan baru. Setelah saya menetap disana pada 2014 lalu, Alhamdulillah rupanya Islam sudah diterima dengan cukup baik. Masyarakat mulai mengenal Islam, terbukti dengan beberapa restoran halal yang lazim ditemui di lokasi-lokasi tertentu.

Di kampus saya, pihak kampus pun menyediakan tempat sholat yang ukurannya besar dan bisa menampung cukup banyak jamaah. Mereka mengizinkan kami beribadah, bahkan ibadah sholat Jumat, juga untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan keislaman di tempat tersebut.

Memang, masyarakat Inggris sendiri sudah kian karib dengan dunia Islam. Terlebih, mereka juga sering berinteraksi dengan imigran-imigran mantan negeri pesemakmuran Inggris, seperti Pakistan. Kami menjalin hubungan yang sangat baik dengan masyarakat Inggris. Mereka begitu merangkul dan bertangan terbuka.

Di Newcastle, masing-masing imigran memiliki komunitas muslim sesuai dengan negaranya masing-masing. Saya sendiri, kerap mengikuti kegiatan yang diadakan oleh komunitas muslim di Indonesia. Kami menamai komunitas muslim ini Al Imanu. Melalui komunitas ini, kami bisa bersilaturahmi sekaligus menimba ilmu agama di pengajian yang diadakan sekali sebulan.

Ada pula komunitas serupa UKM di kampus saya, bernama Newcastle University’s Islamic Society (ISOC). Kegiatan disana sangat beragam, termasuk mengordinasikan kajian rutin dan sholat Jumat. Mereka juga sering menggelar Discover Islam Week sebagai agenda tahunan mereka mengenalkan Islam ke masyarakat sekitar.

Di antara semua, yang paling menarik adalah Islamic Diversity Centre, organisasi Islam yang didirikan pada 2002. Mereka membuat program pendampingan bagi para muallaf yang hendak mendalami Islam. Mereka juga giat mengikis stereotip negatif terhadap Islam, yang selama ini banyak digembar-gemborkan media.

Hidupnya komunitas-komunitas di sana tentu membuktikan betapa tolerannya warga Inggris, terkhusus Newcastle, pada para penganut agama Islam. Memang bukan berarti tak ada sama sekali masyarakat yang menunjukan antipatinya. Sepanjang pengetahuan saya, orang-orang yang sentimen pada Islam berjumlah sangat sedikit.

Seperti salah satu pengalaman tak terlupakan satu ini. Suatu hari, pada 28 Februari 2015, kelompok anti-Islam asal Jerman bernama Pegida menggelar unjuk rasa di Newcastle. Ada sekira 375 orang demonstran yang saat itu menyuarakan sikap diskriminatif pada Islam dengan keras.

Namun rupanya, warga Newcastle yang mendukung Islam tak mau kalah. Mereka menggelar demonstrasi tandingan dengan jumlah demonstran sebanyak 2000 orang. Dua pihak itu mengambil jalur long march yang berbeda, hingga kemudian bertemu di satu titik. Masing-masing pihak lalu saling berorasi mengeluarkan pendapatnya.

Di titik ini lah, ada rasa haru yang menyelinap dalam hati saya. Saya begitu terenyuh melihat warga lokal yang begitu menerima Islam dengan tangan terbuka, bahkan membela kami saat ada kelompok yang memandang sinis kepada kami sebagai muslim. Betapa toleransi yang mereka tunjukkan dapat menyejukkan perasaan saya.

hamida1

Melalui peristiwa ini pula, saya mampu merasakan Allah, Sang Maha Kuasa, begitu dekat dengan makhluk-Nya. Jika Ia berkehendak untuk menolong agama-Nya, juga hamba-hamba-Nya, maka datang lah pertolongan itu. Ia mampu dan berkuasa dalam menggerakkan hati siapapun untuk bertindak, terlepas ia seorang muslim maupun bukan.

Kejadian ini juga membuat saya banyak berpikir. Jika saya lihat, tindak diskriminasi seperti kasus di atas memiliki penyebab yang cukup kompleks. Bisa jadi, perilaku Islamophobia dimantik oleh tindak kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai muslim.

Namun, bagaimana jika akar penyebabnya justru ditanam sendiri oleh umat Islam? Bukan tak mungkin kan?

Saya umpamakan dengan kebiasaan umat Islam sendiri. Kendati agama suci ini mengajarkan mengenai kebersihan dan ketertiban, misalnya, namun selalu ada stereotip bahwa umat Islam sendiri tidak setertib ajarannya. Bisa jadi, itu yang membuat orang-orang nonmuslim kurang menghargai, dan tidak respek pada umat Islam.

Merenungi hal itu, ini lah saatnya kita, sebagai umat Islam untuk mawas diri. Yang bisa kita lakukan untuk meredam diskriminasi itu adalah dengan terus mendalami agama Islam.

Saya sendiri pun ingin terus belajar, agar nilai-nilai Islam itu bisa diresapi lewat perilaku keseharian. Dengan begitu, saya optimis orang-orang non-muslim dapat menyadari indahnya Islam.

Pengalaman saya selama satu tahun di Inggris, hanyalah sekelumit dari ribuan kisah hikmah yang dialami oleh muslim di belahan lain di dunia ini. Namun pada intinya, dimana pun kita berada, terus lah menimba ilmu agama, agar bisa merepresentasikan Islam dengan baik di hadapan masyarakat dunia.

Seperti yang disampaikan Hamida Amalia, Mahasiswi Indonesia di Newcastle University