Balada Anggayudha & Ibunda Tercinta: Dari Sudut Denpasar Menjemput Impian

Balada Anggayudha & Ibunda Tercinta: Dari Sudut Denpasar Menjemput Impian

0 220
anggayudha & ibunda (pc: istimewa)

Takkan terlupakan, ketika setiap hari saya bersama Mama bahu membahu jualan gorengan. Kalau malam Mama dari jam sepuluh sampai jam sebelas bikin adonan. Jam satu malam gantian Mama tidur, saya bangun goreng gorengan sampai jam empat subuh. Mama bangun nganter terus ke pasar untuk jualan dan saya berangkat sekolah.

ALHIKMAH.CO-Pendar cahaya senja di langit Bali. Jingga memesona. Debur ombak memekakkan telinga buah sapuan angin petang. Di salah satu ruas Denpasar, kencang berlari pemuda 17 tahun berseragam putih abu.

Garis mukanya kentara menyirat bahagia. Seolah berkata, tak ada yang bisa menghentikanku. Tak kenal lelah. Bulir keringat yang mengucur di kening, meluncur melintas pipi hingga menetes di pundaknya yang kukuh menerjang beban kehidupan.

Pemuda itu masih belum berhenti. Larinya tak mengendur. Tas yang digendong terapung-apung menepuk-nepuk punggungnya. Bak terus melecut semangatnya.

Mama. Ya, Mama di rumah yang membuatnya berlari sedemikan rupa. Pasalnya, hari itu, ia menenteng sekantung keresek berisikan besek makanan yang hendak ia beri untuk ibunda terkasihnya itu.

Setibanya di rumah, dengan nafas yang tersenggal, ibu menyambutnya dengan senyum yang tiada dua. Melipur semua letih sang buah hati. “Sudah pulang, Le?” tanya ibunda.

“Ini Ma, makanan buat Mama,” kata si anak seraya menyorongkan tangannya, menyerahkan keresek yang dijinjingnya.

Syahdan,  begitulah sepenggal kisah Anggayudha dan ibunya, Luluk Mujianti saat Angga masih duduk di bangku SMA. “Waktu itu, kelas 3 SMA, Angga sampai jadi marbot masjid. Dan kalau ada acara-acara, dia bisa dapet makan gratis. Terus makanan itu dikasih buat saya,” kenang Luluk kepada Alhikmah Oktober 2014 lalu.

Semua orang tahu, roda kehidupan akan terus berputar, dan Luluk paham, bahwa takdir manusia tak lepas dari campur tangan Yang Maha Kuasa. Termasuk ketika suaminya berpulang ke Rahmatullah, tak ada yang bisa dilakukan selain sabar dan tawakal.

Ya, sejak kepergian suaminya itu, hidup Luluk berubah 180 derajat. Semuanya jadi serba sulit untuknya. Terutama dari sisi ekonomi. Kebutuhan keluarga jadi begitu mencengkram, mencekik. Hingga puncaknya ketika Luluk harus menjual rumahnya yang terletak di Denpasar kemudian  pindah menetap ke rumah kontrakan di kawasan Badung, Jalan Cargo, Bali.

Namun satu yang tak pernah berkurang, justru kian menguat kala ‘kehidupan barunya’ mulai diarungi, adalah kehangatan dan kerekatan serta kekuatan bersama putranya, Anggayudha dan Bayu Raka Siwi.

“Mama bersyukur kalian tumbuh jadi anak-anak yang kuat. Tidak banyak mengeluh dan tumbuh menjadi anak yang hebat. Selalu bertumpu dengan keyakinan Allah. Semua yang Ia berikan tidak akan pernah salah,” Luluk, membesarkan hati kedua putranya.

 Azam Kuliah di ITB

Di rumah kontrakannya, Luluk menjual gorengan dan kue-kue basah. Membuka warung kecil-kecilan. Angga pun tak sungkan atau malu kemudian ikut menjual di kantin sekolahnya. Sehari, paling tidak Luluk bisa mengantongi tiga puluh sampai tiga puluh lima ribu rupiah. Warungnya pun tak ia tutup, alias buka 24 jam. Jika lelah menyergap atau malam tiba, dirinya tidur di bawah meja dan bangun jika ada siapa pun yang datang ke warungnya.

