Berkah Mengumrohkan Karyawan

Berkah Mengumrohkan Karyawan

0 71

“Jadi yang namanya kita kecil itu memang benar. Kita tidak ada apa-apanya, kita kecil di hadapan Tuhan…”

Perjalanan spiritual yang luar biasa, pembaca. Ibadah lebih sempurna dan terasa lebih sempurna. Ditambah dengan jalinan silahturahmi, di mana saya bisa melaksanakan ibadah umroh bersama dengan klub yang saya cintai, Persib Bandung.

Ya, maklum saja, pembaca, saya ini Bobotoh. Saat itu, solidaritas dan kebersamaan begitu terasa. Para pemainnya juga ramah, bukan hanya di lapangan saja tapi dengan orang lain pun mereka ramah. Hingga sekarang kita masih silaturahim, selalu ada komunikasi.

Selain itu, yang membuat ibadah umroh tahun 2014 ini begitu berkesan, tak lain atas bimbingan pembimbing haji saat itu, yang begitu memerhatikan tata cara ibadah kami, memberikan saran di mana tempat-tempat yang lebih mustajab memanjatkan doanya. Apalagi pada saat tausiah di bis, kami dikisahkan tentang sakaratul Nabi Muhammad, ketika baginda Muhammad Saw., berkata “Jibril kenapa kamu tidak melihat saya, apakah saya jijik,” itu bergetar hati saya mendengar tausiyah beliau.

Bukan hanya itu, sebelumnya saat saya umroh bersama istri, biasanya sesudah Thawaf, saat mau berdoa kita langsung ke pinggir dan langsung berada di belakang. Tapi pada saat umroh kali itu, ketika Thawaf, kita benar-benar berdoa di depan Kabah. Sungguh kedamaian yang tiada terkira, tak tertahankan tetiba air mata ini mengalir. Subhanallah, kami seperti baru merasa rindu terhadap Baitullah. Padahal, kami sendiri sudah beberapa kali menunaikan haji dan umroh. Tapi, ya, seperti yang tadi dikatakan, kami belum pernah merasakan ketika berdoa selepas Thawaf benar-benar di depan Kabah. Bergetar hati saya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

“Jadi yang namanya kita kecil itu memang benar. Kita tidak ada apa-apanya, kita kecil di hadapan Tuhan…,” ungkap batin saya kala itu, pembaca.

Iya, kita di depan Tuhan itu kecil tidak ada apa-apanya, keagungan Tuhan itu luar biasa, kebaikan yang diberikanNya juga luar biasa.

Keberkahan Berangkat ke Tanah Suci

Pertama kali saya berangkat ke tanah suci itu tahun 1994, pembaca. Saat itu seperti mimpi, saya yang biasanya melihat Kabah di TV, koran, ternyata menjadi kenyataan di usia saya saat itu yang memasuki 34 tahun. Itupun tidak dicita-citakan jauh-jauh hari.

Dan saya masih ingat betul permintaan tempo hari itu. Yakni ingin mendirikan sebuah akademi keperawatan (Akper), karena saya seseorang yang berkiprah di dunia kesehatan. Jadi setelah Thawaf itu, saya tak henti-hentinya melafalkan doa meminta itu. “Ya Allah saya ingin mendirikan Akper khusus muslim, yang mana di dalamnya muslim-muslimat memakai busana syar’i, dan ini akan menjadi syiar Islam saya,” ungkap diri ini berkali-kali.

Kenapa harus Akper khusus muslim? Karena berdasarkan pengalaman saya, perawat saat itu didominasi non-muslim. Termasuk saya yang dididik dalam nuansa non-muslim. Bayangkan, saya juga baca injil selama 4 tahun di pendidikan kesehatan di Immanuel. Kebanyakan sekolah perawat itu non-muslim. Pembaca, bayangkan apa mau kita saat disuntikan obat, terus yang dibaca perawat adalah “Haleluya” tidak “Basmallah”? kita meminta tolong pada siapa kalau begitu? Itu yang saya minta pada Allah.

Begitu saya berdoa, satu hari sesudah itu, saat masih di Makkah,  saya bermimpi setelah shalat dhuha ada sosok seorang tinggi putih memberikan sertifikat yang sudah terstempel. Awalnya saya tidak tahu tabir mimpi itu. ketika datang ke Indonesia, alhamdulillah izin akper yang sudah diajukan selama tiga tahun keluar begitu saja. Dari situ, sampai sekarang terbitlah sekolah Akper pertama saya di bilangan Ujung Berung. Sampai sekarang mahasiswa dan karyawannya khusus muslim. Niat awal sampai sekarang saya pertahankan, karena itu bagian syiar Islam.

Pembaca, itu keberkahan pertama, tapi bukan yang terakhir. Wallahu alam, tapi setiap saya berangkat ke Tanah Suci, baik berniat umrah atau haji, ada saja kejadian di luar nalar yang menunjukkan kuasaNya. Jalan saya di pendidikan, Allah mudahkan, pembaca. Lalu saya mendirikan sekolah dan perguruan lainnya. Subhanallah, maka nikmat mana lagi yang kan kau dustakan?

Pembaca, kenapa saya tertarik dengan pendidikan? Karena saya merasa mendirikan pendidikan juga termasuk jihad fii sabilillah. Memang berat, tetapi kepuasan bathin tidak bisa diukur materi. Hati ini merasa aman dan tenang. Saat bertemu alumni di jalan atau di mana, itu sudah seperti keluarga saja. Alhamdulillah se-Jabar tiap Kabupaten ada alumni.

Agar yang Lain pun Merasakan Kenikmatan Ke Tanah Suci

Alhamdulillah, pembaca, dengan adanya lembaga pendidikan yang saya kelola secara syariah, itu tiap tahunnya saya bisa bawa 40 sampai 50 karyawan untuk umrah. Saya sisihkan 2.5% dari pendapatan sini untuk kegiatan dakwah. Termasuk dari pendapatan-pendapatan, lainnya seperti sewa gerai untuk membangun masjid.

Awalnya juga saya sempat berpikir, untuk apa para karyawan saya umrahkan tapi rumah masih mengontrak? Gaji di bawah standar? Saya pernah memberikan dalam bentuk uang tunai, tapi entah ada apa, hati saya seperti tidak senyaman memberikan kesempatan umrah, hati terasa berbeda.

Setidaknya saya berpikir, berangkat saja dulu, baru di sana bermunajatlah pada Allah, Dzat yang Maha Kuasa mengabulkan sesuatu. Jangankan untuk sekadar membayar cicilan rumah, Allah bisa lebih dari itu. Dan, Alhamdulillah, ketika pulang dari sana, ada yang bisa nyicil rumah atau motor. Yah, bagaimanapun juga saya ingin berbagi pengalaman, agar keberkahan ini tidak saya alami seorang diri, melainkah orang lain pun merasakan kenikmatan bertandang ke Tanah Suci. Amin. []

*Seperti yang dikisahkan jamaah safari suci, H. Mulyana kepada jurnalis Alhikmah Pipin Nurullah