Berjilbab dan yang Tersisa

Berjilbab dan yang Tersisa

0 104
Asep Saeful Muhtadi

Seorang remaja SMA berjilbab putih. Dia pintar, terpilih menjadi bintang kelas, dan aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Cara berjalannya gesit, berkacamata minus dan tidak ketinggalan mengikuti bimbel. Dia terkenal, dan sangat dekat dengan kawan-kawannya. Sifatnya yang supel dan fleksibel membuat kalangan sebayanya tak mau ketinggalan untuk berteman dengannya.

Inilah di antara potret ”Islam Kota” yang pada awal 1980-an dikenal dengan gerakan Back to the Mosque. Jilbab seolah identik dengan kegiatan remaja masjid. Termasuk yang saat itu ramai di masjid-masjid kampus. Aktivitas remaja masjid menjadi sebuah model yang mengundang perhatian banyak kalangan. Jadilah lautan jilbab yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Hampir di semua lini, gelombang itu bergerak, terus mengalir hingga memasuki pojok-pojok elit dan birokrasi.

Hingga saat ini, fenomena jilbab telah menjadi model yang ada di mana-mana. Bukan saja dalam pengajian-pengajian atau kegiatan remaja masjid, dalam kerumunan penonton sepak bola pun, misalnya, kini tidak sulit menemukan jilbab. Jilbab bukan merupakan penghalang untuk sebuah eksistensi, bahkan jilbab telah menjadi alat pergaulan yang ada di depan. Mereka berjilbab untuk memenuhi tuntutan syari’at. Tapi jangan lupa, mereka juga berjilbab untuk mengikuti arus mode yang kian mewarnai selera hampir semua lapisan perempuan di setiap profesi ataupun sekedar komunitas-komunitas biasa.

Dibanding awal hingga tengah tahun 1970-an, komunitas perempuan muslim masih belum tergerak untuk menutup kepala secara syar’i. Para aktivis organisasi-organisasi Islam, bahkan kumpulan-kumpulan pengajian agama sekalipun, belum banyak mengenal jilbab. Jilbab masih dipandang asing, atau masih ditempatkan pada wilayah budaya semata. Sesekali jilbab hanya dilihat sebatas kebiasaa orang-orang Arab. Para penggunanya masih dilihat sebelah mata, semacam gelombang tradisi yang hanya ditampilkan kaum pinggiran. Tidak menarik.

Lebih tragis lagi, nasibnya terseret arus kebijakan yang tak jelas landasan rasionalnya. Sejumlah sekolah dan kampus-kampus mengeluarkan aturan, perempuan tak boleh menutup kepalanya. Telinga harus terlihat pada foto-foto formal yang menjadi persyarakat administratif, seperti foto yang ditempel di buku Raport ataupun Ijazah. Mereka ‘dituduh’ telah membangkitkan gairah baru menampilkan budaya asing yang tak sejalan budaya sendiri. Padahal celana Jeans yang bolong-bolong di beberapa bagiannya adalah juga bukan tradisi kelas menengah remaja laki-laki kita. Tapi itulah tantangannya. Sanggupkah perempuan-perempuan muslim kita bertahan dan bahkan semakin membengkak dan masuk ke seluruh wilayah kehidupan?

Para perancang busana pun tertantang menyahuti arus selera yang semakin kuat menggeliat itu. Ada yang bergerak karena alasan bisnis, bahwa bisnis mau tidak mau harus dapat mengikuti arus selera pasar. Tapi banyak yang menempatkan kehendak ajaran sebagai landasan argumentasinya, tanpa mempertimbangkan pasar. Dua gelombang ini lalu seolah berlomba, berfastabiqul khairat. Pasar pun menyahutinya dengan penuh gairah. Bertemualah dua arus ini dalam nuansa budaya ‘baru’ yang saling menguntungkan. Pasar di satu sisi, dan selera di sisi yang lainnya. Benarkah alasan syar’i menjadi kekuatan pemantiknya?

Terserah. Kalau jalan itu sudah terbuka, dari mana pun asalnya, gelombang itu akan terus mengalir menembus ruang-ruang yang memungkinkan dimasukinya. Ibarat hukum Arsimedes, ia akan sulit dibendung kekuatan apapun, lubang-lubang itu, sekecil apapun, akan menjadi saluran mengalirnya mata air, dalam bentuk tetesan air ataupun gelombang dahsyat sekalipun. Kini aliran itu semakin membengkak bagaikan gelombang Tsunami yang sanggup meluluhlantakan apapun yang dilewatinya.

