Berpura-pura Dahulu, Masuk Islam Kemudian

Berpura-pura Dahulu, Masuk Islam Kemudian

2 2521

Jejen Aryadi

Namanya sangat Sunda sekali, Jejen Aryadi. Namun, perjalanan keimanan dalam hidupnya, jauh dari orang Sunda pada umumnya. Ia dilahirkan sebagai seorang Nasrani dari keturunan Jawa-Sunda yang sangat membenci Islam.

Sejak kecil Jejen hidup dalam budaya dan rutinitas penganut Tritunggal. Saban Minggu, ia rajin datang sebagai jamaah sebuah gereja di bilangan Dewi Sartika, Bandung. Saat usianya baru menginjak 13 tahun, air baptis Pendeta Gereja Hosanna Imannuel, Pasteur Bandung, telah memerciki tubuhnya.

Sejak itulah, Jejen mengakui Roh Kudus dari ketiga Tuhannya bersemayam dalam hati dia. Keimanannya meluap-luap, jiwanya tertunduk dengan berbagai doktrin Alkitab. Ia pasrahkan kehidupannya dalam genggaman tangan Tuhan. Ia baktikan waktunya dengan pelayanan terbaik di gereja.

Bersama koleganya, Fendi, Jejen menjadi “Top of The Man” yang sangat dipuji dan disayang pihak gereja. Berbagai reward ia dapatkan, bahkan ia menjadi jamaah kesayangan pendeta terhormat di gereja tersebut.

Berbagai kemudahan ia dapatkan dari gereja. Bahkan salah seorang direksi perusahaan coklat ternama di Bandung, sesama jamaah di gereja, sempat memberinya pekerjaan. Saat itu, Jejen merasakan betul kenikmatan menjadi pemeluk Kristen. Mudah mencari pekerjaan, solidaritas yang kuat diantara sesama pemeluknya, bahkan kehidupan ekonomi pun demikian berlimpah.

Ia kaji Alkitab setiap pagi, manakala orang belum terbangun dari tidurnya. Tak tanggung-tanggung, Empat kali sudah ia khatamkan Alkitab. Jejen sangat hafal setiap ayat dalam kitab suci agamanya itu.

Berpura-pura Menjadi Islam

Kecintaan Jejen masih kokoh, hingga suatu ketika, ia tiba di persimpangan. Persimpangan yang membuat imannya goncang. Jejen kepergok berbohong pada seorang gadis muslim. Ia berpura-pura menjadi seorang muslim dan memacari gadis itu.

Tangis pilu korbannya itulah yang mengusik iman Jejen. Ia berpikir, keyakinan yang mendalam terhadap Tuhan Tritunggal selama ini, ternyata tak membuatnya menjadi sosok yang luhur. Ia meragu, benarkah apa yang ia yakini?

Tiga bulan lamanya Jejen mematung dalam keraguan. Ia kaji kembali kitab sang juru selamat. Agama Islam yang sangat ia benci, mulai memancingnya. Banyak tanya yang akhirnya harus bermuara pada Muhammad yang ia kenal selama ini melalui berbagai literatur dan doktrin gereja, sebagai seorang manusia keji.

Kenapa harus Islam? Entahlah. Ia banyak membaca buku, kitab dan tontonan-tontonan perdebatan antara tokoh muslim dan nasrani. Ia kaji dan kaji, hingga semakin membuatnya bingung. Ia ragu, ia benar-benar mual dengan dua pilihan dalam dadanya.

Dituntun Alkitab

Sekian waktu berlalu, ia temukan ayat dalam kitab Mathius, “Lihatlah, Aku menyuruh utusanKu mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalanMu…” (Mathius 11:10).

“UtusanKu?” Tanya Jejen dalam hati.

Beberapa kalimat itu saja membuat kepalanya berat. Ditambah lagi dengan perdebatan Kristolog kenamaan, Ahmad Deedat dan Andi Saurus yang menonjok tajam iman nasraninya. Deedat begitu lihai merontokkan setiap argumentasi Andi Saurus dari kubu kristen. Kacau.

Tiga bulan ia tinggalkan gereja. Ia pun selalu ragu memasuki mesjid. Namun, agama yang kerap diberi stigma imannya para teroris ini benar-benar menarik perhatiannya. Ada apa sesungguhnya dengan Islam? Ia begitu penasaran.

