Bersabar Menanti Panggilan Itu…

Bersabar Menanti Panggilan Itu…

0 63
ilustrasi (sumber:imgkid.com)

ALHIKMAH.CO–Asep Sudrajat beserta istrinya, Asih, hampir dua puluh tahun menabung demi mewujudkan cita-cita pergi haji. Dengan hasil dagang di toko kecilnya, sedikit demi sedikit mereka sisihkan demi cita-cita itu. Alhamdulillah, jumlahnya kini mencapai Rp. 50.830.000. Sementara biaya haji pada saat itu berkisar kurang lebih Rp 27 juta per orang.

Suatu pagi, Asep mendengar kabar bahwa kang Endi, kawan karibnya berjamaah shalat di Masjid, terdera tumor tulang dan dirawat di RSHS, Bandung. Bersegeralah, Asep menjenguk kawan karibnya itu.

Sesampainya di sana, kang Endi masih berada di ruang ICU. Dari penuturannya, Asep tahu bahwa tumor tulang tersebut harus diangkat segera, karena dapat menjalar ke bagian tubuh lain.

Di hari kedelapan, sahabatnya itu telah dipindah ke ruang rawat inap kelas 3. Di hari kesebelas, kebetulan Asep sedang berada di sana. Seorang perawat membawa surat dari rumah sakit, bahwa untuk membuang tumor harus dijalankan operasi yang menelan biaya hampir 50 juta. Padahal, keluarga kang Endi sudah menguras habis tabungan mereka.

Hari kedua belas, ketiga belas, … kondisi pasien semakin parah. Pemandangan itu menyentuh relung hati Asep yang terdalam. Maka, di pinggir ranjang sahabatnya, Asep pun mengambil sebuah keputusan besar. Setelah berpamitan, ia bergegas pulang.

***

Di rumah, Asep lalu menyampaikan keputusannya itu kepada Asih, sang istri.

“Bu, kang Endi kondisinya semakin memburuk. Ia harus dioperasi segera. Keluarganya kebingungan, sebab biaya operasi itu hampir Rp 50 juta,” kata Asep membuka pembicaraan.

Asih pun mulai merasa iba dengan penderitaan Kang Endi. “Kasihan mereka ya, Pak! Kita bisa bantu apa?”

“Kalau ibu berkenan, bagaimana bila dana tabungan haji kita diberikan saja?”

“Diberikan?! Waduh pak, hampir dua puluh tahun kita nabung masa’ bisa pupus seketika?” tolak Asih.

“Bu, banyak orang yang berhaji, belum tentu mabrur di sisi Allah. Bapak yakin bila kita menolong, Insya Allah, kita akan ditolong juga oleh-Nya,” kata Asep, menohok relung hati Asih.

Paginya, Asep dan Asih pun datang berdua datang ke RSHS membawa sebuah amplop tebal berisi uang sejumlah 50 juta yang tadinya mereka siapkan untuk berhaji.

Usai membacakan doa untuk pasien, keduanya menghampiri istri kang Endi, lalu meyerahkan amplop tersebut. Suasana pun haru seketika.

Esoknya, sebelum operasi, dokter spesialis tulang yang selama ini menangani kang Endi sempat berbincang dengan keluarga. “Doakan ya agar operasi berjalan lancar dan Pak Endi semoga lekas sembuh! Kalau boleh tahu, darimana dana operasi ini didapat?” tanya dokter, karena ia tahu keluarga tidak memiliki dana.

Istri Kang Endi menjawab, “Alhamdulillah, ada seorang tetangga kami yang rela membantu, Dok!”

“Memangnya, beliau usaha apa? Kok mau membantu dana hingga sebesar itu?” Di benak dokter, pastilah pak Asep adalah seorang pengusaha sukses.

“Dia hanya punya usaha toko kecil di dekat rumah kami,” istri Kang Endi menimpali.

“Seorang pak Asep yang hanya punya toko kecil saja mampu membantu saudaranya. Kamu yang seorang dokter spesialis dan kaya raya, tidak tergerak untuk membantu sesama,” suara hati sang dokter. Pembicaraan itu usai, dan dokter pun masuk ke ruang operasi.

Alhamdulillah operasi berjalan sukses dan lancar. Kang Endi tinggal menjalani masa penyembuhan pasca operasi.

Suatu hari, pak dokter sedang memeriksa kondisi Kang Endi. Kebetulan pak Asep sedang berada di sana. Keduanya pun berkenalan. Pak dokter memuji keluasan hati pak Asep. Pak Asep hanya mampu mengembalikan pujian itu kepada Pemiliknya, Allah Swt. Hingga akhirnya, pak dokter meminta alamat rumah pak Asep secara tiba-tiba.

***

Malam itu, toko belum lagi ditutup, ketika tiba-tiba sebuah mobil diparkir di luar pagar rumah Asep. Nampak sosok pria dan wanita turun dari mobil itu. Begitu mendekat, tahulah Asep bahwa pria yang datang adalah pak dokter yang pernah merawat sahabatnya kemarin.

Dokter dan istrinya pun dipersilakan masuk. Mereka berempat terlibat pembicaraan hangat.

Asep pun menanyakan maksud kedatangan pak dokter dan istri. Dokter menjawab bahwa ia datang hanya untuk bersilaturahmi.

“Asep dan ibu, saya dan istri berniat berhaji tahun depan. Saya mohon doa bapak dan ibu agar perjalanan kami dimudahkan.” Asep dan Asih menjawab serentak, “Amien!”

“Selain itu, agar doa bapak dan ibu semakin dikabul oleh Allah, ada baiknya bila dilakukan di tempat-tempat mustajab di kota suci Mekkah dan Madinah.” Kalimat yang diucapkan pak dokter kali ini membuat bingung Asep dan Asih.

“Maksud pak dokter?”

Ehm, maksud saya, izinkan saya dan istri mengajak bapak dan ibu untuk berhaji bersama kami tahun depan.”

Kalimat itu berakhir menunggu jawaban. Sementara jawaban yang ditunggu tak kunjung datang, hingga air mata keharuan menetes di pipi Asep dan Asih.

Mereka hanya mampu mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Usai pak dokter pulang, keduanya tersungkur sujud tanda syukur yang mendalam  kepada Allah Yang Maha Pemurah.


 

Like & Share berita ini untuk berbagi inspirasi 

 

Komentar ditutup.

BERITA TERKAIT