Catatan dari Washington: Pesona Walikota Muslim di Antara 99% Warga Nonmuslim

Catatan dari Washington: Pesona Walikota Muslim di Antara 99% Warga Nonmuslim

Bila melihat dari aspek sosiologis, masyarakat muslim yang tinggal di Washington DC area ini, dalam jalinan intra umat Islam maupun dengan komunitas lain sangat tinggi. Pun dengan toleransi terhadap perbedaan madzhab antar komunitas muslim

 ALHIKMAH.CO–Assalamu’alaikum pembaca Alhikmah, salam rindu dari saya yang saat ini tengah berada di Negara Amerika Serikat. Dua tahun sudah saya merantau di negeri berjuluk Paman Sam untuk menimba ilmu, melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat pasca sarjana di sebuah kampus di AS. Tentu banyak sekali pengalaman yang ingin saya bagi. Semoga segurat kisah nyata ini bisa menginspirasi pembaca sekalian.

Rasanya ingin saya informasikan terlebih dulu, bahwa Islam di dunia Barat kini berkembang sangat pesat, terutama di Amerika Serikat. Mengutip Association of Religious Data Archives, ada sekitar 2-6 juta warga muslim di Amerika Serikat. Itu artinya, pertumbuhan jumlah pemeluk agama Islam di kurun sepuluh tahun terakhir meningkat sekitar 60 persen, Alhamdulillah.

Sementara itu, di Washington DC area (baca_DC, Maryland, dan Virginia) terdapat organisasi bernama IMAAM yang berdiri sejak era 80-an. IMAAM ini kepanjangan dari Indonesian Muslim Association in America. Keberadaan IMAAM Center sangat strategis dan produktif. Organisasi ini dibentuk dengan spirit ukhuwah Islamiyah yang kuat untuk mengikat tali silaturahim antar sesama komunitas muslim Indonesia dalam bentuk program sarana dakwah, pendidikan, dan sosial.

Selama beraktivitas di Washington DC area, saya banyak sekali menemukan khazanah Islam yang begitu kuat. Bila melihat dari aspek sosiologis, masyarakat muslim yang tinggal di daerah Washington DC area ini, dalam jalinan intra ummat Islam maupun dengan komunitas lain sangat tinggi. Pun dengan toleransi terhadap perbedaan madzhab antar komunitas muslim.

Namun yang sangat menarik bagi saya adalah ketika gereja kosong beralih fungsi menjadi masjid. Gedung itu memang tidak dipakai lagi oleh komunitas Kristiani dalam menjalankan ritualnya, sehingga organisasi IMAAM berinisiatif mengalihfungsikan tempat tersebut menjadi sebuah masjid. Konstruksi gedungnya memang tidak ada yang diubah, hanya penunjuk kompas diarahkan ke kiblat sebagai penanda arah Baitullah.

Perlu diketahui, kita, masyarakat muslim Indonesia yang bermukim di Washington DC area sudah berjuang menanti selama kurang lebih 20 tahun untuk mempunyai masjid. Akhirnya, penantian panjang itu tunai pada September 2014 kemarin. Dibangun Masjid IMAAM yang diresmikan Susilo Bambang Yudhoyono, yang saat itu masih menjadi pucuk pimpinan Republik Indonesia.

IMG_3766[1]

Sementara itu, gedung tadi didekorasi hingga benar benar laik menjadi sebuah masjid. Subhanallah, jelas tersemat rasa bangga sebagai muslim minoritas di sana. Tentu hal itu dibarengi tanggung jawab besar, memanfaatkan masjid ini demi kepentingan program-program dakwah, pendidikan, dan aktivitas sosial keagamaan.

Selama di Amerika, saya suka membantu pelbagai program di masjid IMAAM itu. Misalnya di bidang dakwah, saya mengajarkan Qur’an, ceramah, sesekali menjadi imam shalat, dan sebagainya. Saya juga persiapkan kegiatan-kegiatan keislaman yang bertujuan menanamkan pendidikan Islam pada anak-anak Indonesia di negeri rantau, terutama generasi kedua untuk memahami Qur’an dan Sunnah dalam suasana yang menyenangkan dan interaktif.

Apalagi ketika Bulan Ramadhan tiba, aktivitas seperti pesantren kilat untuk anak anak remaja muslim, pengajian khatam Qur’an, atau lainnya mulai sering digalakan. Saya melihat, 3000-an warga muslim Indonesia yang tergabung dengan organisasi IMAAM ini selalu antusias saat berbuka puasa bersama dan melaksanakan tarawih berjamaah. Hal ini cukup ampuh mengobati kerinduan saya akan suasana berpuasa di Tanah Air.

Pertemuan dengan Walikota Muslim di Negeri Paman Sam

1Di kesempatan ini, ada hal yang ingin  saya ceritakan. Pada 5 Desember kemarin, saya diundang oleh salah seorang teman bernama Saud Anwar. Dia adalah seorang Walikota Muslim di Kota South Windsor di Negara bagian Connecticut. Wali kota ini orangnya ramah, baik sekali, dan rendah hati.

Sungguh, saya sangat terkejut bagaimana mungkin seorang muslim bisa terpilih di kota yang 99 persen mayoritas non-muslim. Lalu ia menuturkan, ia berhasil menampilkan Islam itu sebagai agama yang penuh tercermin dalam akhlaknya sehari-hari. Ia memberikan nilai-nilai Islam bisa diterima secara universal dengan perbuatannya, bahkan di tengha masyarakat yang beragam. Bagaimana ia tetap dengan identitas muslimnya yang jelas. Tak heran, karena kebaikannya itu, ia bisa menjadi seorang walikota.

Bagi saya, ini merupakan bukti meskipun penduduk Amerika mayoritas non-muslim, tetapi kesempatan untuk menjadi pemimpin di negeri ini terbuka lebar. Tidak memandang agama, ras, suku, dan golongan. Jika seseorang mampu memimpin, maka ia berhak mencalon atau dicalonkan oleh masyarakat Amerika Serikat.

Sebagai muslim saya bangga masih menemukan orang yang berjuang dan berdakwah di bidang politik di Negara Amerika Serikat. Meskipun tantangannya berat, ia meyakini dengan kerja yang jujur dan langkah ‘sehat’ yang ia jalankan, akan memudahkannya dalam mengemban nahkoda pemerintahan.

IMG_4061[1]

Saya banyak berdiskusi dengan beliau, pertemuan dengan Walikota Anwar Saud ini memberi cara pandang baru yang konstruktif, bagaimana kapasitas seorang muslim bisa memberikan warna perubahan dalam bernegara dan bermasyarakat.

Selain itu, saya pun belajar bahwa urgensi semua komunitas umat beragama di sini memiliki makna yang sangat penting. Yaitu mereka menumbuhkan sikap toleransi dan saling kerjasama demi menjalankan etika dalam “code of conduct” yang disetujui bersama dalam pelaksanaannya.  Demikian, pembaca, sekelumit kondisi umat muslim di negeri Amerika ini. []

 *Sebagaimana yang dituliskan Gugun Gumelar, (Mahasiswa Pasca Sarjana di Washington DC, USA) dengan penyuntingan redaksi, pipin Nurullah


Kirimkan pengalaman inspiratif anda di Luar Negeri untuk rubrik Inspiring Journey, ke redaksi.alhikmahco@gmail.com