Bincang Hangat Bersama Dr. Syamsuddin Arif : Dari Masalah Umat hingga Filsafat

Bincang Hangat Bersama Dr. Syamsuddin Arif : Dari Masalah Umat hingga Filsafat

0 811
Dr. Syamsuddin Arif (pic.fb syamsuddin arif)

ALHIKMAH.CO.– Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) Bandung, bekerjasama dengan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta, menyelenggarakan sebuah kuliah intensif bertajuk ‘Bandung Berfilsafat’ guna menciptakan sebuah tradisi ilmiah di kalangan masyarakat terkhusus umat Islam.

Acara ini menghadirkan pembicara Direktur Eksekutif INSISTS Dr. Syamsuddin Arif. Beliau menyelesaikan program Doktor (PhD) tahun 2004 dengan disertasi berjudul Ibn Sina’s Cosmology: A Study of the Appropriation of Greek Philosophical Ideas in 11th Century Islam di bawah  bimbingan Paul Lettinck, di kampus ISTAC Malaysia yang saat itu dipimpin oleh seorang ulama dan cendekiawan terkenal, Prof. Syed M. Naquib al-Attas.

Dr. Syamsuddin Arif salah satu dari sedikit cendekiawan muslim yang menguasai pelbagai bahasa: Arab, Inggris, Latin, Yunani dan menekuni bahasa Ibrani dan Suryani. Di sela-sela kuliah Bandung Berfilsafat, Jurnalis Alhikmah, Irfan Saiful W. berkesempatan berbincang singkat bersama Dr. Syamsuddin Arif perihal kehidupannya, problematika umat hingga filsafat. Berikut petikan wawancaranya:

 Bisa tolong ceritakan sekarang ini aktivitas Anda sehari-hari seperti apa?

Ya, selain makan, minum, dan shalat, aktivitas saya lebih banyak membaca dan menulis. Saya menulis artikel-artikel yang kemudian bisa berkembang menjadi sebuah buku. Biasanya saya kirim ke media massa, baik cetak mau pun online seperti Republika, Hidayatullah, atau beberapa website ormas, di Facebook juga, termasuk di grup-grup yang ada di Whatsapp.

Anda salah satu pendiri INSISTS. Bisa tolong ceritakan bagaimana INSISTS terbentuk dulu di Malaysia?

Dulu ada asrama mahasiswa yang sebenarnya itu rumah tinggal tetapi kemudian dikontrak untuk dijadikan asrama mahasiswa. Di sana kita adakan diskusi setiap akhir pecan. Masing-masing peserta bawa makanan dan kita jalankan diskusi. Jadi, setelah diskusi kita makan dari apa yang kita bawa.

Sebelum itu memang sudah seringkali kami –mahasiswa ISTAC asal Indonesia- diajak oleh Pak Hamid (Direktur INSISTS, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi) untuk merespon pemikiran yang berkembang di Indonesia. Kebetulan waktu itu ada peluang menulis di Surabaya Pos. “Jangan hanya sibuk belajar di sini (Malaysia)”, ujarnya.

Saat itu kalau ibarat anak, INSISTS itu sudah sembilan bulan dalam kandungan. Lalu datang Pak Adian (Dr. Adian Husaini) layaknya seorang bidan yang mendorong lahirnya INSISTS. Pak Adian diajak mas Dzikru (pemred Hidayatullah waktu itu) ke Kuala Lumpur untuk bertemu pak Hamid dan Prof Wan Mohd Nor Wan Daud di ISTAC. Jadi yang ikut melahirkannya waktu itu ada tujuh orang, yaitu Hamid Fahmy Zarkasyi, Adian Husaini, Ugi Suharto, Arifin Ismail, Nirwan Syafrin, Adnin Armas, termasuk saya.

Profesor Wan Mohd Nor Wan Daud yang ketika itu menjabat sebagai Wakil Direktur ISTAC sangat mendukung apa yang kami buat. Kami mulai dengan membuat buletin empat halaman yang kami cetak sendiri untuk disebarkan ke kampus-kampus di sana. Nama INSISTS beserta mottonya “committed to the truth” itu dari pak Hamid. Logonya saya orat-oret sebisanya. Yang lain menyumbang dana dan artikel. Pak Adian ber‘gerilya’ menghubungi teman-temannya di media sehingga tulisan-tulisan kami bisa masuk ke majalah Sabili, Hidayatullah, harian Republika, Jawa Pos, dan sebagainya.