Di Bali, hidup Angga tak berubah. Baik kala sang ayah ada maupun ketika telah tiada. Tatkala ia tinggal di rumahnya di Denpasar ataupun setelah pindah kontrakan ke Badung. Ia tetap seorang pelajar. Berprestasi dan  keras berusaha mengejar impiannya mengenyam bangku kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). “Saya azamkan buat kuliah di ITB. saya pengen banget kuliah di ITB jurusan kimia,” kenang Angga, di waktu yang berbeda, seperti dikutip Alhikmah.co dari Tabloid Alhikmah Edisi 100.

Meski demikian, Angga tetaplah seorang Angga yang berprestasi, yang teguh mengejar cita-citanya, melanjutkan kuliah ke ITB. Tapi Angga sadar, jika nantinya harus memakai biaya sendiri, kondisi keluarganya jelas sangat tidak memungkinkan. Ketika ia ditanya ibunya perkara modal kuliah, dengan yakin Angga berucap, “Dengan doa dan karunia akal dari Allah, Insha Allah, bisa.”

Namun selalu banyak jalan menaklukkan Roma. Begitupun Angga, banyak cara yang ia yakini dapat menghantarkannya ngampus di ITB. Beasiswa. Ya, inilah salah satu ikhtiar yang bisa dilakukannya. Sebab ITB kabarnya membuka beasiswa bagi mereka yang berprestasi dan memiliki medali Olimpiade Sains Nasional.

Selama Angga berseragam putih abu, ia getol ikut Olimpiade Sains. Dan hasilnya ia sering menang untuk mengantarkannya ke tingkat Nasional. Prestasi lain selama SMA pun kemudian banyak ia dapatkan. Menang mewakili Bali barangkali menjadi hal biasa untuknya. Ada karya tulis di bidang kedokteran MIPA, Olimpiade Sains dan lain sebagainya. Sekitar delapan kompetisi ia menangkan.

Namun, pembaca, apa yang telah diraihnya itu ternyata belum bisa menjamin kepergiannya ke ITB. Beasiswa pemenang Olimpiade Sains Nasional dari ITB yang dikejar Angga pun ternyata dihapuskan. Baru di tingkat akhir SMA Angga mengetahui kabar itu.

Lagi dan lagi, Angga tak kenal menyerah. Berbagai macam informasi seputar beasiswa ia cari. Namun hasilnya, Angga harus gigit jari. Kegagalan demi kegagalan menghampiri Angga bertubi-tubi. Tapi apa iya Angga mesti mengurungkan niatnya kuliah di ITB?

Pada akhirnya, tanpa punya kepastian—selain yakin kepada Allah—dengan apa nantinya Angga membiayai kuliah dan hidupnya di ITB, angga tetap ikut ujian SPMB. Dan hasilnya positif, ia diterima di ITB.

Kebingungan pun melanda. Baginya, tak mungkin ia harus membebankan biaya kuliahnya di Bandung pada sang Mama. Setelah curhat dengan Mamanya pun, Mama menyerahkan semua keputusan kepada Angga.

Bi idznillah (dengan izin Allah: red), suatu hari sebuah media lokal di Bali mengendus keberadaan Angga. Prestasinya mewakili Bali dalam Olimpiade dan sederet prestasi lainnya coba dibuka ke publik oleh media tersebut. Lantas status Angga yang sudah lulus jadi Mahasiswa ITB lewat ujian SPMB dengan persoalan biaya yang belum dikantonginya pun tak luput termuat dalam berita media itu kemudian.

