(Bukan Sinetron) Tukang Bubur Naik Haji

(Bukan Sinetron) Tukang Bubur Naik Haji

Apa yang terlintas di benak, kala mendengar frasa Tukang Bubur? Tidak salah, bila yang teringat adalah sinetron kejar tayang yang berjudul Tukang Bubur Naik Haji. Nah, serupa tapi tak sama, kisah yang dihadirkan ini benar adanya. (Bukan Sinetron) Tukang Bubur Naik Haji.

Sepasang insan beruntung itu, bernama alm. Ading Wahyudin dan Dede Mulyati. Kala almanak bertengger di Tahun 2010. Saat itu, Dede, sapaan karibnya, benar-benar tak menyangka. Sebelum suaminya meninggal, ia sempat umrah bersama ke Tanah Suci.

“Keinginan itu telah lama terpatri di hati mendiang suami. Bahkan ketika masih meniti usaha dari nol. Jauh di lubuk qalbu, mimpi menjejaki Rumah Allah menjadi doa yang selalu dipanjatkan,” tutur Dede mengawali kisahnya pada Alhikmah di sepenggal Agustus 2015.

Dede melanjutkan cerita, berulang-ulang suaminya kerap menyatakan keinginan untuk pergi ke Baitullah. Namun saat itu, Dede tidak terlalu menanggapi. Satu alasan klasik, biaya. Bukan Dede tidak tahu bahwa selama ini suaminya suka menyisihkan uang. Namun rasanya agak kurang masuk di akal. Yang berpenghasilan di atas mereka saja belum tentu bisa bayar, apalagi mereka yang hanya pedagang bubur. Begitulah pikiran Dede saat itu.

Dede lupa, ada Dzat yang Maha membolak-balikan logika. Menjadikan sesuatu yang tak masuk akal, menjadi rasional. “Tahu-tahu, semua sudah siap. Saya tetiba diajak berumrah bersama,” ucap Dede mengenang.

Sejak dulu, bahkan sebelum menikah, Dede tahu suaminya adalah seorang pekerja keras. Waktu kecil, suaminya selalu membantu neneknya membangun usaha genteng. Pernah juga membantu bibinya berjualan di Cicaheum. Lalu, sembilan tahun setelah mereka menikah, pada 1984, mereka memutuskan meniti usaha mereka sendiri dengan berjualan bubur.

Roda Bubur “Nusasari” itulah namanya. Awalnya Dede berjualan di temaramnya malam sisi-sisi jalan Terminal Cicaheum. Berkat kerja keras, kegigihan, usaha mereka mulai menemukan cahaya. Dari hari ke hari, jualannya terus berkembang, hingga akhirnya mereka bisa membuat warung bubur, tepat di samping rumahnya.

Di sela usaha, Dede kembali memoar ingatannya, di suatu obrolan, sang suami pernah berjanji akan kembali ke Tanah Suci. Kali ini untuk menunaikan ibadah haji bersama-sama. Haji? Lagi-lagi sang istri dibuat terkaget dengan rencana tersebut. Benarkah ini akan terwujud, atau cuma menjadi ingin? Pasalnya, daftar haji bukan hanya soal uang, tapi juga waktu. Jutaan calon jamaah haji mesti menunggu belasan hingga puluhan tahun. Namun, Dede hanya mengiyakan asa sang suami, semoga.

Puji syukur ke hadirat Illahi, panggilan itu datang. Tiga tahun setelah mendaftarkan diri, mereka mendapat kesempatan melaksanakan haji. Sang suami mendaftar Haji Plus di Travel Haji-Umrah Safari Suci. Gembira campur haru Dede rasakan, karena lagi-lagi, suaminya yang dikenal pendiam ini memberinya hadiah yang sangat indah. Lagi, tanpa tahu bagaimana hal itu bisa terjadi.

Mengetahui rencana perjalanan mereka, banyak orang yang heran, bahkan tak percaya. Karena apalah Ading dan Dede di mata mereka. Hanya sepasang suami-istri yang merajut kehidupan dengan menjadi tukang bubur. Komentar-komentar sinis pun berdatangan. Kok bisa sih tukang bubur naik haji? Mengingat biaya yang mereka keluarkan bukan main-main. Sembilan puluh juta per orang, atau karena mereka berdua, jumlahnya menjadi 180 juta. Barangkali karena inilah, banyak orang yang tak percaya mereka mampu, bahkan dipanggil Allah dengan jangka waktu yang cepat.

Menanggapi itu, Dede hanya tersenyum, sambil memupuk prasangka positif, bahwa memang momentum ini adalah anugerah Allah. Ia juga yakin, cara yang ditempuh suaminya adalah jalan yang sesuai syariah. Kendati hanya penjual bubur, toh, Baitullah bukan semata milik orang berharta. Biarlah Allah yang menjadi saksi rahasia perjalanan mereka.

Bagi Dede dan suami, haji dan umrah bukan hanya sekadar melakukan perjalanan. Lebih dari itu, mereka mafhum, semua ini dilakukan agar dapat lebih dekat dengan Sang Khalik. Ratusan juta yang mereka keluarkan, in sya Allah Lillahi Taala.

Namun pembaca, garis takdir memang tak dinyana. Medio 2013, penyakit komplikasi yang diderita Ading kian parah. Ia pun dilarikan ke rumah sakit. Tepat 19 Juli 2013, dua bulan sebelum keberangkatan, Ading dipanggil ke haribaanNya. Padahal mereka sudah menjalani empat kali manasik. Tinggal selangkah lagi bisa sampai ke cita-cita besar mereka, cita-cita sejuta umat muslim. Namun, Allah menakdirkan lain. Dia memanggil suaminya bukan untuk ke rumah suciNya, tapi langsung ke sisiNya. Innalillahi.

Tanah Suci dan Perbaikan Diri

Lantunan dzikir tak henti ia gumamkan kala sampai di Mekkah. Meski masih dirundung duka, akhirnya Dede berhaji seorang diri. Kala bertakbir saat melempar jumrah, ia banyak teringat kenangan bersama sang suami. Pun, ketika melakukan wukuf di Mina. Ketika umrah, ia dan Ading hanya sempat melintas di Mina. Meski tidak jadi menunaikan haji bersama, hati Dede sedikit terhibur karena pernah melaksanakan umrah dengan mendiang.

Di sisi lain, Dede sendiri tak bisa menutupi kegembiraannya kembali menjejak Tanah Suci, dengan status jamaah haji. Atas anugerah ini, ia merasa terlahir kembali. Dede mafhum, ibadahnya memang tak pasti akan diterima Allah. Namun setiap detik di Tanah Suci selalu ia jadikan kesempatan untuk mengingat Allah lebih banyak.

Selepas menunaikan haji, ia semakin giat menjalankan usaha bisnisnya. Kini, kendati tanpa kehadiran almarhum, ia menjalankan roda bisnis Bubur Nusasari dibantu tiga anaknya. Dede juga semakin mantap mendekatkan diri pada Ilahi. Di waktu senggangnya, tak lupa ia sempatkan waktu mengaji di majelis taklim.

Kalaulah nanti ada kesempatan lagi, Dede benar-benar berharap bisa menjejakkan kaki kembali di Baitullah. Bersimpuh memohon ampun, tak lupa mensyukuri semua nikmat yang telah Sang Pemberi Rizki beri. (Aghniya/Alhikmah)