Ia sempat bertanya-tanya pada ko Gunawan, salah satu pendeta dan pembimbing pemuda Kristen yang ia kenal. Namun, hanya kecewa yang ia dapatkan. Jawaban yang diberikan tak sesuai harapan. Sang pendeta terlihat sangat bodoh di matanya.

Jawaban itu justru ia temukan dari kisah seorang suster yang menjadi mualaf setelah menyimak teks dan makna surat Al-Ikhlas. Surat pendek dalam Alquran itu pula yang menjawab keraguannya. Ia bahkan kemudian menyimpulkan, bahwa Islam adalah kebenaran yang selama ini dicari.

Maka, awal Ramadhan di tahun 2008 disaksikan Jamaah pengajian Al-Ulum, Citepus, Bandung, Jejen lafadzkan dua kalimat syahadat, gerbang pembuka ajaran Tauhid, Islam. Ia menambah daftar para pembenci Islam, yang terjebak dalam kebenciannya sendiri, lantas berujung mencintai.

Ia menemukan semua hal yang meragukan dalam keyakinan Kristennya. Termasuk kesalahan ajaran Tritunggal. Dan ternyata, Alkitablah yang mendorongnya memeluk Islam. Berkat petikan ayat yang menyatakan bahwa Yesus itu adalah utusan Allah, ia ragu dengan Tuhannya. Lalu menjalar, ia meragukan seluruh keimanannya.

Konsekuensi Memilih Islam

Pilihannya pada Islam bukan tanpa konsekuensi. Tak lama setelah keluarga mengetahui keislamannya, Jejen seketika ‘dipecat’ dari keluarga besarnya. Bahkan, ayahnya membakar habis catatan perjuangan para mualaf yang dikumpulkan Jejen. Nyata-nyata di depan mata dia, sang ayah marah besar.

“Silahkan kamu angkat kaki dari sini! Ayah tidak peduli lagi, mau mati, mau hidup, apapun yang terjadi denganmu, peduli amat. Pergi kamu dari sini!” hardiknya.

Ayahnya yang memang sangat membenci Islam, benar-benar murka. Jejen satu-satunya anak lelaki yang sangat diharapkan, kembali membuka luka lama di hati sang bapak. Ya, karena dua anak lainnya pun sudah berpindah keyakinan.

Jejen pun terpaksa angkat kaki dari rumah tinggalnya. Kemudian ia lebih banyak bergabung dengan pengajian Al Ulum-Citepus, Bandung, tempat dimana ia pertama kali mengucap dua janji.

Setelah Angkat Kaki

Keputusannya untuk angkat kaki dari rumah, mengantarkan Jejen menikah dengan seorang muslimah asal Garut. Meskipun hanya disaksikan para jemaah mesjid Al Ulum, pernikahan membawanya pada kehidupan Islam yang lebih mapan. Istri yang demikian solihah turut membimbing Jejen belajar agama.

Sempat, perempuan itu merajuk meminta diantarkan kepada kedua orang tuanya. Namun karena kekhawatiran perlakuan orang tuanya yang kasar, Jejen menolak. Dan benar saja, saat istrinya berhasil membujuk Jejen, ia terpaksa memboyong istrinya bertemu dengan sang bapak.

Jejen sudah membayangkan bagaimana ayahnya akan menerima mereka dengan kasar. Maka hanya ketakutanlah yang tersisa dalam dirinya manakala ia akan tiba di rumah yang sejak kecil ia huni.

Di luar dugaan, ayahnya bersikap sangat baik. Begitu melihat istrinya, simpul keramahan terbuka. Namun, tidak demikian bagi Jejen. Ia malah bingung. Tak mungkin semudah itu ayahnya berubah. Apalagi saat ia hendak menikah, ayahnya begitu kasar menerima berita itu.

Jika saat ini tiba-tiba berubah, adakah sesuatu? Ataukan ayahnya sudah menerima keIslaman dirinya? Tapi sudahlah, ia serahkan semuanya kepada sang Khalik. Ia yakin, hanya Allah yang Maha Tahu apa yang tengah terjadi.

(Siti Rokayah)


Like & Share berita ini untuk berbagi inspirasi