Cerita dari Inggris : Tentang Brexit, dan Newcastle yang Muram

Cerita dari Inggris : Tentang Brexit, dan Newcastle yang Muram

0 94

Oleh: Salsabilla Sakinah (Mahasiswa Indonesia di Newcastle University)

Komentar itu kira-kira berbunyi: “Saya sama sekali tidak pernah terpikir kalau orang-orang Inggris yang selama ini selalu santun dan ramah pada kita itu ternyata memiliki keinginan terpendam untuk mengusir kita dari sini…”

Newcastle terselimut awan kelabu pagi itu. Cuaca yang selaras benar dengan raut wajah orang-orang di dalamnya. Kening mereka berkerut, serius memelototi berita utama di surat kabar. Ah ya, betul juga. Rupanya hasil referendum menandai peristiwa di akhir pekan ketiga bulan Juni ini. Mayoritas rakyat Inggris bersepakat, negeri mereka keluar dari Uni Eropa. Orang lalu menyebut peristiwa ini Brexit. Lalu, mengapa mereka semua tampak resah?

Saya baru saja memasuki kantor saat merasakan aura yang sama muramnya. Padahal mendung di luar telah membuat ruangan menjadi gelap, namun tak satu pun berinisiatif menyalakan lampu. Semua orang terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Beberapa orang menyibukkan diri dengan menyalakan komputer, tapi hening yang menggelisahkan itu tak kunjung pergi.

Kebisuan itu baru pecah saat seseorang menggumam pelan, tak tahan lagi menyembunyikan resah. “This is so shocking…”

Dengan satu kalimat itu saja, suasana mendadak ricuh. Setiap orang dalam ruangan bersahutan mengungkapkan rasa terkejutnya pada hasil referendum. Kalimat-kalimat bernada kecewa itu menggelantung di udara. Tentang nilai poundsterling yang jatuh bebas, politik yang kian kacau, juga soal mundurnya perdana menteri. Seorang rekan bahkan meyakini, satu menteri asal Skotlandia pasti akan menuntut referendum kedua bagi kemerdekaan negeri beribukota Edinburg itu.

Yang paling penting, tentu saja keputusan ini berimbas pada kehidupan mereka. Tak sedikit rekan kerja saya adalah imigran dari berbagai negara. Dan sebagai pendatang, mau tak mau mereka khawatir, warga pribumi akan menuntut kepergian mereka. Sebab, salah satu kesepakatan di Uni Eropa adalah free movement, di mana orang-orang dari negara-negara Uni Eropa lain bisa bebas masuk, tinggal, dan bekerja di Inggris tanpa perlu visa. Pun sebaliknya.

“Berarti saya harus siap-siap pulang atau apply visa kerja nih. Hahaha,” tawa getir seorang Irlandia tiba-tiba menyeruak di tengah obrolan. Seketika, suasana ramai itu kembali hening. Semua merenung, sedih dengan pemikiran bahwa mereka pun mungkin akan hengkang dari Inggris.

Dan pembaca, memang begitulah adanya. Saya, yang sebelum referendum tak mau ambil pusing dengan keputusan pemerintah (pikir saya saat itu, saya tidak punya ikatan apa-apa dengan hasil referendum), ternyata harus mengubah pandangan ini. Pasca Brexit, kian banyak orang rasis yang berani menampakkan diri. Menyuarakan kemarahan mereka pada imigran yang dianggap merebut lapangan pekerjaan.

Orang-orang rasis ini, seakan mendapat angin segar dengan hasil referendum. Meraka merasa mendapat legitimasi untuk menuntut para imigran enyah dari Inggris. Demo-demo bernada pengusiran terjadi di beberapa kota, termasuk Newcastle. Bahkan di sosial media, saya membaca pos tentang orang-orang yang mendapat makian seperti ‘Go back to your f***ing country!’. Hati saya mencelos.

Hate crime terhadap para imigran secara umum, baik imigran Eropa, kulit hitam, maupun imigran dari negeri muslim memang harus diakui meningkat cukup drastis pasca Brexit. Membuat para pendatang mengalami perasaan ditolak, merasa tidak sepenuhnya diterima di Inggris. Kala itu, dengan membaca media sosial saja, saya turut merasakan patah hati.

Lebih sedih lagi, saat saya menemukan komentar seorang imigran Eropa yang telah lama tinggal di Inggris.  Komentar itu kira-kira berbunyi: “Saya sama sekali tidak pernah terpikir kalau orang-orang Inggris yang selama ini selalu santun dan ramah pada kita itu ternyata memiliki keinginan terpendam untuk mengusir kita dari sini…”

Pembaca, sampai di sini, janganlah dianggap bahwa semua warga Inggris bersikap diskriminatif seperti itu.  Saya perlu menekankan, sebenarnya hanya sebagian kecil saja yang berlaku rasis. Golongan dan orang-orang itu saja, dan mereka jadi lebih berani karena hasil referendum. Orang rasis memang ada di mana-mana, namun begitu pula dengan orang baik.

Dari Negeri Seberang 1

Di kota yang saya tinggali, ada gerakan bernama Newcastle Unites, yang fokus membela dan memperjuangkan hak minoritas. Demo-demo rasis itu dibalas. Mereka membuat demonstrasi tandingan dengan massa yang lebih banyak. Aksi Newcastle Unites yang menyentuh ini terpampang manis sebagai headline. Saya tersenyum lega, kala membaca berita itu di surat kabar.

Pada dasarnya, Inggris adalah negara yang menganggap hate crime sebagai kriminal serius. Tindak kejahatan yang tak bisa dianggap remeh. Pernah suatu hari, sebelum pro-kontra Brexit menghangat, saya dan seorang kawan dibuntuti oleh perempuan bule. Karena cemas, akhirnya kami memutuskan memasuki toko terdekat. Tak disangka, rupanya ia berani mencegat kami di keramaian. Saat berbicara pada kami, ia meracau tak jelas dengan bau alkohol menguar tajam.

Pada saat itulah, pihak keamanan toko menghampiri. Selepas perempuan itu pergi, ia meminta kami waspada, apalagi saat menyadari kami berjilbab dan berwajah Asia. Dua alasan yang menjadikan kami rentan atas tindak kejahatan berbasis kebencian. Selepas mewanti-wanti kami untuk berhati-hati, kami keluar toko diiringi dengan beberapa pihak keamanan yang telah bersiaga dan siap dengan radio komunikasi mereka.

Tak hanya itu, pasca Brexit, pihak kampus pun cepat tanggap. Mereka mengirim email ke semua mahasiswa tentang kondisi terbaru usai referendum. Sekaligus, universitas mengimbau mahasiswanya agar tak segan melapor jika mengalami intimidasi. Di email tersebut, mereka memberi jaminan bahwa kota Newcastle will always welcome everyone from everywhere. Sungguh respon yang menenangkan kami.

Ada banyak hikmah yang saya ambil dari semua kejadian ini.  Yang paling utama, saya bertekad, jika kelak menjadi mayoritas, saya akan menjadi mayoritas yang adil. Bukan mayoritas yang sewenang-wenang dan merasa bebas mengintimidasi karena merasa punya kuasa lebih. Serupa, dengan tindakan orang-orang baik itu pada kami, para pendatang.

Seperti yang dikisahkan Salsabilla Sakinah pada jurnalis Alhikmah, Aghniya Ilma Hasan.