Best Practice Wakaf Produktif di Negeri Singa

    0 30

     

    Yang menarik, Singapura tak hanya mendistribusikan hasil dana wakaf pada masyarakat muslim di Singapura saja, yang notabene hanya 14% dari jumlah populasi. Karena negeri tersebut memiliki penduduk yang multi ras, tak jarang wakif ingin hasil wakaf mereka dirasakan oleh masyarakat muslim di negeri asal mereka. MUIS mengalokasikan 15% dari pendapatan wakaf untuk luar negeri.

    Usang, almanak menunjukkan tahun 1820. Tepat satu tahun setelah Stamford Raffles menjadikan Singapura sebagai pelabuhan baru di sudut Selat Melaka. Saudagar-saudagar Arab, India, hingga Tionghoa ramai singgah, mendagangkan barang dari kampung halaman. Tradisi serta keyakinan turut serta mereka bawa. Suatu hal yang kelak menjadikan negeri itu kaya keragaman.

    Lalu tersebutlah satu nama. Syed Omar Sharif Ali bin Al Junied, seorang pedagang asal Hadramaut yang tersohor kedermawanannya. Di Singapura, ia menjejak sejarah yang hingga kini terus diingat. Saudagar kaya itu mewakafkan tanahnya, di tepi selatan sungai Singapura, untuk dibangun masjid. Menandai wakaf pertama di negeri itu.

    Sampai saat ini, masjid yang dikenal dengan nama Masjid Omar Kampong Malaka itu masih terus digunakan. Masjid pertama di Singapura itu pun menjadi ruang ibadah bagi 1.000 orang yang mayoritasnya adalah pekerja kantor itu.

    Kontribusi wakaf Syed Omar tak hanya pada pembangunan masjid, ia juga mewakafkan tanahnya untuk digunakan sebagai pembuatan sumur, pemakaman, juga rumah sakit. Praktek wakaf saat itu terus menggeliat, terutama dari pedagang Yaman yang membawa tradisi wakaf dari tanah kelahiran mereka.

    Filantropi Islam yang dilakukan di pertengahan abad 19 itu hanyalah awal. Di masa-masa berikutnya, kegiatan wakaf di tengah masyarakat Singapura terus menggeliat. Pemerintah Negeri Singa itu pun turut memberi perhatian khusus atas bentuk kedermawanan sosial umat Islam itu.

    Hal tersebut dibuktikan dengan kelahiran amandemen UU Administrasi Hukum Islam (AMLA) setelah perancangannya pada 1966. Undang-undang tersebut mewajibkan setiap wakif, untuk mendaftarkan asset wakaf mereka di Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS), demi memastikan keberadaan asset wakaf di Singapura.

    Hadirnya amandemen AMLA, meningkatkan perkembangan wakaf dengan signifikan. MUIS pun mulai merevitalisasi seluruh asset wakaf di Singapura untuk dikembangkan menjadi asset yang lebih produktif. MUIS memulai proyek pembangunan yang menggunakan skema pembiayaan syariah yang inovatif. Salah satunya investasi dalam real estate.

    Pengembangan wakaf secara produktif ini pula yang menginisiasi berdirinya anak perusahaan MUIS, Waqf Real Estate Singapore (Warees) Investment Pte Ltd, pada 2001 dalam mengelola seluruh asset wakaf di Singapura. Saat itu, kompleksitas investasi tanah semakin meningkat, sehingga mau tak mau MUIS perlu mendirikan anak perusahaan.

    Melalui Warees Investment Pte Ltd, MUIS berupaya memisahkan fungsi-fungsinya. Sementara Warees Investment Pte Ltd fokus mengelola fungsi komersial dari asset wakaf, MUIS dapat lebih leluasa menjalankan peran regulasi, mendistribusikan hasil wakaf, dan meningkatkan manajemen wakaf.

    “Pemisahan pengelolaan wakaf membuat MUIS lebih fokus ke fungsi inti, sedangkan Warees berfokus pada pengembangan komersial,” jelas researcher Akademi Pengajian Islam Kontemporari (ACIS) Universiti Teknologi Mara Johor, Mohd Ali Muhammad Don.