Kunjungan Pak Edi Setiawan (direktur Khairul Bayan) pada tahun 2003 membawa berkah lahirnya jurnal pemikiran dan peradaban ISLAMIA yang langsung mendapat sambutan luas di Indonesia maupun Malaysia. Setelah itu cendekiawan INSISTS mulai keliling ke berbagai kota di Indonesia untuk mengadakan workshop di sejumlah pesantren, kampus, dan juga beberapa ormas Islam seperti Persis, NU, Muhammadiyah, dan akhirnya kita dirikan yayasan.

ustaz syam

Anda sendiri mengapa memilih kuliah S1- S3 di Malaysia selepas lulus dari Gontor?

Kalau itu bisa dikatakan perjalanan nasib, atau ketentuan ilahi. Saya juga dulunya ingin bisa kuliah di Mesir, Iran, Maroko, Saudi Arabia, atau Pakistan. Namun ternyata Allah menetapkan saya untuk di Malaysia.

Yang patut saya syukuri adalah di Malaysia itu kemampuan berbahasa Arab saya bukan hanya terjaga, tetapi juga bisa meningkat. Di sisi lain, kemampuan berbahasa Inggris saya meningkat pesat. Jadi istilahnya kalau belajar di Malaysia itu ibarat burung memiliki dua sayap, yaitu kemampuan berbahasa Inggris dan Arab secara aktif.

Mungkin saja, kalau saja saya kuliah di Australia, bisa jadi bahasa Inggris saya bagus, tapi kan tidak menjamin kemampuan berbahasa Arab saya terjaga. Begitu pula sebaliknya, kalau saya kuliah di Timur Tengah. Karena di tempat saya kuliah itu (IIUM), dosen-dosen dari studi Islam itu berasal dari Mesir, Sudan, Maroko, Iraq, dan Yordania. Bahasa pengantar kuliah kami sebagian besarnya bahasa Arab.

Tidak hanya pada kuliah, bahkan ketika ujian pun memakai bahasa Arab, kemudian membuat tugas makalah memakai bahasa Arab. Untuk yang berbahasa Inggris, semua mata kuliah yang saya ambil di jurusan Ilmu Komunikasi memakai bahasa Inggris, termasuk mata kuliah pilihan seperti Psikologi, Manajemen, itu semua dalam bahasa Inggris.

Setelah selesai S3 di Malaysia, Anda berkesempatan melanjutkan kuliah lagi di Jerman, dan mengapa kini Anda kembali ke Indonesia?

Awalnya sih saya dulu dari Malaysia dapat beasiswa ke Jerman. Empat tahun saya di sana. Saat itu ingin pulang ke Indonesia namun saya diminta untuk menjadi dosen di Malaysia, saya pikir tidak masalah.

Akhirnya saya mengajar dua tahun di IIUM, dan diperpanjang tiga tahun lagi. Kemudian saya bergabung ke CASIS (UTM) yang didirikan oleh Prof Wan Mohd Nor Wan Daud. Setelah tiga tahun di situ ditawarkan lagi untuk memperpanjang masa kerja pada tahun 2015, tetapi saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Karena di usia saya yang sudah kepala empat ini, 20 tahun lebih sudah saya habiskan di luar negeri.

Anak-anak saya pun semuanya lahir di luar negeri. Tiga anak lahir di Malaysia, dan yang satu lagi di Jerman. Kalau kita lihat Nabi sendiri, sudah naik sampai ke langit ke tujuh pun tetap kembali lagi ke bumi. Saya ini belum sampai ke sana, baru sampai Malaysia, jadi kalau saya tidak pulang ke Indonesia, saya malu kepada Nabi.

Selama belajar di Barat, apa yang Anda rasakan dan Apa perbedaanya dengan pendidikan dalam dunia Islam?

Bisa baca tulisan saya terkait pendidikan di Barat di inpasonline. (Berikut Alhikmah sarikan pandangan beliau antara pendidikan di Barat dan Islam:

Menurut saya, tetap perlu. Tapi sebelum pergi ke sana harus punya bekal yang matang. Yang bersangkutan harus diikat dengan niat dan syarat yang jelas.

Niatnya meningkatkan pengetahuan, menambah pengalaman dan memperluas wawasan lillahi ta’ala, bukan li-dun-ya yushibuha.  Kita harus akui bahwa Barat unggul dalam metodologi riset yang biasa disebut technique of scholarship. Metode ini menggabungkan penguasaan bahasa, budaya, dan sejarah dengan kecakapan filologi dan ketajaman analisis falsafi. Adapun syaratnya, yang bersangkutan harus sudah matang dulu secara intelektual maupun spiritual.

