Cahaya Tahun Baru

Cahaya Tahun Baru

0 26

Oleh: Asih Purnamasari*

Sebagian orang bilang, awal tahun adalah salah satu hari besar dalam kalender masehi. Mayoritas masyarakat merayakannya dengan meniup terompet, menyalakan kembang api, bertukar kado, hingga sengaja berkeliling kota bersama keluarga, sahabat, juga pacar.

Di beberapa masjid, seolah keramaiannya tak mau kalah. Di malam menjelang tahun baru, dapat kita temukan di masjid-masjid ramai diselenggarakan tabligh akbar, malam muhasabah, dan lain sebagainya.

Jika mayoritas anak muda lebih suka datang ke tempat-tempat wisata atau tontonan seru, mayoritas kalangan dewasa hingga tua lebih suka menghadiri kegiatan berbau keislaman seperti ini di masjid dekat rumah hingga masjid-masjid nun jauh di sana. Hehe, nampak kontras ya?

Kawan, coba kita renungkan lagi! Apa sih sebenarnya esensi dari perayaan malam tahun baru? Jika kita kerap mendengar bahwa awal tahun merupakan awal dari sebuah resolusi sepanjang tahun itu, mengapa kita harus selalu mengaitkannya dengan pesta kembang api, terompet, kado, shopping, jalan-jalan hingga pergi ke tempat-tempat hiburan?

Kawan, mari renungkan lagi! Di akhir tahun, sengaja betul kita menyusun daftar resolusi dengan berbagai capaian memukau untuk tahun selanjutnya. Sedang ternyata, justru di awal tahun itu, kita memulai hari dengan menyibukkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang sedikit sekali kebermanfaatannya.

Bolehlah kita berdalih bahwa semua keramaian itu dalam rangka mempererat tali silaturahim. Nah, lantas, bagaimana dengan mereka yang bangga sekali merayakan tahun baru bersama pacar di tepian jalan-jalan besar? Aduh, tidak malu tuh?

Di dalam salah satu buku Imam Sibawaih El-Hasany berjudul Al Hikam: Untaian Hikmah Ibnu ‘Athaillah, salah satu kutipannya berbunyi:

“Cahaya adalah prajurit kalbu sebagaimana kegelapan prajurit nafsu. Apabila Allah hendak menolong hamba-Nya maka Dia membantunya dengan prajurit cahaya serta memutus bantuan kegelapan dan makhluk darinya”

Hati kita ini rapuh, Kawan, sungguh. Jika kita tidak berusaha membentenginya dari perbuatan sia-sia bahkan berani melakukan maksiat, akan seperti apa ia kelak? Cahaya hanya datang pada ruang hati yang terbuka, sedang cahaya itu sendiri mampu merefleksikan berbagai visual dalam rongga tersebut. Jika ruang hati kita tertutup, jangankan menerima berkas cahaya, membuang gelap saya ia tidak mampu.

Hei, kawan, bukankah kadang kita ini terlalu naif? Dalam setahun, seolah ada toleransi satu hari untuk kita bersenang-senang dengan cara tidak pantas. Menghibur diri dalam kesenangan sesaat yang bisa jadi kelak justru berbuah sesal. Dan di sisi lain, industri hiburan malah turut membumbui satu hari itu melalui penyelenggaran konser para artis ibu kota di kota-kota besar di Indonesia.

Jika kita renungkan lagi, silaturahim itu tidak melulu harus bergumal dalam keramaian dan atribut glamor. Hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya justru memuncak dalam kesederhanaan rasa dan wibawa. Allah ajari kita, bahwa mencintai itu artinya saling mengingatkan, saling memberi perhatian, saling berhimpun dalam taat kepada-Nya.

Secara gamblang, kita temukan bahwa semua bentuk ibadah telah dijelaskan secara rinci melalui Al Qur’an, sunnah, hingga kesepakatan para ulama. Pun pahala ganda telah disediakan Allah bagi mereka yang senantiasa tegar dalam taqwa.

Mari, Kawan, penuhi kesadaran kita akan wujud-Nya agar kita senantiasa menemukan-Nya. Tidak hanya pada momen-momen tahun baru, tetapi juga di seluruh eksistensi waktu bangun dan tidur yang kita miliki. Pun ketika kita menyusun daftar resolusi tahun baru, semoga hal itu terangkai dalam taat dan titian jalan menuju-Nya. Semoga saja, dengan demikian, kita menjadi salah satu Hamba Allah yang dirindukan surga.[]

*penulis adalah penikmat sastra, mencurahkan gagasan dalam tulisan.