Bisakah?

Bisakah?

0 43

MENGAPA Islam disebut sebagai sistem hidup yang konsepnya rahmatan lil alamin? Selain ajaran yang bersifat universal, jawaban lainnya karena konsep-konsepnya tidak ada yang bertentangan dengan fitrah manusia. Sebut saja konsep bersuci (thaharah), atau konsep muamalah lainnya. Semua didasarkan pada hal yang dibutuhkan manusia, tidak boleh riba, tidak boleh curang, dan sebagainya.

Sangat wajar adanya bila setiap insan tidak ada yang tidak ingin hidup dengan aman dan sentosa. Mendambakan kehidupan yang tentram dan damai. Namun apa jadinya ketika hal itu sudah berbaur dengan yang namanya nafsu? Maka kebutuhan-kebutuhan itu akan sebatas individualistis dan tidak lagi bersifat komunal.

Pada akhirnya, keinginan seseorang menjadi berbeda dengan yang lainnya. Kedamaian yang diinginkan para penjahat dengan para pahlawan tentu akan berbeda. Pun dengan ketentraman yang didamba rakyat biasa dengan pejabat korup. Bisa jadi, ketentraman bagi orang korup adalah kehidupan yang sistem hukumnya tumpul, membuat dia dengan leluasa menggasak uang negara tanpa bisa diciduk institusi manapun. Sementara bagi rakyat biasa, kehidupan tentram adalah di mana tidak adanya kriminalitas yang dilakukan oknum pejabat, dan buah hukum yang tidak pandang sebelah mata. Lihat, berbedakan?

Karena itu, konsep Islam dalam mengatur segala aspek kehidupan manusia ini didasari pada apa yang dibutuhkan, bukan pada apa yang diinginkan. Sebagaimana yang termaktub dalam kutipan firman berikut, “…. Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Q.S Al Baqarah [2]: 216).

Dan, kiranya masyhur sudah, salah satu konsep Islam yang mengatur tatanan kehidupan manusia adalah dengan adanya syariat Qisas. Yakni, pembalasan (memberi hukuman yang setimpal). Perintah syariat ini, jelas tercantum di ayat berikut: “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kamu qisas atas orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Barangsiapa mendapat ma’af dari saudaranya, hendaklah yang mema’afkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik.” (Q.S Al Baqarah [2]:178).

Pembaca, sepintas terlihat seperti konsep yang menghalalkan pembalasan, tiada berbelas kasih. Namun dicermati lebih dalam lagi, maksud dari hukum ini, di antaranya bisa kita simpulkan hikmahnya: Pertama, untuk menjaga masyarakat kita dari kejahatan dan menahan setiap orang yang akan menumpahkan darah. Seperti yang diterangkan di ayat ini : “Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa,” (Q.S Al Baqarah [2]: 179).

Kedua, mewujudkan keadilan dan menolong orang yang terzalimi, dengan memberikan kemudahan bagi wali korban untuk membalas kepada pelaku. Karena itulah, Allah berfirman, “Dan Barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (Qs. al-Isra`: 33).

Ketiga, menjadi sarana taubat dan penyucian dari dosa yang telah dilanggarnya, karena Qisas menjadi kafarah (penghapus dosa) bagi pelakunya; seperti dalam hadits berikut; “Berbai’atlah kepadaku untuk tidak berbuat syirik, tidak mencuri, dan tidak berzina.’ Beliau membacakan kepada mereka ayat, (lalu bersabda), ‘Barangsiapa di antara kalian yang menunaikannya maka pahalanya ada pada Allah Swt., dan barangsiapa yang melanggar sebagiannya lalu di hukum maka hukuman itu sebagai penghapus dosa baginya. (Adapun) barangsiapa yang melanggarnya lalu Allah tutupi maka urusannya diserahkan kepada Allah, bila Dia kehendaki maka Dia mengazabnya dan bila Dia menghendaki maka Dia mengampuninya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Begitulah pembaca, ketika manusia turut aturan Allah, mengikuti hukum-hukum Allah, menjadikan Al Quran sebagai dustur dalam penetapan ketetapan, maka apa-apa yang menjadi hikmah itu bisa mewujud di kehidupan ini. Sudah menjadi sunnatullah, ketentraman dan kedamaian yang hakiki hanya diperoleh umat muslim yang taat pada aturan Allah.

Kini, andaikata di sebuah negara pembangkang, yang tiada menjadikan tuntunan Quran sebagai dasar ideologi negaranya, ikut-ikutan menjadikan Qisas atau mengambil sebagian konsepnya sebagai keputusan hukum, bisakah Allah ridha atas hasil hukumnya itu? Bisakah menjadi kafarah bagi pelakunya di akhirat kelak? Wallahua’lam bishawab. []

*penulis adalah : Pipin Nurullah, Jurnalis Tabloid Alhikmah