Apakah karena alasan Barat  unggul dalam metolodogi kemudian Anda juga belajar ke sana?

Itu yang pertama. Selama ini banyak orang beranggapan studi Islam di Barat lebih unggul dibanding di Timur Tengah, terutama dalam hal metodologi. Nah, saya ingin membuktikan sendiri sejauh mana kebenaran asumsi tersebut. Apakah itu kenyataan atau mitos belaka. Kedua, saya juga ingin membuktikan apakah benar yang sering dikatakan selama ini, bahwa orientalis Islam untuk menghancurkannya.

Hemat saya, agar  tidak dituduh bersikap a priori  oleh para pengikut orientalis, adalah penting untuk memiliki pengalaman sendiri. Ini penting supaya tidak terkena peribahasa, “man jahila syay’an ‘adahu”, bahwa orang yang belum mengenal sesuatu cenderung memusuhinya.

Terakhir, untuk legimitasi dan otoritas. Sebab, disadari atau tidak, bangsa kita masih percaya bahwa lulusan Barat konon lebih paham dan menguasai. Lebih qualified dibanding lulusan dalam negeri atau Timur Tengah. Karena itu, menurut saya, ada untungnya kalau kita pernah studi di Barat, terutama ketika kita menghadapi para pengagum Barat yang arogan dan merasa ‘superior’. Kata hadits sombong kepada orang sombong adalah sedekah. 

Apa yang Anda pelajari di sana?

Semula saya ingin belajar paleografi dan filologi bahasa Arab, khususnya yang berkaitan dengan teknik dan seluk beluk penyuntingan manuskrip. Handsschrifkunde istilahnya. Sekaligus mempelajari metodologi riset orientalis. Untuk itu saya berniat mengedit kitab  Abkar al-Afkar karya Sayfuddin al-Amidi, yang juga pengarang kitab al-Ihkam fi Ushulil Ahkam. Jadi dirasah wa tahqiq.

Sebagian besar manuskripnya sudah saya teliti waktu di Istanbul. Namun rencana tersebut berubah, karena belakangan saya dapat info, ternyata kitab tersebut sudah diterbitkan di Kairo. Akhirnya saya memutsukan untuk mengkaji satu bagian saja dari kitab tersebut, yakni Qaidah ke-4, seputar masalah-masalah teologi. Saya beruntung karena pembimbing saya, Profesor Hands Daiber, tidak mempersoalkan topic dan judul yang saya pilih.

Anda belajar kepada orietalis. Apa tidak takut terpengaruh?

Kalau pengaruh positif, seperti keseriusan dan ketelitian dalam mengkaji sebuah masalah, justru saya harapkan. Dalam hal ini saya harus belajar banyak pada mereka. Dalam menganalisa sebuah masalah mereka betul-betul all-out dan tidak kenal lelah. Ini kan sangat positif.

Tapi jika pengaruh negatif, seperti bersikap arogan, double-standard, pedantik, reduksionistik, biased, dan lain sebagainya yang melatarbelakangi berbagai asumsi dan pendapat mereka, tentu saya berharap tidak. Memang harus kita akui banyak di kalangan kaum muslim yang terpengaruh bahkan mengusung dan menyebarkan pikiran-pikiran dan gagasan mereka.

Namun yang kritis terhadap orientalis juga banyak. Contohnya, Syaikh Abdul Halim Mahmud lulusan Sorbonne, Mustafa Azami dari Cambridge, atau Syed Naquib Al-Attas lulusan London.

Jadi masalah terpengaruh atau tidak, menurut saya, tergantung orangnya.  Kalau kita ignorant’, tidak mengerti tentang agama kita sendiri apalagi sampai mengidap penyakit minder terhadap Barat, tentu mudah sekali terpengaruh dan terpukau mereka. Pendek kata, jangan seperti istri Aladdin, menukar lampu lama dengan lampu baru yang dijajakan oleh tukang sihir!

 Dalam beberapa kasus, orang mengaku menemukan Islam di Barat. Bagaimana ini bisa terjadi?

Saya kira itu ungkapan frustasi yang berlebihan. Sebuah jawaban untuk pertanyaan yang telah menggangu para pemikir Muslim dari mulai Abduh, Iqbal, Rahman hingga al-Attas: limaadza ta’akhkhara l-muslimun wa taqaddama ghayruhum? Mengapa umat Islam tertinggal, sementara umat-umat lain maju pesat?

