Cerita di Balik Lagu Mentari, Lagu ‘Wajib’ Mahasiswa Baru ITB

Cerita di Balik Lagu Mentari, Lagu ‘Wajib’ Mahasiswa Baru ITB

0 969

ALHIKMAHCO,– Ada satu era, di mana tirani kekuasaan di negara kita ini memaksakan segala sesuatu kepada masyarakat, termasuk kepada mahasiswa kampus yang kritis terhadap kebaikan. Sepenggal kisah Abah Iwan sesaat menceritakan kilas balik lahirnya lagu Mentari, lagu ‘wajib’ bagi mahasiswa baru ITB, di Inspirasi Ramadhan (Irama), Sabtu (27/06/2015).

“Jadi kampus ITB ini pernah diduduki sebuah rezim di Tahun 1978. Bukan cuma ITB, saat itu serentak terjadi juga di kampus lainnya seperti, Unpad, UI, dan Unpar,” ucap Abah Iwan mengenang.

Mereka (red_penguasa tirani), imbuh Abah, menduduki kampus. Mengeluarkan mahasiswa, yang melawan langsung berhadapan dengan popor dan bayonet. “Saya yang termasuk dipopor, berdarah-darah, mahasiswa yang melawan dimasukan ke penjara,” kisahnya kemudian.

Saat keluar dari penjara, Abah Iwan mengisahkan, para mahasiswa itu bukannya pulang ke rumah. Namun kembali lagi ke kampus. Melihat bagaimana kondisinya kampusnya. “Itu karena rasa cinta aktivis terhadap almamater. Dengan cinta terhadap almamater, kau akan cinta kepada guru, kau akan cinta terhadap ilmu yang akan diberikannya. Kalau kita biarkan murid tidak hormat kepada gurunya, maka tunggulah kehancuran bangsa ini,” pesan Abah Iwan.

Saat pendudukan kampus tersebut, lanjut Abah, mahasiswa menunggu sambil tidur di pinggiran-pinggir selokan. Disitulah, imbuhnya, lahir lirik Mentari. “Meskipun tembok yang tinggi mengurungku. Berlapis pagar duri sekitarku. Tak satu pun yang sanggup menghalangimu. Bernyala di dalam hatiku,” ucap Abah Iwan sambil mendendangkannya diiringi petikan gitar.

“Kini, saya kembali lagi di sini, semua peristiwa di masa 1978 itu seolah terngiang kembali. Karena memang peristiwa itu tidak akan pernah terhapus. Memori penghinaan terhadap martabat pendidikan itu, tidak bisa dihapus,” tandas Abah Iwan menghenyak penonton yang kebanyakan mahasiswa. (pnurullah/alhikmah)