Berperilaku Istiqamah, Berbuah Jannah

Berperilaku Istiqamah, Berbuah Jannah

0 139

DARI Abu Amr Sufyan bin Abdullah r.a ia berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu. Bersabdalah Rasulullah SAW:”katakanlah : aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah kamu,” (HR. Muslim)

Hal yang sebetulnya diinginkan Abu Amr sufyan itu adalah penjelasan kepadanya suatu kalimat yang pendek, padat, dan berisi tentang Islam, yang tentunya mudah dimengerti. Lalu, Rasulullah benar-benar menjawab pertanyaannya itu dengan perkataan yang dikehendakinya. Dengan dua kalimat berikut ini, “beriman kepada Allah, dan beristiqamah”.

Sebetulnya, kalimat di atas telah mencakup pengertian iman dan Islam secara utuh. Beliau menyuruh orang tersebut untuk selalu memperbarui imannya dengan ucapan lisan dan mengingat di dalam hati, serta menyuruh dia secara teguh melaksanakan amal-amal shalih, dan menjauhi semua perbuatan yang berdosa. Hal ini karena, seseorang tidak akan dikatakan istiqamah, jika ia menyimpang dari jalan Allah, walaupun hanya sebentar. Sejalan dengan firman Allah SWT: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. (QS. al-Fushilat [41]: 30). [i]

Istiqamah ini seperti batu besar di dalam dasar sungai. Dia tetap tegak tenang, sekalipun aliran air yang melewatinya deras. Inilah yang dimaksud istiqamah, tetap tegak dalam manhaj-Nya, dan tidak terpengaruhi apapun. [ii]

Menurut bahasa Istiqamah berasal dari kata al-Qoma yang artinya berdiri tegak, atau lurus. Secaraistilah, Istiqomah adalah berpendirian teguh atas jalan yang lurus, berpegang pada akidah Islam dan melaksanakan syariat dengan teguh, tidak berubah dan berpaling walau dalam apa-apa keadaan sekalipun.

Al-Washiti berkata. Istiqamah adalah sifat yang dapat menyempurnakan kepribadian seseorang, ketidakadaan sifat ini, akan merusak kepribadian seseorang. Pernyataan ini, senada dengan pendapat dari Abu Qasim al-Qusyairi. Ia mendefinisikan istiqamah sebagai satu tingkatan yang menjadi penyempurna dan pelengkap semua urusan.

Dengan istiqamah, segala kebaikan dengan semua aturannya dapat diwujudkan. Sebaliknya, orang yang tidak istiqamah, dapat dipastikan dalam melakukan usahanya akan sia-sia dan gagal. Maka tak heran bila Rasulullah menganjurkan umatnya untuk memiliki sifat istiqamah, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits berikut : “Beristiqamahlah kamu sekalian, karena kamu akan selalu diperhitungkan orang, (HR. Ibnu Majah No 324). [iii]


Daqieq al-Ied, (2001), Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi, Yogyakarta: Media Hidayah, cet. 10, hlm. 105-107

Mokhtar Stork, (2002), Buku Pintar al-Qur’an, Jakarta: Intimedia, cet.2 hlm. 220

Daqieq al-Ied, op.cit, hlm. 105-107

pict. tarbiyahmoeslim.wordpress