Balada Dokter Atheis yang Akhirnya Memeluk Islam

Balada Dokter Atheis yang Akhirnya Memeluk Islam

0 112

Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. Panik, tak tahu lagi harus bagaimana. Peluh dingin keluar dari pori-pori, membuat takut semakin menyelimut.

ALHIKMAH.CO–“Takut? Bukankah selama ini, aku tak pernah takut? Takut apa? Bukankah Tuhan itu tak ada? Ah tidak..kali ini aku benar-benar takut. Akankah putriku selamat? Aku benar-benar memerlukanMu, Tuhan! Tolonglah!” Batin Dr. Laurence Brown meraba-raba, kemana ia harus berpegangan? Tak kuasa ia melawan fitrahnya, mengiba pertolongan sang Kuasa. Di hadapan dia di ICU, Hannah, putri keduanya terbaring dililit belalai-belalai medis.

Laurence Brown, dokter kesohor Rumah Sakit George Washington University. Seorang atheis, yang memiliki putri bernama Christina. Sepuluh Bulan berlalu, sang istri kembali melahirkan seorang bayi, bernama Hannah. Brown dan istri sumringah, namun tak lama.

Brown paham betul dunia medis. Ia melihat gelagat Hannah yang semakin aneh. Dengan cepat wajah Hannah, yang tadinya berwarna merah, berubah pucat. Biru mulai menjalari pipinya. Lebam perlahan meraba tubuhnya. Tim medis pun langsung memasukkan Hannah ke ruang ICU (Intensive Care Unit).

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Bisik brown dalam hati.

Musim dingin tahun 1990 itu tak hanya menyergap kuduk Brown, tapi benar-benar membuat dirinya merinding. “Itulah kondisi anakku, dia sedang sekarat, tubuhnya lemas. Dan sebagai seorang dokter, aku mengerti apa artinya ini. Aku turut langsung membantu dalam melakukan operasi bedah jantung, aku tahu bahwa hampir pasti untuk anak ini, dia harus menjalani operasi bedah jantung, mereka akan membedah jantungnya, mereka akan menggantikan pembuluh darahnya dengan sebuah graft (saluran buatan) dan anak ini sedang sekarat.” Batin Brown, miris.

Brown sadar betul, jika pun anaknya selamat, kemungkinan besar buah hatinya itu harus menjalani operasi lagi untuk mengganti graft-nya (saluran buatan). Ketika bertumbuh dewasa dan pada akhirnya graft itu tidak akan mampu lagi menghidupinya, nyawanya hamper pasti tidak akan tertolong lagi. Hanya Mukjizatlah, yang benar-benar dapat menolongnya.

Emosi Brown begitu teraduk, ia ditenangkan oleh para dokter, dan dilarang untuk membantu melanjutkan operasi itu. Brown tertunduk, keluar ruangan operasi.

 

“Aku meninggalkan ruang Intensive Care Unit (ICU) dan aku berjalan di lorong, di samping ruang ICU ada tempat berdo’a. Dan aku masih mengingatnya dengan jelas ketika aku berjalan ke dalam ruangan itu dan berdo’a untuk pertama kalinya seumur hidupku dengan begitu tulus. Dan aku mengingatnya karena aku tidak pernah berdo’a dengan tulus sebelumnya.

 

Di sepanjang hidupku, aku selalu berkuasa. Jika ada sesuatu yang aku perlukan, aku tahu cara mendapatkannya. Jika ada sesuatu yang aku inginkan, aku tahu bagaimana cara mendapatkannya. Tidak pernah sekali pun dalam hidupku menghadapi situasi dimana aku tidak bisa mengatasinya, situasi dimana aku tahu bahwa aku sudah tidak punya harapan lagi,” kenang Brown.

