Bukan Sekadar Anugerah, Namun Ia Amanah

Bukan Sekadar Anugerah, Namun Ia Amanah

0 87

Oleh: N. Vera Khoerunnisa

Ibu Rumah Tangga, Purwakarta – Jawa Barat

 

“… ketika anak berulah, kita naik pitam dan tak segan menghardik si bocah lugu yang masih fitrah. Kelak ia akan meniru kita. Ya! Bisa jadi ke depan, mereka yang akan menghardik kita, kala mereka telah kuat, dan kita semakin lemah, na’udzubillah.”

 

RASANYA semua orang pasti bahagia memiliki buah hati. Ya betul, anak merupakan salah satu anugerah yang diberikan oleh Allah pada siapa saja yang dikehendakinya. Namun, keberadaan anak bukanlah sekedar anugrah. Ia adalah titipan atau amanah yang mesti dijaga oleh setiap orang tua.

Banyak keluarga yang ingin memiliki anak, namun Allah belum juga mengaruniai mereka. Bahkan untuk yang telah berikhtiar dengan segenap kemampuan pun, tapi bila Ia belum berkehendak, apa kuasa kita. Maka bagi sesiapa pun yang telah diberi amanah itu, memang sangat tidak pantas menyombongkan diri. Merasa bahwa diri mampu memiliki anak, padahal sudah jelas itu semua karena kuasa Allah Swt.

Semestinya, bagi kita yang telah memiliki anak, senantiasa berintrospeksi diri. Sebab, seperti yang saya sebutkan tadi, anak bukan sekedar anugrah, yang keberadaannya mampu membahagiakan kita, namun ia juga merupakan amanah yang mesti dijaga. Dijaga apanya? Dijaga dari apa?

Sebab setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, suci tanpa noda dan dosa. Maka yang perlu kita jaga adalah kesuciannya itu. Bukankah Rasulullah Saw., sendiri yang menyampaikan, bahwa orang tualah yang akan menjadikan anaknya Yahudi atau Nasrani. Sebegitu kuat pengaruh orang tua terhadap anaknya. Maka dalam setiap menjaga amanah tersebut, kita harus berhati-hati. Sebab anak juga yang akan menjadi salah satu perantara kita masuk ke surga, atau justru ke neraka. Na’udzubillah

Anak akan terpengaruh oleh lingkungan di sekitarnya, maka kita harus menjaga agar ia tidak terpengaruh oleh hal-hal buruk yang akan membuat anak kita melakukan atau menirunya. Lingkungan terkecil adalah keluarga. Ayah, ibu dan saudara-saudaranya merupakan ikon perkembangan anak ke depan. Ucapan dan tingkah laku mereka akan ditiru. Maka ketika anak kita melakukan kesalahan, jangan pernah mengatasinya dengan cara yang salah. Sebab mereka suci, kita yang banyak dosa. Sering introspeksi, sambil memberikan nasihat pada anak kita dengan cara yang ahsan (baik). Tidak dengan memarahi, membentak, mengata-ngatai dengan bahasa yang kasar, atau bahkan memukul atau mencubitnya.

Sabar memang tidak mudah. Namun ia kunci untuk mendapatkan hal yang indah, termasuk untuk mendidik anak agar menjadi shalih. Bayangkan, bagaimana mungkin anak kita akan menjadi shalih, sedangkan setiap harinya ia dididik dengan amarah?

Kondisi saat ini, ketika Islam tidak dijadikan pandangan hidup seutuhnya oleh masyarakat; ketika negara menggunakan aturan yang bertentangan dengan Islam, menjalani proses pendidikan terhadap anak menjadi tidak mudah. Harapan memiliki anak yang shalih membutuhkan kerja keras dan keseriusan dari orang tua. Sebab, keluarga adalah benteng terakhir setelah masyarakat dan negara.

Memberikan pemahaman pada anak memang tidak mudah, namun bukan berarti kita mematahkan rasa sabar dan menggantinya dengan kekesalan. Seringkali ketika anak berulah, kita naik pitam dan tak segan menghardik si bocah lugu yang masih fitrah. Kelak ia akan meniru kita. Ya! Bisa jadi ke depan, mereka yang akan menghardik kita, kala mereka telah kuat, dan kita semakin lemah, na’udzubillah.

Modal dalam mendidik anak tidak hanya cukup dengan sabar, penting juga dengan ilmu. Ketika tak punya ilmu, sabar yang muncul hanyalah kesabaran yang pasif. Sehingga ketika anak melakukan kesalahan, kita tidak akan mampu mengatasinya, kita pasrah, tanpa mencari solusi. Lalu dengan naif berharap suatu saat anak kita akan mengerti. Tentu saja keputusan ini tidak tepat. Sebab semestinya, kesalahan anak harus ditangani sedini mungkin, agar tidak jadi buruk untuk masa depan anak kita.

Terakhir yang tak kalah penting, do’akan agar anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang shalih, yang mampu menghantarkan kita ke surga. Amiin. Wallahu a’lam. []