Berdayakan Masyarakat untuk Menjadi Relawan Perubahan

Berdayakan Masyarakat untuk Menjadi Relawan Perubahan

0 263

(Komunitas Masyarakat Peduli Ayo Bantu (MPAB))

 

 

Syahdan, kekuatan negara terletak pada kekuatan masyarakat.Masyarakat yang mati tidak bisa menegakan negara yang hidup. Masyarakat yang lemah tidak akan mampu membangun negara yang kuat.

 

Begitulah bunyi dari penggalan pendapat Dr. Yusuf Al-Qardhawi. Kiranya penggalan itu sangat cocok bila dikaitakan pada komunitas yang satu ini, Komunitas Masyarakat Peduli Ayo Bantu (KMPAB). Komunitas yang kekuatannya berbasis pada masyarakat. Dari masyarakat, untuk masyarakat, oleh masyarakat.

 

“Komunitas Ayo Bantu adalah komunitas yang mengajak kepada setiap orang untuk selalu menjujung tinggi kepedulian terhadap sesama. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan sangat bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan,” ungkap inisiator KMPAB, Affandy Syahrial pada Alhikmah medio Oktober 2014.

 

Affandy berceritera berdirinya komunitas ini berawal dari musibah banjir ibu kota di tahun 2000. Masih ingatkah pembaca, kala itu pelbagai media ramai membicarakannya. Sebab, musibah itu kembali melumpuhkan detak kota megapolitannya Indonesia. Musibah tahunan yang selalu tak bisa dihindari kala hujan deras datang mengguyur dalam waktu yang cukup lama.

Di tahunitu, Jakarta bak lautan cokelat pekat. Aktivitas terhenti begitu saja, tak ada kendaraan mewah merantai seperti biasanya. Ibu Kota lumpuh seketika. Saat itu, tercatat ribuan warga belum menerima bantuan, bahkan banyak juga yang hilang terbawa arus, belum terselamatkan.

 

Sementara di tempat lain, kala mentari berada di podium tertingginya, Affandy dan Istri, Raudhotul Jannah, sedang menyaksikan siaran berita banjir di Ibu Kota.Melihat kota Jakarta lumpuh total dan banyak juga yang belum mendapatkan bantuan, hari itu juga, Affandy dan Istri memulainya dengan sehelai kain sobek yang bertuliskan “Posko Banjir Jakarta” dengan spidol merah dan ditempelkan di pagar rumah.

 

Sejam dua jam ditunggu, belum ada yang memberikan sumbangan. Kondisi itu berlanjut hingga satu hari penuh. Namun, Affandy tak putus harapan, sambil menunggu ia selipkan doa kepada Allah agar niat baiknya ini dimudahkan.

 

Subhanallah pembaca, di hari kedua gayung pun bersambut. Datanglah seorang ibu dengan dua kantong plastik berisi baju bekas. Alhamdulillah, Allah menjawab doanya begitu cepat. Hingga akhirnya, rumah Affandy mulai ramai dikunjungi, baik oleh masyarakat sekitar yang memang niat memberikan sumbangsihnya. Atau orang yang sekadar lewat, dan tergerak setelah membaca tulisan Posko Banjir Jakarta.Affandy dan istrinya bersyukur karena akhirnya niat baiknya itu dilancarkan oleh Allah.

 

Sore harinya, bantuan sudah terkumpul cukup banyak. Sayang bila tidak lekas disampaikan kepada yang membutuhkan. Namun bagaimana ini, sebab bantuan yang terkumpul terlampau banyak untuk dibawa dengan mobilnya? Di tengah kebingungannya itu, Allah kembali mempermudah jalan Affandy untuk menolong orang lain. Di pengunjung senja, datanglah perwakilan dari pengurus Masjid Jami Yarsi yang menawarkan kendaraan yang lebih laik dan representatif untuk membawa bantuan-bantuan tersebut. Maka selepas menunaikan salat Isya, berangkatlah Affandy dan keluarga menuju kawasan terparah yaitu Cipinang, Cawang dan Kalibata.

sedekah nasi dhuafa

 

 

Singkat kisah, tersampaikanlah bantuan tersebut kepada yang membutuhkan. Walau harus berjibaku dengan lelah dan bau sampah yang berserak, tapi ada selaput kebahagiaan yang merangsak masuk ke hatinya. Melihat senyum dan ucapan terima kasih, yang mungkin biasa pada hari-hari sebelumnya, menjadi terasa istimewa di saat itu.

