Beriman Tapi di Tepian

Beriman Tapi di Tepian

0 52
ilustrasi

Oleh : Maharevin

ALHIKMAHCO,– Ada sebagian dari kita dengan mudahnya menolak paham Komunis, anti Marxis. Berada di garis terdepan melawan Liberalisme, Ahmadiyah, Syiah, atau paham sesat lainnya. Piawai membangun struktur berpikir dan cakap dalam beretorika. Baik menggunakan logika semata atau dengan hujjah Quran kendati sebatas pengetahuan.

Atau, dalam keseharian, kita bisa menolak godaan untuk tidak korupsi, minum-minuman, berlaku tak senonoh, dan berbuat hal-hal yang menurut kita menjijikan. Sebab memang kita sedari awal sudah sangat membenci hal itu, tidak terbiasa melakukan itu semua. Untuk hal-hal itu, kita masih dalam zona aman.

Namun, bagaimana bila godaan itu berwujud dalam rupa yang berbeda? Ia datang dengan sesuatu yang indah di pandang mata, yang baik dalam konsep berpikir. Terlebih, yang datang itu sangatlah imut, lucu, dan kitanya sendiri suka dengan hal itu. Dapatkah kita lepas dari cengkramannya?

Bisa jadi godaan itu tak langsung membuat kita ingkar pada-Nya. Tapi tatkala sudah bersinggungan dengan hal-hal yang kita sukai, akankah hati tak condong melakukan perbuatan-perbuatan yang melenakan? Atau, bagaimana bila kita harus mengerjakan perintah Allah yang kita tidak menyukainya?

Inilah yang dalam Al Quran disebut sebagai orang-orang yang beriman pada-Nya tapi berada di tepi jurang. Akankah ia memilih jalan kebenaran atau kesalahan, tergantung kecondongan hatinya.

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak dengan penuh keyakinan), jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu (keimanan) dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana berbaliklah ia kebelakang (menjadi kafir lagi). Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS Al-Hajj [22]: 11).

Syahdan, sungguh iblis dan konco-konconya sudah berjanji akan menyesatkan anak cucu Nabi Adam dari kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawah. Artinya dari segala hal tiada lubang peluang untuk bisa kabur dan lepas.

Berbicara tiga kategori godaan manusia; harta, tahta, si-eta, Mungkin godaan kita bukanlah pada harta atau jabatan, bisa jadi iman kita menjadi lemah tatkala berhadapan dengan si-eta. Pemaknaannya bisa apa pun, bisa seseorang yang kita cintai, sesuatu yang kita sukai. Atau misalkan, enggak sih ke si-eta mah masih biasa-biasa ajah, tapi ketika diiming-imingi jabatan, kita berusaha mati-matian meraihnya, hingga itu menjadi tujuan.

Lantas bagaimana agar kita bisa terlepas dari cengkraman godaan itu? Al Quran sendiri sudah menjawab dengan jelas, berpeganglah pada buhul (tali) Allah. Ikatkan diri kita pada hal-hal yang Ia ridhai.  Muarakan segala aktivitas, cara berpikir, kecondongan hati untuk lebih dekat kepada Allah Swt.

Maka pertanyaan selanjutnya, apa yang sang Khalik ridhoi? Jawabannya, masih di firman yang sama; Islam adalah garis hidup yang Allah ridhai. Tiada konsep hidup, cara berpikir, kecondongan hati yang Allah inginkan, selain hamba-hamba-Nya berada di jalan-Nya secara totalitas. Inilah yang kemudian disebut sebagai amal shaleh. Akal, hati, dan langkahnya taslim terhadap apa yang telah Ia gariskan. Suka atau tidak suka, berat atau ringan, sekalipun penuh resiko.

Sebab kegiatan apa pun, bila muaranya tidak menuju ke sana, Al Quran sendirilah yang berkata amatlah sia-sia. Shalatnya hanyalah siulan dan tepukkan semata, pangan yang ia makan menjadi tidak berkah, pundi-pundi rezeki yang ia cari dan ia bagikan menjadi tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah. Pun bila merajut rumah tangga, ketika visi misinya tidak ke arah menegakkan aturan-aturan Allah, namun tunduk merunduk pada nafsu, yang didapat hanyalah kesenangan fana semata; punya anak yang banyak, membesarkan anak, dan melihat satu per satunya menikah. Lalu ia sendiri akan menemui ajal yang takkan bisa ia elak. Apa yang bakal dibawa untuk bekal akhirat?

Hidup ini singkat. Di dunia ini kita hanya transit, sungguh sayang bila kita menukar kebahagiaan abadi dengan kesenangan dunia yang murah. Wallahu a’lam. []

*penulis adalah Jurnalis Alhikmah cum Alumnus Jurnalistik UIN Bandung angkatan 2008