Berawal Menguak Keburukan, Berakhir di Ujung Kecintaan

Berawal Menguak Keburukan, Berakhir di Ujung Kecintaan

1 516
pic.google

 

 Daniel Streich, politikus Swiss, yang tenar lantaran kampanye menentang pendirian masjid di negaranya, tanpa diduga-duga, memeluk Islam.

Tahun 2009, Swiss benar-benar gempar. Dinginnya angin yang membelai jalan, membuat setiap orang merasakan gemetar hebat. Tak terkecuali, dirasakan umat Islam. Bukan lantaran angin yang menyergap kuduk, melainkan aksi seorang politikus besar, Daniel Streich yang mewacanakan penutupan semua Mesjid dan juga pelarangan pembangunan menara di Swiss.

Berita yang benar-benar menggemparkan Swiss. Politikus Partai Rakyat Swiss (SVP) itu sontak menjadi tenar. Wajahnya menghiasi media massa, baik dalam debat-debat TV, maupun lembaran media cetak. Partai SVP mendesak parlemen mengadakan referendum atas dukungan penutupan Mesjid dan juga pelarangan menara. Streich menjadi garda terdepan, mengawal ide tersebut.

SVP bisa dibilang sukses mengegolkan idenya. Melalui sebuah referendum (jajak pendapat) yang digelar pada 29 November 2009, mayoritas masyarakat Swiss memilih untuk mendukung ide pelarangan pembangunan menara masjid ini.

Hasil referendum menunjukkan lebih dari 57,5 persen pemilih dari 2,67 juta warga yang memberikan suara mendukung pelarangan itu, sedangkan 42,5 persen lainnya menentang. Sementara itu, sebanyak 22 dari 26 provinsi di Swiss memilih pelarangan pembangunan menara masjid.

Namun, setelah referendum berakhir, tersiar kabar bahwa sang politikus penggagas penentangan pembangunan menara itu telah menjadi seorang muslim (mualaf). Kabar itu datang pada awal tahun 2010. Kontan, deklarasi masuk Islam yang disampaikan Streich itu pun kembali menggegerkan partai dan rakyat Swiss. Mengapa orang yang getol membenci Islam, tiba-tiba malah jatuh cinta?
Padahal Streich sudah sangat dikenal dengan gerakan anti-Islam yang begitu meluas ke seantero negeri. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat Islam di negeri itu, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar dan kubah masjid.

Perihal masuk Islamnya Streich, kali pertama diturunkan oleh surat kabar Swiss berbahasa Jerman, 20Minuten, edisi 23 November 2009.

Sementara dalam edisi bahasa Inggris, kisah Streich ini pertama kali muncul di surat kabar Tikkun Daily edisi 4 Desember 2009.
Selama pecan-pekan berikutnya,  kabar mengenai keislaman Streich beredar luas di berbagai blog dan situs berita Muslim meski dalam berbagai versi.

Hingga akhirnya kisah tersebut muncul di situs surat kabar Pakistan, The Nation, pada tanggal 30 Januari 2010. Di surat kabar The Nation, Streich digambarkan sebagai politikus utama di Swiss yang aktif terlibat propaganda anti-Islam yang kemudian tiba-tiba menyadari kesalahannya dan memilih untuk masuk Islam.

Laporan yang diturunkan The Nation ini sontak membuat gempar publik Swiss, selain menciptakan kehebohan dalam politik di negara itu. Namun, hanya kepada 20 Minuten Streich mengungkapkan kisah sebenarnya bagaimana perjalanan dia  dalam menemukan hidayah.

Terpikat dengan Al Quran

Lahir di sebuah keluarga Kristen, Streich mengatakan “Saya sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan sering pergi ke gereja”. Streich mengaku bahwa dia sangat membenci Islam. Karenanya, dia sengaja mencari-cari ajaran Islam dalam Al Quran, agar ia dapat menunjukkan kelemahan-kelemahan Islam. Streich perlu mengetahui Islam agar dapat berargumentasi dengan kalangan Muslim mengenai berbagai hal tentang keimanan, termasuk dalam hubungnannya dengan ide-ide partainya yang menginginkan pelarangan menara masjid.

Ia melakukan studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Semakin dicari kesalahan, semakin ia menemukan kesempurnaan ajaran Islam. Ia semakin bingung dan tak percaya, bahwa ia benar-benar jatuh cinta kepada Islam

Akhirnya ia malah antipati terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya. Allah pun akhirnya memberikan hidayah, dengan menjadikan Streich tunduk memeluk Islam. Ia sempat merahasiakannya kepada kawan-kawannya di SVP. Saat referendum, Streich sudah memutuskan keluar dari SVP. Hingga, tersiarlah kabar bahwa dirinya memeluk Islam.

Sekarang ia membaca Alquran dan melakukan shalat lima waktu setiap hari. Dia membatalkan keanggotaannya di partai dan membuat pernyataan publik tentang keislamannya. Streich mengatakan bahwa ia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang tidak dapat ia temukan dalam agama sebelumnya.

Streich berubah drastis. Tidak ada lagi kata-kata pedas tentang Islam. Sebaliknya, sosok Streich yang baru lebih dikenal sebagai pribadi yang sangat berkomitmen terhadap Islam, rajin membaca Alquran, dan tak pernah melewatkan shalat lima waktu.

Bahkan, Streich bercita-cita ingin membangun sebuah masjid yang terindah di Swiss. Saat ini, ada empat masjid di Swiss dan Streich ingin membuat masjid yang kelima. Ia mengakui ingin mencari “pengampunan dosa” lantaran selama ini telah meracuni Islam. Subhanallah!

(mr/pelbagai sumber)