Keterbelakangan umat bukan disebabkan oleh ajaran Islam, sebagaimana kemajuan Barat bukan dikarenakan agamanya. Kemajuan, kebersihan, kesehatan, ketertiban, itu soal mentalitas, soal disiplin, kejujuran dan kerja keras.

Menurut Anda, apakah studi Islam di Barat itu selalu kental misi orientalisme?

Saya tidak ingin memukul-rata. Namun, pada banyak kasus memang tak dapat dipisahkan dari agenda-agenda tertentu yang jelas berpihak pada kepentingan politik, ekonomi, dan budaya mereka. Hal ini dapat dimaklumi dan terlalu naif untuk kita pungkiri.

Menurut pengamatan Anda, sikap orientalis terhadap Islam itu seperti apa?

Mereka sebenarnya ada yang halus dan ada yang kasar (dalam memusuhi Islam). Kalau yang halus itu seperti profesor saya. Ia mengatakan, meskipun kita tidak sependapat dengan orang Islam, kita sebaiknya menjaga hati orang Islam, jangan melukai hati orang Islam. Yang halus seperti ini biasanya dengan bahasa diplomatis. Kalau di Inggris ada Montgomery Watt, dan di Jerman ada Annemarie Schimmel. Karena begitu simpatiknya terhadap Islam, Schimmel sampai dikenal sebagai ahli Pakistan, India, Parsia, dan sufistik Timur. Ia pernah dianugerahi Pen Award. Itu anugerah penulis internasional berbasis di Perancis.

Ketika diwawancarai tentang Salman Rushdie, ia bilang, Salman itu salah. Menurutnya, tindakan si penulis buku Ayat–ayat Setan (The Stanic Verses) itu tidak bisa dibenarkan. Sebab berarti melukai hati orang Islam. Tapi akibat komentarnya itu, ia diprotes, serta seketika itu pula penghargaan yang ia terima ditarik. Memang ada yang bilang Schimmel sudah masuk Islam, tapi bukan itu yang penting. Tapi sikap dan komentar dia yang mengatakan Salman Rushdie itu salah dan melukai umat Islam. Di sini ada ketegangan antara umat Islam dan Kristen. (kutipan selesai) http://inpasonline.com/new/dr-syamsuddin-arif-belajar-islam-ke-barat-iman-harus-kuat/

 Selama Anda belajar di ISTAC, Apa yang paling berkesan dengan guru Anda Prof. Naquib Al Attas?

Pertama, Prof. al-Attas itu profesor sekaligus kiai. Kedua, beliau itu ilmuwan yang tidak sekuler. Kalau biasanya kan profesor di kampus-kampus itu sekuler, menganggap ilmu itu netral dan agama itu tidak ada kaitan dengan ilmu pengetahuan. Pandangan seperti ini tidak kita temukan pada Prof. al-Attas. Beliau melihat Islam sebagai agama dan peradaban yang memantulkan worldview tersendiri. Ketiga, Prof al-Attas sangat memahami budaya dan pemikiran Barat tetapi juga adil dan kritis. Beliau tidak ‘gumun’ kepada Barat. Tidak memuji-muji atau mengagung-agungkan pemikiran Barat.

Sekembali dari Malaysia dan dipercaya menjadi Direktur Eksekutif INSISTS, apa saja agenda saat ini?

INSISTS berfokus pada tiga hal. Pertama yaitu edukasi, melalui seminar, workshop, beberapa training dan kita mengadakan ceramah-ceramah di berbagai kampus dan pesantren.  Itu sifatnya edukatif.

Kedua yaitu riset. Karenanya kita usahakan mendanai siapapun yang berkeinginan untuk melakukan penelitian. Misalnya saja penelitian terhadap kasus Syiah di Sampang. Terkait ini kan kita membutuhkan orang untuk melakukan riset guna mencari tahu apa sebab-musabab dari kejadian itu, bagaimana duduk perkaranya, apa saja langkah-langkah pemerintah atau tokoh masyarakat dalam mengatasi hal itu, serta mengetahui lebih rinci kronologisnya.

Dan yang terakhir itu publikasi. Kita menerbitkan jurnal ISLAMIA setiap enam bulan sekali, mengisi sisipan Islamia di Koran Republika pada kamis ketiga setiap bulan, dan menerbitkan buku-buku ilmiah untuk konsumsi akademik maupun publik.

