Bersyukur, Bisa Berdoa Sepuasnya di Tanah Suci

Bersyukur, Bisa Berdoa Sepuasnya di Tanah Suci

0 28

“…saat wukuf itulah, saya benar-benar merasakan kepuasan berdoa. Selain memanjatkan doa kebaikan dan kesehatan, terselip permintaan untuk menjadi haji yang mabrur, sepulang dari Tanah Suci ada perubahan diri ke arah yang lebih baik. Aamiin.”

Siapa yang tak merindukan Baitullah? Rasanya muslim di belahan dunia manapun sangat ingin menjejakkan kakinya di sana. Terlepas dari berhaji merupakan pilar kelima, memang Mekkah adalah kota yang penuh cahaya dan memiliki keunikan tersendiri.

Maka wajar sekali, saat menunaikan ibadah haji, tiap prosesi ibadahnya mestilah dilakukan dengan segenap hati. Fokus dan konsentrasi, pikiran kita senantiasa mengiblat kepada Illahi.

Namun, bagaimana jadinya bila saat di Tanah Suci, kita tidak bisa fokus? Tersibukkan oleh satu dan hal lainnya? Hanya kelelahanlah yang didapati, tak merasakan nikmat dan nuansa-nuansa syahdu.

Hal inilah yang pertama saya rasakan ketika berhaji di tahun 1996 silam. Amanah menjadi tim khusus kesehatan haji reguler kala itu, membuat saya benar-benar tidak merasakan bagaimana lirihnya bermunajat di rumah Allah tersebut.

Bukan, bukan tidak bersyukur atas segala amanah yang diembankan, minimnya pengalaman sebagai dokter haji cum kurang terjalin dengan baik koordinasi antar bagian saat itu, membuat saya merasa sangat terbebani.

Bayangkan, dalam satu kelompok terbang (kloter) jumlah tim kesehatannya ada tiga orang, dokter satu dan dibantu dua perawat. Sementara calon jamaah haji yang harus ditangani hampir 500 orang.

Terlebih, bertemu dengan jamaahnya hanya ketika di embarkasi. Belum kita juga harus memberikan edukasi dan penyuluhan kesehatan terhadap jamaah tersebut.  Sempat terbesit, aduuuuh cukup satu kali sajalah jadi tim dokter haji mah. Buat makan saja, dokter itu susah. Saking capainya bukan main.

Satu kamar itu dulu sampai 15 orang, yang namanya jamaah haji reguler, satu ditensi yang lain ikut-ikutan minta ditensi. Satu diberikan layanan konsultasi, semua juga ingin berkonsultasi. Kan lumayan. Baru saja beberapa menit ketiduran, sudah ada yang membangunkan minta di cek kesehatannya.. belum harus cek jamaah haji di kamar yang lain. Fiuuh,,

Bahkan, pernah nih, saking melelahkannya, perawat saya sampai pingsan. Yah, gimana gak pingsan, wong ke sana ke mari terus. Hehe..

Tapi eh tapi, saya selalu menekankan ke tim perawat, ini sudah menjadi tugas kita. Berusaha senyum saat melayani jamaah, jangan membeda-bedakan mereka. Walhasil, karena mencoba dibawa enjoy, para jamaah merasa dekat. Saya selalu terapkan keramahan dan kesabaran. Karena ini bagian dari kewajiban, dan mudah-mudahan kegiatan yang kami lakukan masuk pada bagian nilai tambah dari ritual ibadah haji.

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Illahi. Zat yang Maha Agung dalam menggoreskan kehidupan hamba-Nya. Saat terbesit tidak ingin menjadi dokter haji, justru Allah mengamanahi pekerjaan itu kembali. Namun kali ini, dengan kondisi yang jauh lebih baik.

Sekira enam belas tahun yang lalu, saya diajak Safari Suci menjadi dokter tim. Luar biasa senangnya saat itu ketika tawaran tersebut datang. Awalnya sempat terbayang tentang lelahnya menjadi dokter tim haji. Namun, bismillah, saya kembali meluruskan niat, bahwa semata ingin beribadah kepada Allah. berharap segala kelelahan pun akan berbuah pahala.

Dan setelah dijalani menjadi dokter tim haji non reguler di Safari Suci, ternyata rasanya berbeda sekali. Meski cuma seorang diri, bisa dikatakan justru jauh lebih enak. Karena kebanyakan jamaah yang ditangani, alhamdulillah-nya, lebih memahami kondisi dan situasi. Bagi yang punya penyakit pribadi sering sudah membawa obatnya. Atau mereka tahu kapan waktunya untuk berkonsultasi, dan sebagainya.

Meski demikian, hal itu tidak membuat saya menurunkan semangat menolong dalam melayani jamaah haji.

Masih hangat dalam ingatan, kala masih menjadi tim dokter di haji reguler kala itu, karena belum punya pengalaman, setelah wukuf, saya sibuk sekali dengan yang sakit.

Sementara setelah di Safari Suci, dibimbing oleh Ustaz Prof. Miftah Faridl, saya jadi menyadari betapa wukuf itu adalah momen yang benar-benar ditunggu umat Islam. Karena itu seakan Arasy di muka, malaikat melihat kita semua dan ibadah kita. Betul-betul khusyuk sekali. Berdoa.

Di sana, kami diperkenankan berdoa sepuas-puasnya. Dan disitulah saya lihat kelebihan Safari Suci. Walaupun plus, mereka tetap memperhatikan kaidah yang dicontohkan Rasul. Tidak memanjakan jamaah, kalau memang syariatnya begitu, ya dilakukan.

Pada akhirnya, saya pun berkesimpulan, orang haji kalau diibaratkan pelari, mereka adalah pelari marathon. Kalau lari marathon itu setara dengan lari jarak jauh. Setelah mencapai puncaknya, justru larinya harus semakin cepat. Artinya, harus makin sehat, ibadah makin kencang, makin konsentrasi, dan sebagainya.

Maka saat wukuf itulah, saya benar-benar merasakan kepuasan berdoa. Selain memanjatkan doa kebaikan dan kesehatan, terselip permintaan untuk menjadi haji yang mabrur, sepulang dari Tanah Suci ada perubahan diri ke arah yang lebih baik. Aamiin.

Kabar Duka dan Kesempatan yang Pas

Di tahun 2000 itu pula, setiba di Mekkah, saya mendapati kabar dari keluarga kalau ibu berpulang ke rahmatullah. Beliau memang umurnya sudah 77 tahun. Padahal sebelum berangkat, saya sempat pamitan.

Siapalah yang tak sedih mendengar kabar demikian. Lalu saya bilang ke tim Safari Suci, mohon agar diberi kesempatan untuk berdoa sepuas-puasnya, mendoakan ibu. Saya pun diberikan waktu dua hari, selama itu para jamaah benar-benar memberikan saya kesempatan untuk mendo’akan ibu.

Itu benar-benar pengalaman yang mengharukan, saya bersyukur sekali diberi kesempatan. Saya bisa mendoakan ibu saya di tanah suci, walau pulang saya tak bisa bertemu dengan beliau. Tapi mati itu kan kita mengantri. Hanya masalah kapan skenario Allah itu dilakukan. []

Seperti dikisahkan Herry A Aziz, jamaah Safari Suci kepada jurnalis Alhikmah.