Celaka Bagi Pengumpat dan Pencela

Celaka Bagi Pengumpat dan Pencela

0 1235
ilustrasi_yandri.com

MENGUMPAT adalah seburuk-buruknya kejahatan dan yang paling banyak beredar di masyarakat. Oleh karena itu, hanya sedikit orang yang selamat darinya. Mengumpat atau dalam bahasa Arab disebut ghibah adalah membicarakan aib orang lain, sedangkan orang itu tidak suka apabila aibnya diceritakan. Baik yang dibicarakannya itu dari hal-hal yang kecil atau yang besar, baik lisan, tulisan, atau dengan isyarat.[i]

Senada dengan pendapat tersebut, Imam Ghazali berpendapat, ghibah adalah menyebut sesuatu yang tidak disenangi oleh seseorang yang ada pada dirinya. Misalnya, mengumpat dengan menyebutkan kekurangan dari bagian badan, hitam, buta, atau pincang.

Lebih rincinya lagi, Rasulullah menerangkan ihwal ghibah, dalam hadits berikut ini : dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah bersabda, “Ghibah adalah kamu menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh temanmu tentang dia.” Kemudian Rasul ditanya, “Bagaimana jika yang kuucapkan itu memang betul ada pada temanku itu?” Rasul menjawab, “Jika memang benar demikian, berarti kamu telah mengumpatnya. Namun jika apa yang dikatakan itu tidak benar, berarti kamu telah menfitnahnya.” (HR. Muslim).

Jelas, perbuatan ini sangat dibenci Allah, sehingga Allah mengancam orang yang seperti itu, sebagaimana yang dapat ditemukan dalam firman-Nya: Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi penyela. (QS. al-Humazah [104]: 1) [ii]

Sedangkan siksaan yang lebih jelasnya lagi, diterangkan dalam hadits berikut ini : Dari Anas r.a berkata : Rasulullah SAW bersabda: “Pada suatu malam, Ketika aku dimi’rajkan, kulewati suatu kaum yang mempunyai kuku dari tembaga, mencakari muka dan dadanya. Aku bertanya “Siapakah mereka itu wahai Jibril? Ia menjawab, mereka adalah orang-orang yang suka mengumpat dan mencela kehormatan orang lain. (HR. Abu Dawud).

Sedangkan apabila seorang hamba, ingin bertaubat dari kebiasaan buruknya itu, adalah dengan menyesali dan bertaubat atas apa yang telah dilakukannya. Kemudian, meminta pembebasan dari orang yang telah digunjingnya agar ia mau memaafkannya.  Diriwatkan Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Saw., bersabda : “Pembebasan dari orang yang engkau gunjing adalah dengan memohon maaf kepadanya.[iii]

[i] M. Ali Hasan, (1978), Tuntunan Akhlak, Jakarta : Bulan Bintang, hlm. 83

[ii] Rosihan Anwar (2008), Akidah Akhlak , Bandung: Pustaka Setia, hlm. 265-266

[iii] Imam Ghazali, (2003), Mutiara Ihya Ulumudin, Bandung: Mizan, hlm. 243