Aturan-aturan yang seolah membelenggu kebebasan berjilbab kini telah mereda. Tidak ada lagi ‘diskriminasi’ yang membatasi kehendak mengikuti etika beragama khususnya dalam hal berjilbab. Bahkan, belakangan muncul kontroversi penggunaan jilbab di kalangan polisi wanita atau Polwan, antara boleh dan tidak boleh. Silang pendapat pun tak lagi bisa dihindari. Dan yang menarik, para pecinta jilbab tetap santun memberikan argumentasi. Para perancang busana pun menawarkan sejumlah alternatif, agar kebebasan berjilbab tetap disajikan, etika formal berseragam pun tidak dilanggar.

Kini jilbab telah menjadi khazanah warna sosial budaya kota. Berjilbab bukan saja berarti telah melaksanakan tuntutan syar’i, tapi juga telah dengan sangat produktif merespon kecenderungan berbudaya pop di lingkungan masyarakatnya. Beragam lapisan masyarakat dalam profesi yang berbeda-beda melakukan perubahan kecenderungan dari pakaian serba minimalis pada tradisi berjilbab. Alasannya pun bervariasi, selain karena kesadaran akan tuntutan syar’i, tidak sedikit juga yang mengambil manfaat lain, mulai dari alasan kesehatan, keamanan, hingga kecenderungan budaya.

Lebih dari itu, dari perspektif dakwah Islam, berjilbab dapat pula ditempatkan sebagai media alternatif dalam ikut menghadirkan Islam di tengah masyarakat kota, masyarakat yang lebih kosmopolit. Islam kini hadir dalam nuansa budaya pop yang mungkin sebelumnya masih dianggap kaku, tak layak, atau tak patut. Jika sebelumnya berislam kerap dipandang sebagai identitas masyarakat desa dengan tradisionalismenya yang serba tertinggal, kini berislam telah menjadi identitas kosmopolit yang terhindar dari nilai-nilai ketertinggalan.

Ada efek negatif memang. Di antara para pengguna jilbab masih ada yang memanfaatkan jilbab hanya sebatas ‘guyub’ mengikuti arus. Jika tidak berjilbab akan dipandang sebagai sosok elitis-eksklusifisme yang sangat tidak produktif. Khawatir dimarginalisasi, mereka awalnya terpaksa berjilbab, meskipun akhirnya mereka pun menikmati gaya berpakaian ini secara tulus dan merdeka.

Kisah lucu Ibu Eni yang berprofesi sebagai seorang guru salah satu sekolah menengah di perkotaan, misalnya, dapat menjadi pelajaran berharga. Ia berjilbab karena syar’i dan dengan pemilihan model yang cerdas dan apik. Ia menjadi sangat menarik sekaligus menjadi pusat perhatian lingkungan seprofesinya. Akhirnya, hampir semua guru perempuan di tempat kerja Bu Eni mengenakan jilbab. Jilbab semakin menampakkan dirinya sebagai identitas ‘baru’ masyarakat perkotaan.

Anehnya, setiap kali waktu shalat tiba, teman-teman Bu Eni tidak serentak melaksanakan shalat. ”Mungkin di rumahnya, atau mungkin sedang datang bulan,” gumam Bu Eni mencari pembenaran. Benar saja, ketika dikonfirmasi, rata-rata menjawab sedang datang bulan, mereka sedang tidak shalat. Bu Eni pun percaya. Hanya, anehnya lagi, mengapa berhalangan shalat itu datang sepanjang waktu? ”Jangan-jangan mereka baru berjilbab dan belum sepenuhnya bersyar’i,” gumam Bu Eni lagi mencari pembenaran.

Dalam kasus seperti itulah, berjilbab menjadi sebuah agenda dakwah yang masih tersisa. Jangan berhenti. Berislam secara utuh memang sebuah tuntutan ajaran, tapi mewujudkannya secara sempurna tetap menjadi agenda penting yang mengikat kita semua. ”Sampaikan kebenaran itu walaupun satu ayat”.

*Prof. Asep Saeful Muhtadi, Guru Besar Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dewan Redaksi Tabloid Alhikmah