Berjuta Hikmah di Tanah Suci

Berjuta Hikmah di Tanah Suci

0 5

Lautan manusia. Pemandangan yang sungguh dramatis. Setiap insan merindu, setiap insan memimpi. Menatap Ka’bah yang membuka kesadaran hati yang sedari dulu membatu. Bangunan kotak hitam yang begitu menawan, jutaan orang menyemut berputar mengelilinginya, merintih di kakinya penuh harap.

Pembaca, apakah berhaji kadung terlakon hanya orang yang kaya secara finansial? Apakah kaum pinggiran hanya dapat merindu menatap fotonya? Rupanya, ketika Allah berkehendak memenuhi undanganNya, siapapun bisa menikmati jamuanNya.

Sepenggal bulan haji lalu, saya menyaksikan sendiri bagaimana para tamu-tamu Allah dari pelbagai kalangan mulai dari tukang nulis, petani, imam masjid, buruh pabrik, kepala suku pedalaman Papua, walikota, pejabat negara, rektor dan bermacam lainnya.

Berjuta hikmah tak terperi, ketika Allah perlihatkan kekuasaaNya langsung di depan mata sendiri. “Saya nggak pernah kepikiran , da saya mah apa atuh, saya cuman petani di kampung,” celoteh mang Udin (60) petani asal Sukabumi ini bercerita di bawah tenda di Mina.

Mang Udin nggak sendiri, masih banyak kawan-kawan kami yang Allah undang via undangan Kerajaan Saudi Arabia. Seorang Imam Masjid di kampung tak luput mengimami shalat-shalat kami di naungan tenda di Mina, begitu merdu.

Kami saksikan sendiri bagaimana si kecil Masyita yang bisa memberangkatkan kedua orang tuanya. Ya Rabb, padahal bocah mungil ini tak bisa melihat Ka’bahMu. Berderai tangis Masyita, merintih di kaki Ka’bah penuh Khusyuk sambil digendong sang ayah dan bunda.

‘ya Allah izinkan saya melihat, izinkan saya melihat rumahMu ini,” lirihnya penuh air mata yang terus meleleh. Di hamparan rumahMu, jutaan tetes air mata membanjiri rumahMu. Bocah mungil tuna netra ini dengan fasihnya mengeja kalamMu, membuat diri ini malu, bahwa dengan kelebihan ini, betapa kurang bersyukurnya kami.

Dengan hafalannya berjuz-juz itu, Masyita bisa memberangkatkan orang –orang yang dicintainya. Dilafalkan kalam-kalam suci itu, surat Ar Rahman, berdecak kagum semesta. Menangis haru para pemirsa, bahwa keajaiban itu benar-benar ada.

Lihatlah bagaimana engkau perjalanankan hamba-hambaMu dari pelbagai latar belakang, suku, ras, warna kulit dan sebagainya, hanya satu kata mereka terlafal; Labbaik Allahumma Labbaik, Ya Rabb, kami datang penuhi seruanMu dengan tulus.

Lihatlah bagaimana engkau perjalankan seorang kepala suku pedalaman Wamena Papua. Kami memanggilnya Pak Tom, yang tak pernah menyangka akan bisa berhaji. “Saya tinggal di pedalaman suku, nggak pernah terbayang untuk bisa haji,” kenangnya.

Tapi rupanya undanganMu menyapa siapa yang Engkau kehendaki. Mang Udin, Masyita hingga Pak Tom, adalah kisah berjuta hikmah. Bahwa siapapun bisa memenuhi undanganNya. Jika masih kurang contoh, izinkan saya kembali berkisah tentang Abu Ahmad, lelaki paruh baya asal Suriah yang suatu senja kami bersua.

Dengan lahap, kami sedang menikmati hidangan di dalam Jam-jam Tower. Saat itu saya, bersama kawan-kawan sekira empat orang duduk ‘ngampar’, tetiba datang lelaki tua meminta makanan kami. Kami ajak bergabung, dan dia segera lahap makan bersama kami.

Ketika ditanya dari mana, ia mengatakan dari Suriah. Kami penasaran, bagaimana ia bisa sampai di Mekkah.

“Saya pengungsi Suriah yang kini tinggal di Lebanon. Kerajaan Saudi memberikan visa untuk kami, Alhamdulillah,” katanya.

“Bagaimana kabar saudara kami di Suriah,” kami Tanya.

Tetiba matanya berkaca-kaca. “Keluarga saya masih ada di Suriah, kondisi kami sangat parah, saat ini digempur habis-habisan oleh rezim Syiah, Iran, Amerika hingga Rusia,” katanya.

Kami hanya bisa mendoakannya, sedangkan dirinya sedikit termenung. Lalu, kami tanya bagaimana biaya dan tinggal di sini (Mekkah)?

“Saya sudah 21 hari tinggal di Masjidil Haram, Alhamdulillah,” katanya. Tentang biaya perjalanan, dia bilang,” Alhamdulillah, ketika Allah mengundang hambaNya ke Baitullah, tidak ada yang bisa menghalanginya, kita adalah tamu Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan tamunya,” tegasnya.

Ucapannya membuat diri semakin malu, ya Rabb, engkau perlihatkan berkali-kali bukti kebesaranMu. Engkau pertemukan kami dengan hambaMu dari pelbagai dunia, dari Suriah, Palestina, Amerika, Eropa, Cina, Jepang, Korea, sungguh benar firmanMu bahwa Engkau menciptakan kami berbangsa-bangsa untuk saling mengenal.

Tentang jamaah Afrika yang sudah kesohor, saya sempat berkenalan dengan beberapa orang. Ada juga kami bersua dengan kepala suku di pedalaman Afrika yang baru masuk Islam, saat jamuan di rumah pengundang kami, Syaikh Khalid Al Hamudi di Jeddah.

Setiap fasenya mulai dari umroh, mabit di Mina, Arafah, lempar jumrah, thawaf ifadah, sai, hingga tawaf Wada menyimpan berjuta kisah, berjuta harap, berjuta rindu, berjuta hikmah. Menikmati jamuan Allah dari satu ritual ke ritual lainnya, menikmati nikmat bersua saudara seluruh dunia, menikmati setiap rintih dan doa yang penuh kekhusyukan.

Semua tak kan pernah terlupakan, berjuta hikmah di Tanah Suci. Sejak dahulu, haji selalu menjadi perjalanan spiritual, madrasah ruhani, sekolah membersihkan diri. Ya Allah, agungkanlah selalu RumahMu, Ka’bahMu, sampaikan shalawat serta salam kami ke manusia paling mulia, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, dan undanglah kami ke Baitullah. Amin