Barak Pengungsi Rohingya dan Memori Tsunami Nek Antiqah

Barak Pengungsi Rohingya dan Memori Tsunami Nek Antiqah

Pengungsi Rohingya menunaikan shalat ashar di pengungsian TPI Lapang, Aceh Utara pada hari Rabu (27/5/2015). (fajar shadiq/JITU)

NENEK Antiqah, wanita paruh baya itu masih terpekur di depan barak pengungsi Rohingya di Lapang, Kuala Cangkoi Aceh Utara. Matanya masih berkaca-kaca. Guratan wajahnya yang tak lagi muda seakan mengabarkan bahwa ada kesedihan yang begitu mendalam dalam lubuk kalbu sang wanita beriilbab biru. Di tatapnya lamat-lamat suatu di hadapannya dengan mata kepala sendiri dengan teramat.

Tetiba saja air mata tumpah ruah, melewati keriput pipinya, meleleh begitu saja, basah. Warga asli kampung Kuala Cangkoi ini tak kuasa membendung beningnya tetesan dari pelupuk matanya. Isaknya semakin menjadi, sesekali ia sembunyikan linangannya.

Mawardi, warga Lhokseumawe yang kebetulan sedang berada di sana mendekat Nek Antiqah, seraya berbisik pelan,“Apa gerangan? Sehingga nenek kelihatan begitu pilu, dengan tangisan dan perasaan sesak seperti ini, apa yang telah berlaku, Nek?,”

Sambil mengehela nafas, diam sejenak, wanita 70 tahun ini bersusah berucap. “Tidak” lirih Nek Antiqah, air mukanya sedikit tenang, “Saya sedang memerhatikan antrian panjang ini, memori saya telah kembali, ingatan tentang kejadian sebelas tahun silam telah menyesakkan dada, memilukan hati dan air mata tak sanggup saya bendung,” lanjunya.

“Ketika kami di barak pengungsian korban Tsunami dulu,” Nek Antiqah melanjutkan,”Nasib kami masa itu persis seperti yang saya lihat di depan mata saya hari ini,” lirihnya. Tatapan Nek Antiqah seakan menerawang masa silam. Dibukanya lembaran masa lalunya yang begitu jelas. Jelas sekali. Dengan mantap ia lanjutkan kisahnya.

“Dulu kami harus melewati antrean panjang untuk mendapatkan nasi dari dapur darurat seperti ini juga,” katanya sambil mengenang. Sambil menahan haru, dibuka kembali lembaran masa silamnya.

“Hingga tersirat sebuah pertanyaan, apakah mereka yang antri di bagian paling belakang akan sampai, di depan meja jamuan dan bisa menikmati makanannya? Karena sangat panjang, saya takut sekali tak tersisa… apa-apa lagi.. untuk mereka, saya takut ada yang tak sempat makan,” sambil terisak.

Mawardi yang berusaha menghibur Nek Antiqah pun berseloroh, “Boleh ambil satu anak untuk diasuh, Nek?” kata Mawardi sambil bercanda. Mendengar pertanyaan tersebut, Nek Antiqah hanya diam seribu bahasa. Lembaran memorinya kembali melompat, hingga bulir bening kembali menggumpat di sudut matanya.

Air mata meleleh deras, satu persatu membasahi tanah kering di bawahnya. Ingatannya masih melompat 11 tahun silam, saat Tsunami menghantam. Terkenang akan cucunya yang mungil, yang Allah selamatkan bersama dirinya, dari Tsunami yang menghancurkan seluruh rumah di Kuala Cangkoi, tempat kini para pengungsi Rohingya tinggal.

Lebih dari dua tahun, warga Kuala Cangkoi tinggal di barak-barak pengungsian, termasuk Nek Antiqah. Tangisnya kini semakin menjadi, teringat akan sang bocah, cucu kesayangannya yang malah hilang entah ke mana di lokasi penampungan.

Nek Antiqah
Nek Antiqah (foto: istimewa)

“Jangan…. jangan ambil…” lirih Nek Antiqah, dengan pipi yang sudah membasah. Mawardi pun ikut diam terpekur, sambil bergumam, ”Saya nggak tanya lagi, karena takut saya pun ikut menangsi,” kenangnya kepada tim wartawan media Islam yang tergabung dalam Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di Lhokseumawe, Rabu (27/5/2015).

Sang Nenek pun kembali mendekat ke posko bantuan, dengan keterbatasannya, berjalan jauh, ia pun memberikan bantuan kain-kainan seadanya. Nek Antiqah memang tak sendiri. Kuala Cangkoi masih menyimpan beribu memori, beribu  kisah, beribu kenangan tentang Tsunami. Dan dari perasaan senasib sepenanggungan, mereka kini begitu peduli pada para pengungsi Rohingya.