Buya Hamka dan Talqin Surat Yasin

Buya Hamka dan Talqin Surat Yasin

0 612

Oleh: Fadh Ahmad Arifan*

Pada Selasa 23 Juni 2015, stasiun TV  Trans7 menyiarkan program “Hafizh dunia”. Dalam siaran tersebut, dikisahkan suka duka serta perjuangan para penghafal Quran di negerinya Tony Abbott, Australia. Akan tetapi saat menyimak acara tersebut, ada sesuatu yang mengusik hati saya. Salah satu anak penghafal Quran, kira-kira masih berumur 7 tahun, dia memiliki “mitos” tersendiri.

Ketika dia berusaha menghafalkan surat Yasin. Katanya bila berhasil hafal di luar kepala, surat itu bisa memperpanjang umurnya. Jujur saya baru kali ini mendengar keyakinan seperti itu. Entahlah dia dapat dari mana doktrin seperti ini.

Surat Yasin adalah surat yang paling populer di kalangan orang awam di Indonesia. Fenomena ini bisa ditemukan di kampung-kampung dan pedesaan di pulau Jawa dan Madura. Apalagi kalau ada acara tahlilan maupun peringatan 7, 40. 100 dan 1000 hari kematian, buku saku Yasin dan Tahlil dicetak dan dibagi-bagikan secara gratis.

Surat Yasin diyakini sebagai hati (inti) al-Quran. Konon kalau rajin membacanya bisa mempercepat datangnya jodoh. Bukan itu saja, ada yang meyakini begini: barangsiapa yang menulis surat Yasin kemudian meminumnya maka telah masuk ke dalam perutnya 1000 cahaya, 1000 rahmat, 1000 berkah, dan 1000 obat. “Aya-aya wae…” kata orang sunda.

Walaupun, klaim hasil penelitian yang dilakukan Ustadz Yazid ibn Abdul Qadir Jawas (Yasinan, Pustaka Abdullah, 2005), ternyata semua hadist tentang fadhilah atau keutamaan surat Yasin tidak ada yang Shahih.

Buya Hamka Membacakan Surat Yasin

Berbicara surat Yasin, keseluruhan ayat dalam Surat ini diturunkan di Makkah dan hanya ayat ke 12 turun di Madinah, berkaitan dengan keinginan Bani Salamah meninggalkan lokasi tempat tinggal mereka menuju lokasi Masjid Nabawi. Prof Quraish shihab menyimpulkan, surat ini berada diurutan ke 41 dari segi perurutan turunnya. Ia turun setelah surat al-Jinn dan sebelum surat al-Furqan. Surat ini juga punya ciri-ciri tertentu, seperti ayat-ayatnya yang tidak panjang serta kemudahan pengucapannya. Tujuan uraiannya adalah menanamkan aqidah, kebenaran al-Quran dan keniscayaan kiamat (Quraish shihab, “Tafsir al-Misbah”, Lentera hati, 2005, hal 501-502).

Beralih ke kisah Buya Hamka. Masih ada kaitan dengan Surat Yasin. Beliau pernah membacakan surat Yasin kepada seseorang yang sedang dalam keadaan sekarat. Beliau menceritakan pengalamannya ketika pergi menziarahi seorang saudara yang sakit tepatnya, di Rumah Sakit Pelni. Beliau mendapati bahwa di sebelah kamar saudaranya ada wanita paruh baya sekitar 50 tahun sedang dikerumuni ahli keluarga. dalam keadaan yang sekarat itu, wanita tersebut kelihatan begitu sulit untuk melepaskan nafasnya.

Sudah berulang kali dibacakan syahadat, tidak didengar juga, makin lama bertambah sulit melepas napas. Beberapa menit setelah itu, datang beberapa anggota dari keluarganya, bertujuan untuk meminta bantuan. Sehingga saat itu beliau duduk di dekat pembaringan wanita separuh baya, membaca surat Yasin dengan suara yang tenang, khusyu sambil berdoa kepada Allah dengan permohonan agar jangan dibiarkan lama menderita, bila memang sudah tiba waktunya. Sejak mulai ayat pertama Yaa-siin dibaca, wanita paruh baya tadi napasnya tidak lagi menghempas-hempas. Kian lama kian tenang dan diujung ayat yang dibaca, akhirnya wanita tadi mengembuskan nafasnya yang terakhir. (artikel Ali Audah, “Hamka Kepribadian seorang Ulama”, Uhamka Press, hal 49-50).

Demikianlah pengalaman salah seorang tokoh Muhammadiyah ketika membacakan surat Yasin bagi seorang pasien yang sedang menanti ajal. Boleh juga kita tiru. Ini termasuk sunnah Rasulullah Saw, beliau bersabda: ”Bacakanlah surat Yasin bagi orang yang sedang akan Mati” (HR. an-Nasa’i).

* Penulis adalah seorang pendidik di MA Muhammadiyah 2, Kota Malang