    Ia melanjutkan, ini pun sekaligus meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan dan pengembangan aset wakaf di Singapura. Pembagian tugas ini, katanya, juga menjadi antisipasi MUIS atas risiko komersial yang mungkin dipertanggungjawabkan atasnya.

    Salah satu pengembangan wakaf yang dilakukan adalah rekonstruksi wakaf Somerset Bencoolen, yang sebelumnya merupakan wakaf masjid dan 4 buah toko dari Syed Omar. Pada 2002, Warees membangun asset ini menjadi kompleks komersial. Kompleks ini berisi apartemen 12 lantai, 3 unit toko, 3 unit kantor, dan 1 bangunan masjid berdesain modern.

    Proyek ini mengembangkan pembiayaan keuangan syariah dalam bentuk musyarakah dan ijarah. Mereka menyiapkan dana sekira 35 juta SGD dari para investor (gabungan dari sejumlah waqif), dengan profit sebesar 3.03 persen per-tahunnya. Oleh International Islamic Finance Forum, Singapura disebut-sebut sebagai satu-satunya negara di dunia yang melakukan inovasi wakaf dengan memanfaatkan konsep musyarakah.

    Mohd Ali Muhammad Don menyebut, atas hasil wakaf produktif yang digalakkan MUIS ini, Singapura berhasil mendistribusikan manfaat wakaf sebesar 2.79 juta SGD pada tahun 2015. “Dana ini disalurkan untuk kesejahteraan masjid, madrasah, dakwah perkembangan Islam, dan golongan membutuhkan,” katanya.

    Singapura, walau dikenal sebagai Negeri Modern cum Kebarat-baratan di Tanah Melayu, MUIS memastikan wakaf dapat menciptakan kesejahteraan komunitas muslim berdasarkan prinsip-prinsip agama. Terlebih dahulu, MUIS memprioritaskan hasil wakaf untuk masjid dan madrasah, karena pemerintah Singapura tidak memberikan bantuan finansial pada dua hal itu.

    Per tahun 2012, masjid memang mendapat dana hasil wakaf terbesar, yaitu sebesar 1.334.158 SGD. Saat ini, masjid di Singapura diketahui sudah berjumlah 70 buah. Jumlah ini disusul oleh alokasi untuk madrasah, yang mencapai 542.980 SGD. Namun selebihnya, hasil wakaf didistribusikan untuk kebutuhan dhuafa, kegiatan sosial dan keagamaan, penyediaan layanan kesehatan, beasiswa, dan pengurusan pemakaman.

    Menurut Mohd Ali Muhammad Don, untuk menyemarakkan praktek wakaf, MUIS memperkenalkan konsep wakaf ilmu. Ini merupakan konsep wakaf tunai yang diinvestasikan dalam properti berlandaskan syariah. Hasilnya, jumlah dana yang terkumpul sebesar 9.45 juta SGD sejak diperkenalkan pada 2012. Pada 2015, sejumlah 160 ribu SGD di antaranya didistribusikan pada 6 buah madrasah.

    Yang menarik, Singapura tak hanya mendistribusikan hasil dana wakaf pada masyarakat muslim di Singapura saja, yang notabene hanya 14% dari jumlah populasi. Karena negeri tersebut memiliki penduduk yang multi ras, tak jarang wakif ingin hasil wakaf mereka dirasakan oleh masyarakat muslim di negeri asal mereka. MUIS mengalokasikan 15% dari pendapatan wakaf untuk luar negeri.

    “Pada 2013, alokasi penerima manfaat di luar Singapura mencapai 355.021 SGD,” katanya.

    Sampai saat ini, Singapura terus mengalami kenaikan pendapatan wakaf, sehingga MUIS leluasa meningkatkan distribusi wakafnya ke berbagai sektor. Dari semua profit pengembangan wakaf ini, tak sedikit kegiatan ekonomi riil telah dihasilkan. Hal ini juga melahirkan banyak kesempatan kerja bagi para pengangguran.  (Aghniya/Alhikmah)