Cerita Fathin Saifur Rahman tentang Pasang Surut Islam di Negeri  Sakura

Cerita Fathin Saifur Rahman tentang Pasang Surut Islam di Negeri  Sakura

0 107
fathin (do.pribadi)

 

Berdasarkan yang saya alami, memahamkan kebutuhan kita sebagai muslim kepada orang Jepang pun tidak begitu sulit. Komunikasi selalu menjadi kunci, contohnya saat kita hendak shalat. Jika kita menjelaskan dengan baik bahwa shalat adalah kewajiban bagi muslim, maka biasanya orang Jepang akan mengerti, dan menyediakan waktu untuk kita menjalankan ibadah.

ALHIKMAH.CO–Pembaca, kita tentu mengenal Jepang sebagai  negeri futuristic yang menawan hati. Di dalamnya, telah lahir berbagai macam teknologi, mulai dari robot, perangkat elektronik, sampai transportasi super cepat.

Tak heran, banyak pula pelajar yang memburu ilmu ke sana, berharap bisa menyesap seteguk cakrawala ilmu yang diberikan Allah. Tak terkecuali saya pembaca, yang saat ini sedang melakukan studi di Kyushu Institute of Technology, Kitakyushu Jepang.

Kitakyushu begitu hiruk pikuk. Di sana, kita selalu bisa melihat orang-orang yang nampak berjalan cepat, memburu perkara duniawi yang belum terselesaikan. Derap langkah mereka melintasi puluhan gedung berderet-deret, menjulang menantang langit di pusat kota. Di atas kepala, sejajar dengan gedung-gedung pencakar langit itu, kereta monorail melaju cepat. Kota paling utara pulau Kyushu Jepang itu semakin semarak.

Memang tak seramai dan sepadat wilayah lain di Jepang. Namun serupa dengan kota lainnya di Jepang, Kitakyushu pun bersih, teratur, dan berperadaban. Di tempat inilah, selama enam bulan saya menempa ilmu dan pengalaman. Ada banyak hal menarik yang saya dapatkan selama di sini. Termasuk, soal kepercayaan.

Di negeri Sakura ini, masyarakatnya menganut keyakinan warisan leluhur. Saya kerap melihat mereka mengunjungi kuil-kuil, berdoa, atau sesekali sekaligus merayakan peringatan keagamaan yang lekat kaitannya dengan tradisi nenek moyang.

Namun, di sisi lain, saya mendapati warga Jepang tak ambil pusing, bahkan tak terlalu peduli dengan keyakinan atau agama yang mereka pegang. Agama, tak pernah menjadi isu yang besar. Selama berperilaku dengan baik, agama sepertinya tidaklah begitu bagi mereka.

Pun ketika menghadapi orang yang menganut pemahaman yang berbeda dengan mereka. Lain dengan beberapa negeri minoritas muslim yang keras menyuarakan Islamophobia, tak ada sikap diskriminasi dari masyarakat Jepang.

Kepada umat Islam, saya bisa katakan sebagian dari mereka sangat terbuka. Sedang sebagian besar lainnya hanya bersikap cuek, tak acuh. Mereka tak pernah mempermasalahkan jika melihat seorang muslimah mengenakan jilbab, atau ketika seseorang sholat di area publik.

Berdasarkan yang saya alami, memahamkan kebutuhan kita sebagai muslim kepada orang Jepang pun tidak begitu sulit. Komunikasi selalu menjadi kunci, contohnya saat kita hendak shalat. Jika kita menjelaskan dengan baik bahwa shalat adalah kewajiban bagi muslim, maka biasanya orang Jepang akan mengerti, dan menyediakan waktu untuk kita menjalankan ibadah.

Kendati demikian, di Kitakyushu sendiri, muslim tidaklah begitu banyak. Komunitas muslim di sini pun terbilang tak begitu aktif. Tak ada kegiatan yang rutin dalam jangka waktu pendek.

