Bersikap Sederhana, Bagaimana itu?

Bersikap Sederhana, Bagaimana itu?

0 85

BERSIKAP sederhana adalah bagian dari akhlaqul karimah yang sangat dianjurkan Islam. Allah berfirman : Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan….. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. al-Furqan [25]: 63 dan 67).

Rasulullah SAW lewat haditsnya juga menganjurkan kepada umatnya agar senantiasa bersikap sederhana, baik dalam beribadah, bertingkah laku, berpakaian maupun dalam berpola hidup.[i] Misalnya saja dalam hal berpakaian, Islam tidak menyukai orang yang berpakaian mewah dan bermegah-megahan. Maka dari itu, Rasulullah SAW pernah bersabda : Barang siapa yang memakai baju kebanggaan di dunia, pada hari kiamat, Allah akan mengenakannya pakaian kehinaan dan akan dikorbankan api padanya. (HR. Ibnu Majjah). [ii]

Bukan hanya itu, dalam peribadatan pun dianjurkan untuk bersikap sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Misalnya melaksanakan salat semalam suntuk, atau berdiam diri di masjid hingga melupakan keluarga. Hal yang demikian tidak bisa dikatakan ibadah, melainkan menyiksa diri, sedang hal itu tidak diajarkan dalam Islam. Menyitir hadits dari Ibnu Mas’ud r.a, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Binasalah orang-orang yang bersungguh-sungguh namun tidak pada tempatnya.” Kemudian Rasulullah SAW mengulangi sabdanya hingga tiga kali. (HR. Muslim).[iii]

Ketika seseorang mendapatkan anugerah dan rezeki, serta kekayaan benda, maka Islam memberikan tuntunan padanya agar mengelolanya dengan benar, tidak boros, juga tidak kikir. Allah SWT berfirman : Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (QS. al-Israa [17]: 26).

Dengan turunnya ayat tersebut, maka jelaslah bila Allah memerintahkan kepada umat-Nya untuk menggunakan harta benda secara tidak berlebih-lebihan. Sebab orang yang berlaku boros itu termasuk saudara setan, karena begitulah perbuatan yang dikehendakinya.[iv]

[i] Tim Lintas Media, Kumpulan Khutbah Jumat para kiyai, Jombang: Lintas Media, hlm. 215

[ii] Al-Ghazali, (1995), Akhlak Seorang Muslim, Bandung: al-Ma’arif, hlm. 271

[iii] Tim Lintas Media, op.cit, hlm. 218

[iv] Amin bin Abdullah, 2010, Larangan Berlaku Boros, Indonesia, Islamhouse, hlm. 3