Kini Anda menjadi pengajar kuliah Bandung Berfilsafat, mengapa harus belajar filsafat?

Filsafat itu bisa dilihat (i) sebagai disiplin ilmu, (ii) sebagai metode atau pendekatan, dan (iii) sebagai kegiatan manusiawi. Kalau filsafat sebagai disiplin ilmu, itu yang diajarkan di kampus-kampus, bahkan sampai menjadi program studi (di UI) dan fakultas (di UGM).

Kalau filsafat sebagai metode atau pendekatan, maka kita bisa menggunakan filsafat untuk menganalisis apapun. Misalnya, kita bisa membahas politik atau bahkan fenomena kekinian seperti banjir secara filosofis.

Yang ketiga, filsafat itu sebuah ‘human activity’. Artinya, semua manusia pasti berfilsafat dalam arti berpikir. Filsafat adalah kegiatan akal. Kalau Nabi pun menggunakan akal yang merupakan karunia Allah, maka boleh dikata Nabi pun ‘berfilsafat’. Sebab, kalau kita mengatakan bahwa Nabi tidak berfilsafat, berarti juga menganggap bahwa Nabi itu tak berakal. Dan memang kalau kita baca dalam al-Qur’an banyak sekali perintah untuk berpikir, menggunakan akal atau nalar: afala ta‘qilun, afala tatafakkarun, afala yanzhurun, afala tatadzakkarun, dan sebagainya.

Peserta kuliah Bandung Berfilsafat. Dr. Syamsuddin Arif mengenakan baju putih duduk di tengah (pic.PIMPIN)
Peserta kuliah Bandung Berfilsafat. Dr. Syamsuddin Arif mengenakan baju putih duduk di tengah (pic.PIMPIN)

Ada anggapan bahwa filsafat itu tidak terpakai untuk masyarakat awam. Bagaimana tanggapan

Kalau filsafat sebagai disiplin ilmu, mungkin saja tidak terpakai di masyarakat. Misalnya alumni jurusan filsafat mau bekerja di perusahaan minyak, tentu saja ilmunya tidak relevan. Tetapi untuk kegiatan sehari-hari, filsafat sebagai kegiatan berpikir itu pasti terpakai dan jelas bermanfaat. Kenapa banyak orang termakan oleh propaganda media, kampanye politik, rayuan iklan dan berbagai macam “hoax” itu karena mereka tidak terlatih berpikir kritis, cermat, dan benar ala filsuf.

Apa perbedaan mendasar antara filsafat Barat dan Islam?

Paling jelas terlihat berbeda di nama: Falsafah Islamiyyah dan Western Philosophy. Selanjutnya jelas berbeda dari segi sumber. Kalau filosof Barat kan hanya menggunakan akal atau rasio spekulatif, sementara para filosof muslim seperti Ibn Rusyd jelas mengakui wahyu tanpa mengurangi rasionalitasnya

Ketiga, jelas berbeda tujuannya. Kalau orang Barat berfilsafat untuk memuaskan rasa ingin tahu, ingin mencari kebenaran yang lebih sering nggak ketemu sehingga tidak ada ujungnya. Sementara kalau orang Islam itu berfilsafat tujuannya menemukan kebenaran untuk diamalkan. “Ishobatul haqq wal ‘amal bihi”, itulah yang dikatakan oleh Al-Kindi, seorang filosof muslim zaman dulu. Jadi filsafat itu bukan sekadar “olahraga otak”. Kalau pakai istilah sekarang ya filsafat itu critical, practical, dan creative thinking. Berpikir kritis, praktis, dan kreatif!

Anda melihat kondisi umat saat ini seperti apa? Adakah yang coba Anda tawarkan?

Untuk akar masalah sendiri tentu dari persoalan paling mendasar yaitu ilmu. Ilmu itu seperti makanan, yang akan merusak akal apabila salah mengkonsumsinya. Nah, makanan akal ini tidak dijual di pasar, melainkan di kampus-kampus tempat orang menimba ilmu.

Sekarang ini, apakah benar yang selama ini kita sebut sebagai ilmu itu benar-benar ilmu? Jadi masalah umat hari ini yaitu akal mereka mengkonsumsi baik ilmu mau pun bukan ilmu, atau ilmu yang bercampur dengan racun-racun. Jadi memang ada yang mengklaim bahwa dia ilmu, ternyata bukan ilmu. Jadi harus mulai menghidupkan kembali dan memperkuat tradisi ilmu.[]