Berawal dari Membaca

Berawal dari Membaca

0 111
Asep Saeful Muhtadi

 

Oleh: Prof. Asep Saeful Muhtadi

ALHIKMAH.CO–Namanya Fatimah. Wanita shalihah itu lalu bergegas menuju rumah. Ada rasa cemas yang menyelimuti, seolah tak ingin ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan ia kerjakan. Setengah bersembunyi ia mengambil salah satu pojok yang tersedia di rumahnya yang amat sederhana itu. Perlahan Fatimah mengabil tulisan ayat-ayat al-Qur’an yang masih tercecer di daun-daun dan pelapah kurma. Fatimah memang sudah terbiasa membaca kalimat-kalimat al-Qur’an.

Pelan-pelan Fatimah membacakan ayat demi ayat yang ada dalam genggamannya. Dengan penuh perasaan, pesan-pesan Allah yang termuat dalam surah Thāhā itu diresapkannya dalam-dalam. “Thāhā. Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy” (QS, 20: 1-5).

Seolah ada kekuatan dahsyat. Bacaan itu semakin mengukuhkan pendiriannya menggenggam hidayah-Nya. Pesan-pesan yang terbaca dalam rangkaian kalimat-kalimat itu mengalir mengikuti perjalanan napas. Bukan saja bibir yang menyuarakan kata mewakili pesan Tuhan, tapi kalbunya pun ikut menggenapi kesadaran membaca huruf-huruf yang sarat makna. Memang Tuhan yang menyuruh membacanya. Bukan sekedar bacaan biasa. “Bacalah!”, seperti diserukan dalam surah al-‘Alaq yang menjadi pembuka kekuatan perubahan. Perubahan itulah yang kini menjadi khazanah peradaban yang tak tertandingi.

Fatimah. Meski secara fisik tampak lemah. Tapi jiwanya memiliki kekuatan luar biasa, kekuatan yang diperolehnya dari getaran bibir ketika membaca firman-firman-Nya. Maka, dalam keadaan seperti itu, Fatimah sendiri adalah sebuah fenomena yang pantas untuk dibaca. Kita bukan saja membaca apa yang Fatimah baca, tapi juga membaca perilaku yang diperankannya ketika ia menjadi saluran yang memfasilitasi aliran hidayah menembus hati siapapun yang dikehendaki-Nya.

Tidak lama kemudian, kakak kandungnya, Umar bin Khattab, datang. Seperti hari lintar. Umar berteriak memecah kesunyian suasana gubuk kecil tempat saat Fatimah berbincang dengan Tuhan. Ada perasaan cemas, bahkan takut. Bukan saja karena kakaknya tidak merestui tindakan Fatimah, tapi juga karena watak kasar yang menjadi pakaian sifatnya sehari-hari. Terbayang dalam fikiran Fatimah, siksaan fisik yang akan diterimanya. Sangat menyakitkan. Tapi Fatimah tak menghentikan perbincangannya dengan Tuhan. Bahkan ayat-ayat berikutnyalah yang semakin menguatkan keyakinannya. “Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang ada di antara keduanya, dan semua yang di bawah tanah.”

Umar terbakar hidayah. Bacaan Fatimah seolah menjadi energi yang sanggup melelehkan hatinya yang keras. Pelana-pelan hatinya mencair; tubuhnya roboh tersungkur, gontai mencari hamparan bersujud. Bibirnya bergetar menemukan kalimah thayyibah. Perasaannya mulai terpaut pada sosok bersahaja yang bernama Muhammad Rasulullah. Hatinya mulai menjerit memanggil sang kekasih Tuhan. Inilah kekuatan hidayah yang mengalir melalui bibir Fatimah. Fatimah bangkit menepis rasa cemas. Bahkan dia semakin lantang membacakan pesan Thāhā ayat berikutnya: “Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi”.

Benar. Tidak ada yang lebih perkasa, selain Kemahaperkasaan-Nya. “Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai asmāul husna, nama-nama yang baik dan indah” (20: 8). Dan dalam bentangan hidayah-Nya itu, Umar bin Khattab pun bersaksi, “tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah.” Sebuah kesaksian yang hampir tak terprediksi sebelumnya. Siapa yang mengira, sang perkasa itu bertekuk lutut di bawah kelembutan seorang Fatimah dalam naungan bacaan ayat-ayat-Nya yang indah dan sarat hikmah.

Lalu apa arti sebuah bacaan? Mengapa Allah sendiri yang membuka pemberian wahyu kepada Nabi Muhammad dengan perintah membaca? Kemudian sejumlah mufassir mengelaborasi kata “membaca” dengan tidak membatasi hanya pada bacaan teks, tapi juga konteks.

Di sinilah, saya kira, mengapa Allah mensejajarkan posisi membaca dengan perintah mendirikan shalat, seperti Allah sendiri gambarkan dalam salah satu firman-Nya, ”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat” (QS, 29: 45). Bahkan dalam shalat sendiri, dari awal hingga salam, seluruhnya dipenuhi dengan bacaan dan do’a. Lewat bacaan itulah seorang muslim akan menemukan identitas dirinya, menemukan kekuatan untuk mewujudkan cita-cita dan masa depannya.

Jadi, ironis memang, jika seorang pemeluk Islam tidak sanggup membaca kitab sucinya. Padahal dalam kitab suci itulah, sumber peradaban manusia ditunjukkan baik secara rinci maupun global. Hanya dengan membaca, menelaah, serta mengambil pelajaran dari al-Qur’an, setiap muslim dapat menjadikan dirinya sebagai muslim seutuhnya.

Maka, tidak ada lagi pilihan. Membaca al-Qur’an sejatinya menjadi tradisi kita sehari-hari. Tradisi yang pernah terbangun kokoh sejak pertama kali Islam datang ke negeri ini, harus tetap terpelihara utuh, mulai dari usia yang masih sangat belia, hingga usia menemui titik akhir. Al-Qur’an harus menjadi kekayaan masyarakat kita, masyarakat yang sejak awal pertumbuhannya dikenal sebagai masyarakat religius. Dan bukan kekayaan yang hanya sekedar diperlombakan, tapi perlombaan yang dapat memotivasi masyarakat untuk terus belajar dan membaca al-Qur’an.

Sekali lagi. Jika kita perhatikan bagaimana seorang Umar bin Khattab menemukan hidayah mahalnya, atau bagaimana peradaban Islam terbangun selama berabad-abad di daratan Baghdad, maka jawabnya, karena “membaca” telah berhasil membangunkan ketertiduran hati yang lelap melupakan realitas. Farimah-lah yang berhasil membimbing perasaan Umar, melunakkan kesadaran teologis untuk menemukan kembali ke-hanief-annya, menelusuri liku jalan kebenaran, paling tidak dalam konteks pesan yang dibacanya. Fatimah telah menebar hikmah, meluluhkan hati mentafakuri perjalanan diri dalam bingkai cermin kehidupan yang pernah dilaluinya.

Inilah kunci peradaban. Iqra telah membimbing umat manusia menemukan jati dirinya. Kita wajib membaca semua fenomena, semua naskah kehidupan, seluruh teks perjalanan orang-orang yang busuk ataupun yang patut diteladani, dan setiap huruf, kata, dan kalimat yang menjadi nasihat kebajikan. Inilah konstruksi bangunan peradaban yang seringkali hanya berawal dari yang kecil dan sederhana namun dapat saja melahirkan perubahan besar, seperti dalam kisah penaklukan Umar bin Khattab hingga terkapar dalam kemenangan hakiki, menjadi seorang muslim sejati.

Komentar ditutup.