Ya, atas izin Allah, seorang pengusaha yang tinggal di Bali bernama Eli, mengundang Angga ke kediamannya sesaat setelah berita itu beredar. Dan apa yang Angga dapat? Ibu tersebut berniat jadi orang tua asuh Angga. Dari situ jugalah jalan terang menghampiri Angga. Semua peluh perjuangannya, semua kegagalan, semua do’a dan kesabaran Angga kontan dibayar Allah SWT, lewat Ibu Eli.

Angga diberangkatkan ke Bandung, menyongsong hari-hari yang sudah ia dambakan sejak lalu. Biaya kuliah, tempat tinggal, makan dan segala rupa biaya selama Angga kuliah, dengan penuh syukur ia dapatkan dari Ibu asuhnya itu. Meski semuanya berlangsung hanya selama satu tahun. Tapi itu semua lebih dari cukup, gumam Angga. Dan di tahun berikutnya, di tingkat kedua hingga selesai kuliah, Angga meraih Beasiswa Pemimpin Bangsa (BPB), Program Dompet Dhuafa Jabar – Sinergi Foundation.

 Buah Perjuangan

Perjuangan Angga kala itu tidaklah mudah. Bagaimana ia hidup dengan segala keterbatasn di kala SMA. Menjual gorengan buatan Ibunya hingga menjadi marbot masjid ia lakoni. Perjuangannya kuliah di ITB pun jelas tak mulus. Namun beginilah laku si pejuang, si pekerja keras. Lihat Anggayudha sekarang.

Dirinya lulus dari ITB tahun 2011. Satu tahun setelahnya, ia jadi direktur utama Lembaga Pendidikan Belajar Mengajar Conscience. dan penggerak, sekaligus CEO Sains Factory, perusahaan yang memproduksi mainan edukasi anak. Ya, di usia semuda itu.

Dan kala ia mengenang masa perjuangan sekolahnya dulu, “Masa-masa ketika saya sama Mama saling support dan saling bantu. Hal-hal di saat saya merasa bahwa saya yang harus melindungi Mama. Takkan terlupakan, ketika setiap hari saya bersama Mama bahu membahu jualan gorengan. Kalau malam Mama dari jam sepuluh sampai jam sebelas bikin adonan. Jam satu malam gantian Mama tidur, saya bangun goreng gorengan sampai jam empat subuh. Mama bangun nganter terus ke pasar untuk jualan dan saya berangkat sekolah. Dan di situlah saya benar-benar merasa menjadi tulang punggung keluarga, saya harus menjaga Ibu saya,” kenang suami Syarifatunnisa Nurul Hidayah dan ayah dari Nayra Khansa Yudha ini.

Buat Angga, ”Ibu bukan hanya ‘jalan kita numpang lahir’. Ia sosok yg harus dimuliakan, ia adalah nomor satu, setelah Allah dan Rasul. Sebisa mungkin jangan sampai mendurhakainya. Menggambarkan Ibu sebagai pahlawan, maka harus ada kalimat dan kata yang tepat untuk menggambarkannya,” tutur Angga.

Kembali ke Luluk, pembaca. Ia yang masih berada di Denpasar mengungkapkan pada Alhikmah bahwa ia bangga dengan anak-anaknya. Mereka tidak pernah menyesal dan tidak menuntut banyak hal. Mereka tidak malu dengan keadaan keluarga.

Satu yang kini selalu ditanamkan di hati Angga, atas semua yang dilakukan sang Ibunda padanya. “Jangan durhaka, siapapun beliau, apa pun profesinya. Seberapa salahnya Ibu kita. jangan sampai mendurhakai Ibu. Memang, ibu manusia biasa, pasti buat salah. Tapi jangan pernah melukai hatinya,” seru Angga.

Hidup memang pilihan; berjuang untuk hidup atau hidup untuk berjuang. Anggayudha telah memilih. “Kalau punya keyakinan itu jangan diubah, kejar sampai dapat! Jangan pernah mengeluh, kalau mengeluh pasti lumpuh. Kalau lelaki itu harus di depan!” begitu Luluk  berpesan. Dan itu sudah dilakukan putra kebanggaannya, Anggayudha.

(ajat/dea/alhikmah/ed: Kevin)