 

Begitu memasuki ruangan do’a itu, tak terlihat satupun simbol-simbol keagamaan dan hal itu membuatnya merasa nyaman. “Ya Tuhan, aku tak tahu apakah Kau ada atau tidak. Tapi jika Kau ada, maka aku butuh pertolongan. Aku berjanji, jika Engkau menyelamatkan putriku, maka jika Engkau menuntunku kepada suatu agama, maka agama yang paling menyenangkan-Mu yang akan kuikuti,”Brown, khusyuk bermunajat.

 

Ini memang kali pertama Brown berdoa. Tapi ternyata, Tuhan bermaksud tak menjadikannya kali terakhir. Brown dengan mantap kembali ingin melihat kondisi putrinya, Hannah. Di sana, ia sangat kaget mendengar penjelasan konsultan bedah yang mengatakan bahwa putrinya akan baik-baik saja. Perkataan konsultan itu terbukti. Dalam waktu dua hari, kondisi bayi perempuan Brown menunjukkan kemajuan tanpa harus diberi obat-obatan dan menjalani pembedahan. Bayi perempuan Brown yang diberi nama Hannah itu selanjutnya tumbuh dengan normal seperti anak-anak lainnya.

Penuhi Janji

 

Setelah putrinya dinyatakan sehat, kini giliran Brown yang harus ‘memenuhi janjinya’ kepada Tuhan. Ia mengatakan, sebagai seorang atheis, mudah bagi Brown untuk membangun kembali ketidakpercayaannya akan eksistensi Tuhan, dan menyerahkan pemulihan putrinya pada dokter dan bukan pada Tuhan. Tapi Brown tidak melakukan itu. “Dalam perjanjian itu, Tuhan sudah menunjukkan kebaikannya, dan saya merasa juga harus melakukan hal yang sama. Tuhan sudah mengabulkan doa saya,” kata Brown.

 

Selama beberapa tahun Brown berusaha memenuhi “janji”nya, namun ia merasa gagal menemukan agama yang pas di hati. Brown mempelajari Yudaisme, beragam aliran Kristen, tapi tidak pernah merasa bahwa ia telah menemukan kebenaran. “Selama beberapa waktu, saya mendatangi berbagai gereja aliran Kristen. Yang paling lama, saya ikut jamaah gereja Katolik Roma. Tapi saya tidak pernah secara resmi memeluk agama itu,” tutur Brown.

Brown akhirnya memilih berdiam diri di rumah dan banyak membaca. Di masa-masa itulah, Brown mengenal al-Quran dan buku biografi Nabi Muhammad Saw yang ditulis oleh Martin Lings, “Muhammad, His Life Based on Earliest Sources”. Dari al-Quran yang dibacanya, Brown menemukan bahwa kitab suci umat Islam itu mengajarkan bahwa Tuhan itu hanya satu, dan nabi-nabi seperti Nabi Musa dan Yesus (Nabi Isa) juga mengajarkan tentang keesaan Tuhan. Sebuah konsep berbeda yang pernah ia temui dalam ajaran agama Yudaisme dan Kristen yang pernah dipelajarinya bertahun-tahun. Setelah membaca buku biografi Nabi Muhammad Saw. Brown juga mulai meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir.

“Tiba-tiba saja semuanya seperti masuk akal, seiring dengan keyakinan yang tumbuh itu. Kontinuitas rantai kenabian, turunnya wahyu, hanya satu Tuhan yang Mahabesar, dan lengkapnya wahyu-wahyu Allah dalam Alquran, tiba-tiba menimbulkan rasa yang sempurna. Inilah yang membuat saya kemudian menjadi seorang Muslim,” pungkas Brown.

 

Batin Brown pun tenang. Tuhan memenuhi janji-Nya, bahwa agama ini adalah agama yang Ia ridhoi.Hingga kini, sudah belasan tahun Laurence Brown menjadi seorang muslim. Selama itu, ia belajar satu hal, “Di luar sana banyak orang yang lebih cerdas dan pandai dibandingkan dirinya, tapi orang-orang itu tidak mampu mengetahui kebenaran Islam.”

(Rl/rol/dbs/ed:hbs)