BMT Sidogiri Sukses Retas Kemiskinan dari Jeratan Rentenir

BMT Sidogiri Sukses Retas Kemiskinan dari Jeratan Rentenir

0 96

ALHIKMAH.CO — Di sesi Dialog II Peradaban Munas IV Hidayatullah menghadirkan Direktur Baitul Maal wa Tamwil (BMT) Sidogiri – Jawa Timur KH Abdul Madjid. Di sesi yang bertajuk “Membangun Kekuatan Ekonomi Umat” ini, ia berkisah kesuksesan BMT Sidogiri meretas kemiskinan dari jerat rentenir.

 

“Berawal dari kepedulian terhadap kondisi sosial perekenomian masyarakat sekitar, yang kerap meminjam modal dari para rentenir,” kisah Kyai Abdul Madjid di sepenggal Sabtu (07/11/2015).

 

“Rupanya, hal itu berdampak buruk pada perilaku sehari-hari mereka, termasuk para santri yang orang tua atau walinya terjerat kasus rentenir,” lanjut Kyai Abdul di Masjid Ar-Riyadh Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur.

 

Ketika itu, imbuh Kyai Madjid, perilaku santri nakal dan banyak yang tidak taat. Bahkan pesantren hendak mengeluarkan semua santri. Namun Kyai Madjid sadar, kenakalan yang terjadi, dikarenakan uang haram yang kerap diterima para santri dari orang tua atau walinya yang terjerat rentenir.

 

Siapa saja yang makanannya ada unsur haram maka mau nggak mau anggota badannya mengarah kepada maksiat, begitu juga sebaliknya kalau yang dimakan adalah halal maka semua anggota badan mengarah kepada kebaikan,” ungkap Kyai Madjid mengutip sebuah hadist.

 

Maka, Kyai Madjid mengimbau kepada wali santri untuk sebisa mungkin tidak memberikan putra-putrinya rezeki yang tidak halal yang berasal dari rentenir. Gantinya, ia menjadikan uang pesantren sebagai Dana Pinjaman untuk masyarakat.

 

Kendati berproses, perlahan Kyai Madjid merasakan perubahannya. “Alhamdulillah, semenjak diberlakukan itu, perubahan perilaku santri luar biasa, seperti taat dan mudah diatur, tertib. Begitupun dengan para warga yang merasa nyaman pinjam ke Pesantren Sidogiri karena tidak ada bunga dan di akhir tahun ada tabungannya,” ungkap Kyai Madjid.

Pengalaman inilah yang kemudian menjadi awal pihak pesantren mendapatkan konsep BMT. Meskipun awal-awalnya tidak menerimanya secara mentah-mentah namun menelaahnya sesuai dengan Mahdzabul Arba’ah.

 

Bismillah, kita mulai mendirikan BMT di Wanorejo dengan modal sebesar 13,5 juta. Kejadian ini tepat pada bulan Rabiul Awal (momen kelahiran Rasulullah) yang diharapkan sebagai momentum bangkitnya revolusioner dalam muamallah,” kata Kyai Madjid.

 

Alhamdulillah, asetnya sekarang ini sekitar 300 miliar,” imbuh Kyai Madjid. Bahkan, pada tahun 2000-an Pesantren Sidogiri mendirikan BMT UGT dengan modal 141 juta yang saat ini asetnya mencapai 1 Triliun 700 miliar dengan 275 kantor di 10 provinsi.

 

“Kami mendirikan juga Asuransi Jiwa Syariah karena selama ini konotasi asuransi bukan untuk orang jelata tetapi jelita. Padahal semua usaha itu di-cover oleh asuransi,” kata Kyai Madjid.

 

Upaya itu semua, lanjut Kyai Madjid, bisa dilakukan selain Pesantren Sidogiri kerap menggandeng orang-orang profesional dalam pengurusannya, semata niat mencari bekal ibadah kepada Allah Swt., dan bukan untuk memperkaya diri. “Saya yakin, jika arahnya lurus, Allah akan membantu,” tandas Kyai Madjid menutup sesi dialog. (pnurullah/alhikmah/rilis)