 

Maka berbekal bismillah, Affandy mulai serius dengan gerakannya ini. Akhirnya, dua tahun setelah kejadian tersebut, KMPAB resmi berdiri dengan format yang lebih terbuka. Kepada Alhikmah, Affandy menyebutkan gerakan KMPAB ini terinspirasi dari Surat Al-Maidah [5]: 2, Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, tapi (kamu) jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

 

Maka dibuatlah beragam program kepedulian yang diampu oleh relawan-relawan setempat. Namun tetap, komunitas ini selalu membuat program yang erat kaitannya dengan Islam. Misalnya, Tebar Sedekah 1 SuRo (1 Susu dan 1 Roti) untuk 200 anak Yatim dan Dhuafa di 4 Kecamatan di Jakarta Pusat, pada 30 Juni 2013. Shodaqoh Nasi untuk dhuafa. Setiap Jumat dilaksanakan ke setiap pelosok kampung, Pelatihan Penulisan dan menghafal Mushaf Qur’an untuk Anak, setiap Ahad yang bekerjasama dengan Komunitas Cinta Musholla Dr.Purindro, Program Ayo Galang 100 Mukena dan Al-Qur’an untuk Pulau Rote untuk wilayah Papela, Desa Londalusi, Pulau Rote NTT Tahun 2013. Baru-baru ini, Bantuan pendidikan anak asuh untuk 5 orang, Wisata Edukasi untuk Anak Yatim dan Dhuafa, dan 1 SuJeRo (Satu Sarapan Susu, Jeruk dan Roti) untuk petugas kebersihan.

 

Bagi Affandy, meskipun banyak program yang bernuansa islamis, KMAPB ini juga tidak tutup mata meski harus menolong orang yang berlainan agama. “Sebagai seorang muslim, tentu harus memerlihatkan keindahan ajaran islam. Walaupun program kami kebanyakan untuk umat muslim, tak berarti di luar itu tidak kami bantu.”

 

“Kami menolong mereka atas nama Human Being” lanjutnya menandaskan.

 

Tapi pembaca, baik yang ingin berbuat mungkar atau ingin berlaku yang ma’ruf tetap mempunyai cobaan. Dengan kata lain, tidak semudah yang dibayangkan. Menjalani komunitas dengan menampung banyak bantuan dari segi materi, komunitas ini kerap kali mendapat fitnah dan tanggapan negatif juga.

 

“Banyak yang mengatakan, komunitas kami ini komunitas penipu berkedok aksi sosial. Tapi kami tak berang, kami buktikan kebenarannya dengan aksi nyata kami di lapangan. Selain itu, pengelolaan keuangan dikelola dengan transparan, sehingga donatur mengetahui berapa uang yang terpakai dan untuk apa saja,” paparnya.

 

Affandy semakin sadar, ternyata kenikmatan saling membantu itu tiada duanya. Nikmat itulah yang terkadang tidak bisa dijelaskannya sehingga rasa dan tekadnya untuk menolong tidak bisa dihentikan. Seakan rindu menghujam jika dirinya belum kembali ketempat mereka yang membutuhkan.

 

Wisata edukasi2

 

“Saya merasakan begitu nikmatnya berbagi, menolong, serta menyaksikan orang-orang sekitar bahagia mendapat sesuatu yang memang sedang dibutuhkan. Saat itu pula, saya bertekad untuk terus membantu semampu saya. Tak peduli berapa harta yang habis karenanya. Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik,” pungkas Affandy. (dhea/alhikmah/ed:kevin)

Komentar ditutup.