Sesekali kami hanya bersilaturahim di satu waktu, atau berkumpul saat hari raya Ied. Barangkali, tidak adanya masjid di Kitakyushu menjadi salah satu penyebab kegiatan-kegiatan kami tidak terwadahi, sehingga Islam belum terlalu berkembang di kota ini.

Karena kurangnya perkembangan, surutnya Islam ini pula, makanan berlabel halal masih sulit ditemui. Tak jarang, saya benar-benar harus awas dan hati-hati dalam mencermati bahan-bahan makanan di supermarket. Padahal di kota-kota lainnya, jaringan supermarket penyedia makanan halal sudah banyak.

Lain Kitakyushu, lain pula dengan Fukuoka. Kota terpadat di pulau Kyushu ini adalah kota pertama yang saya tinggali saat sampai di Jepang. Di kota ini, Islam jauh lebih berkembang.  Makanan muslim-friendly mudah ditemukan. Bahan-bahan makanan halal seperti ayam boneless, nugget ayam, dan lain-lain, sudah tersedia di toko mereka.

Dan tentunya, adanya masjid. Di sana, terdapat sebuah tempat ibadah bernama Fukuoka Masjid Al Nour Islamic Culture Center. Ukurannya terbilang cukup besar hingga bisa menampung banyak umat Islam di sana.

Kegiatannya pun sangat aktif, mulai dari kegiatan lomba hafalan Al Qur’an untuk anak-anak, hingga pengajian. Secara berkala, komunitas muslim Fukuoka selalu mengadakan kajian-kajian untuk menambah wawasan keislaman kami.

Bahkan beberapa bulan lalu, Masjid Fukuoka juga sempat mengundang Dr. Zakir Naik menjadi pengisi materi. Itu adalah kunjungan pertama beliau di negeri matahari terbit ini.

Dan yang paling berkesan bagi saya adalah saat Ramadhan. Ketika bulan suci datang, setiap harinya muslim lintas negara menyediakan makanan untuk buka puasa bersama di masjid tersebut.

Bagi saya, momen kebersamaan sebagai sesama muslim begitu terasa, dan sangat mengharukan. Saya berkesempatan bersilaturahim dengan muslim mancanegara. Dan saya pun bisa berbagi pengalaman pertama puasa di Jepang dengan yang lainnya.

Barangkali karena berbeda dengan suasana di tanah air, Ramadhan di Jepang sangat menantang. Perbedaan waktu menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Waktu subuh sekitar pukul 03.00, sedangkan waktu maghrib adalah sekitar pukul 19.30. Dan karena Ramadhan tahun lalu bertepatan dengan musim panas, saya perlu beradaptasi lebih keras. Di tengah cuaca yang sangat terik, saya harus menyesuaikan diri agar semua aktivitas tetap dapat dikerjakan dengan baik meski berpuasa. Alhamdulillah, hal tersebut tak lantas menjadi kendala.

Meski masih terhitung awam untuk dikatakan sebagai orang yang lama tinggal di Jepang, pengalaman tersebut menempa saya agar menjadi muslim yang lebih baik. Tentu kita paham, hidup di negara mayoritas non-muslim perlu keterampilan dan ilmu keislaman yang cukup. Sehingga, kita bisa tetap menjaga keyakinan kita, dan kewajiban beribadah tak akan luput dikerjakan.

Yang juga tak kalah penting, adalah menjadi bagian dari agen dakwah dengan menjaga sikap keseharian kita sebagai muslim. Representasikan Islam dari akhlak kita, dan jawab sebaik mungkin jika mereka bertanya mengenai keyakinan kita. Karena bagaimanapun, kita menjadi referensi bagi penduduk lokal dalam memandang Islam itu sendiri.

Saya amat bersyukur berkesempatan menikmati pengalaman-pengalaman ini di Jepang. Tentunya, saya berharap pembaca bisa mengambil hikmah dari kisah yang saya paparkan. Mudah-mudahan bermanfaat, dan menginspirasi Anda yang hendak menetap di luar negeri.

(Seperti disampaikan Fathin Saifur Rahman, Mahasiswa Indonesia di Kyushu Institute of Technology pada jurnalis Alhikmah, Aghniya Ilma Hasan)