Batasan Izin Suami untuk Istri

Batasan Izin Suami untuk Istri

0 357

Assalamualaikum Wr Wb

Ustadz,, Saya mau bertanya,, apakah izin dari suami itu mutlak harus didapatkan? Semisal ketika ingin keluar rumah, menerima tamu, dan sebagainya? Bagaimana kalau seorang istri ingin menjenguk ibunya yang sedang sakit sedangkan suaminya tidak mengizinkan untuk pergi? Atau hal yang lebih kompleks dari itu? Sejauh mana istri mengikuti izin-izin suami? adakah hal itu termaktub dalam Surat atau hadits? Mohon penjelasannya

(Fina – Bandung)

Nikah itu dapat melahirkan sejumlah kebebasan dan sekaligus melahirkan sejumlah keterikatan. Sebelum nikah pria dan wanita bukan mahram tidak boleh sekamar berduaan, tidak boleh pergi jauh berduaan, tidak bebas memandang dan tidak boleh berbuat sesuatu yang dapat mengarah kepada zina. Setelah nikah semuanya menjadi boleh.

Tapi nikah melahirkan keterikatan, antara lain istri kalau pergi keluar rumah harus seizin suami juga pergi berapa lama dan berapa jauh yang harus mendapat izin dari suami? Islam tidak menetapkan jauhnya, tapi masing-masing kita bisa mempertimbangkan berdasarkan keamanan, kemanfaatan, kemaslahatan, tidak melanggar norma-norma ajaran Islam serta pertimbangan–pertimbangan lain yang menjadi kesepakatan suami istri.

Jadi pertimbangannya tidak hanya pada istri tapi juga pada suami. Artinya suami juga harus bisa mempertimbangkan untuk mengizinkan kepergian istri keluar rumah. Keluar rumah itu dengan siapa untuk apa, kemana, berapa lama dan bagaimana akibatnya? Sehingga suami bisa dengan ikhlas memaklumi, mentolelir istri keluar rumah walaupun tanpa izinya atau sebaliknya. Walaupun dekat dan tidak lama tapi akan melahirkan madlorot bagi istrinya atau bagi keluarganya, maka suami harus dengan tegas melarangnya.

Seperti yang dicontohkan tentang kunjungan seorang istri ke rumah orang tuanya yang sakit, mustinya suami tidak boleh mempersulit. Karena khidmat kepada orang tua itu wajib hukumnya. Kalau sampai terjadi kasus seseorang harus memilih mana antara khidmat kepada orang tua dan patuh kepada suami. Maka sebaiknya lakukan dengan penuh kearifan, sehingga seorang wanita tidak berdosa kepada suami dan tidak berdosa kepada orang tua. Kalau harus memilih salah satu maka pertimbangannya adalah mana yang lebih urgent dan mana yang lebih penting untuk dipilih dan mana yang tidak bisa ditangguhkan. [alhikmahco]