Bediuzzaman Said Nursi, Wasilah Penghantar Cahaya Quran

Bediuzzaman Said Nursi, Wasilah Penghantar Cahaya Quran

0 12

ALHIKMAHCO,– Bulat sudah keputusan sang Bediuzzaman. Ulama yang masyhur karena kecerdasannya tersebut akan mengajukan sebuah proposal pada Sultan Abdul Hamid II. Di dalamnya, terdapat ide dan gagasan mengenai reformasi pendidikan yang akan kembali melahirkan pijar spiritual di hati masyarakat Turki. Ia hendak mendirikan sebuah madrasah bernama Al Zahra, terinspirasi dari Universitas Al Azhar yang tersohor itu.

Di matanya, Turki sudah terlampau menjauhi ajaran Islam. Masyarakat digerogoti sekularisme, berlomba-lomba mereguk hidup ala barat. Ditambah, gencarnya serangan ideologi yang memusuhi Islam telah begitu mendesak merongrong solusi. Bahkan, agama hanya dianggap sebagai simbol kemunduran negara.

Dan inilah yang ia coba tawarkan pada sang sultan. Sebuah pendidikan yang memadukan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Bediuzzaman Said Nursi menilai sains yang dibangga-banggakan itu perlu diimbangi ajaran Islam sebagai pondasi.

“Cahaya hati adalah ilmu-ilmu agama, dan cahaya akal adalah ilmu sains modern. Hakikat akan terlihat jelas dengan menggabungkan keduanya. Ketika keduanya terpisah, maka akan timbul fanatisme pada salah satu dan skeptisme pada yang lain.” katanya.

Namun sayang, berkali-kali mengunjungi Istanbul, berharap bersua dengan sultan, hajat itu tak kunjung terkabul. Kaum sekularis di sekitar sultan rupanya resah dengan yang dilakukan Said Nursi. Ada saja cara mereka untuk menjegal langkah sang keajaiban zaman.

Said Nursi tak patah arang. Ia mengambil jalan lain, maju terdepan menantang perdebatan-perdebatan akademik. Merobohkan siapapun yang mencoba meracuni umat dengan sekularisme. Said Nursi amat berharap ini dapat menghantarkannya penguasa negeri yang tengah di ujung tanduk itu.

Tapi, apa yang terjadi? Alih-alih bertemu sultan, ia justru diseret ke persidangan militer. Sikapnya yang keras dan selalu menantang itu dianggap mengancam, bahkan dituding mencoba menurunkan reputasi sultan.

Lantaran tak bisa membawa bukti apa-apa atas tuduhan tak berdasar itu, Said Nursi dipaksa masuk ke sebuah Rumah Sakit Jiwa. Mahkamah Militer menelan bulat asumsi pihak-pihak berkepentingan yang mengatakan Said Nursi gila. Namun di sinilah, pertolongan Allah menaungi sang bediuzzaman.

Dokter-dokter kebingungan, mengapa orang se-berakal sehat Said Nursi dibawa ke Rumah Sakit Jiwa? Di kemudian hari, ketika menyadari ada unsur politis dibalik masalah ini, para tenaga medis itu berusaha mengeluarkan Said Nursi. Di hadapan hakim, mereka bersaksi, “Jika Bediuzzaman dianggap gila, maka tidak akan ada seorang pun manusia yang waras di dunia ini.”

Said Nursi bebas, meski hingga akhir kekhalifahan Turki Utsmani, ulama besar asal Nurs itu tak bisa menunaikan cita-citanya mendirikan madrasah Al Zahra. Ini hanya awal dari pergerakan Islam yang ia lakukan. Pada pemerintahan sekuler Mustafa Kemal Attaturk, dakwah Said Nursi kian sulit.

Pemerintahan baru itu berniat mencabut hubungan Turki dengan segala bentuk ajaran Islam hingga ke akar. Tak hanya melarang pelajaran agama di sekolah, mereka juga membentuk mahkamah-mahkamah untuk menanamkan rasa takut di tengah masyarakat. Ulama-ulama yang menentang penguasa, tak segan dipenjarakan, diasingkan, bahkan dihukum mati.

Termasuk Said Nursi, yang kemudian menjalani pengasingan di Barla, karena dianggap membahayakan. Ia tinggal di sebuah kamar kecil terpencil yang terbuat dari kayu. Di masa awal pengasingan, masyarakat sekitar tak berani mendekati Said Nursi karena mata-mata Kemal Attaturk berada di mana-mana. Namun, keadaan itu segera saja berubah. Rumah itu kian bercahaya, menyedot orang untuk mendapat pengajaran Islam.

Selama ia berada di Barla, umat Islam tengah menghadapi tahun-tahun gelap. Mulut-mulut para ulama disumbat, dijegal agar berhenti membela akidah mereka. Asas-asas Islam dan prinsip dasarnya, telah banyak diingkari. Melihat kondisi itu, Said Nursi memutuskan untuk memikul amanah menyelematkan umat.

Hingga, kitab masterpiece-nya Risalah An Nur, lahir di desa kecil di sudut Turki Timur itu. Sebuah kitab berisi pancaran keagungan Al Quran, yang ia sebut sebagai upayanya  ‘menyelamatkan iman’ negeri itu. Kitab itu disebar melalui tangan murid-muridnya.

Ketika kelompok murid-murid sabf Bediuzzaman semakin meluas, risalah-risalah ini sampai ke desa-desa sekitar Barla. Kitab ini tersebar dan dipelajari secara rahasia. Dengan sembunyi-sembunyi, Risalah An Nur dibawa sampai pula ke kota-kota jauh. Ia mendapat tempat di hati dan jiwa yang haus akan hidayah.

Pemerintah mencurigai gerak-gerik Said Nursi. Usai delapan tahun menjalani pengasingan, Said Nursi diseret ke Mahkamah Eskisehir. Tuduhan-tuduhan tak berdasar, seperti membentuk organisasi rahasia, menentang pemerintah, serta membentuk tarekat, didakwakan atasnya. Meski pemerintah tak berhasil membuktikan tudingan itu, pengadilan tetap memvonis kurungan sebelas bulan pada Said Nursi.

Di dalam tahanan, Said Nursi dan murid-muridnya dibiarkan dalam kondisi tertekan. Selama 12 hari, mereka tak diberi makan. Bahkan, sekadar buang air kecil pun dilarang. Kendati demikian, Bediuzzaman Said Nursi tetap menggerakkan murid-muridnya untuk terus beribadah.

Ia menghibur para muridnya, menyatakan bahwa tempat itu adalah sekolah kesabaran, sebagaimana yang dialami Nabi Yusuf. “Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya,” kata Said Nursi, mengutip QS Yusuf: 42.

Setelah bebas pada 1936, Said Nursi kembali diasingkan. Kali ini, ia dibawa ke Kastamonu. Di tempat ini, ia kembali melanjutkan penulisan Risalah An Nur. Aktivitas menyalin kitab ini semakin tumbuh dan berkembang. Hingga akhir pengasingan di Kastamonu, perjuangan murid-murid Said Nursi itu menelurkan 600 ribu eksemplar manuskrip Risalah An Nur.

Juang panjang sang Bediuzzaman itu terus bergema, bahkan setelah ia wafat pada 1970. Dakwah ulama yang selama hidupnya dipakai mereguk luasnya ilmu itu tak berjuang sia-sia. Tak hanya Risalah An Nur, 3 ribu tulisannya yang bersumber dari Al Quran disebar pula ke tengah masyarakat. Mengetuk hati mereka yang merindukan kesejukan spiritual. (agh)