Bahas Permasalahan Umat, MHTI Gelar Kongres Ibu Nusantara ke-4

Bahas Permasalahan Umat, MHTI Gelar Kongres Ibu Nusantara ke-4

0 57

ALHIKMAHCO,– Muslimah HTI Jawa Barat menggelar Kongres Ibu Nusantara (KIN) ke-4 di Wisma Resko Nugraha, Ahad (18/12). Bertemakan “Negara Soko Guru Ketahanan Keluarga, Membangun Peradaban Khilafah Demi Terwujudnya Ketahanan Keluarga”. Acara yang diselenggarakan serempak di 83 kota seluruh Indonesia dalam rentang waktu 15-25 Desember 2016.

Acara ini merupakan salah satu dari sekian banyak kegiatan Muslimah HTI untuk memahamkan dan membina umat tentang pentingnya penerapan Syariah Isam. Acara ini digelar agar terwujud sinergisasi antara aktifis Muslimah HTI dan umat untuk menerapkan Islam dengan penegakan Khilafah.

Di hadapan tujuh ratusan peserta, Ustazah Siti Nafidah Anshory sebagai Ketua Muslimah DPD I HTI Jawa Barat,  menyampaikan lebih dari setengah penduduk Indonesia mengalami kemiskinan yang merupakan dampak dari abainya negara dan hal ini berbeda dengan peran negara dalam Islam.

“Islam telah menempatkan negara sebagai ra’in yaitu pengurus rakyat, tapi saat ini negara tidak lagi menjalankan perannya, justru menjadi pedagang. Negara membisniskan kebutuhan komunal dan menjual fasilitas layanan umum, inilah gambaran Negara Kapitalisme-Sekulerisme,” kata Ustazah Siti Nafidah.

“Solusi yang sekarang digagas yaitu pemberdayaan perempuan, jelas bukan solusi karena berdampak munculnya berbagai masalah lainnya lainnya seperti eksploitasi, pelecehan seksual, depresi sosial,” lanjutnya.

Dalam KIN ini, dibahas juga tentang permasalahan pendidikan, ekonomi, serta peradilan. Saat ini, Sekulerisme tengah mencengkram kita di berbagai bidang.

Banyaknya anak jalanan, kebodohan disebabkan karena mahalnya biaya pendidikan saat ini. Kaum ibu yang dipaksa menjadi mesin ekonomi karena kebutuhan hidup yang kian mencekik. Belum lagi, imbuh UstazahSiti Nafidah keberadaan media massa dalam menanam saham keguncangan keluarga dengan tayangan yang merusak.

unnamed

Permasalahan demikian pelik saat menyaksikan penerapan hukum di negeri ini yang bisa dibeli, terbukti dengan ketidakadilan penyikapan hukum antara pencuri kakap dengan penista agama. Belum lagi hukum di negeri ini pun tidak berdimensi akhirat, sehingga jauh dari keberkahan.

“Berbagai permasalahan yang menimpa perempuan, keluarga dan generasi semakin menunjukkan bahwa negara saat ini telah abai jalankan fungsinya,” katanya.

Termasuk menerapkan sistem ekonomi Islam yang menyejahterakan. hal ini, menurutnya, didukung dengan sistem peradilan mampu mencegah (zawajir) berbagai kegiatan maksiat dan mampu menebus dosa (Jawabir) para pelakunya, hukum yang berdimensi dunia dan akhirat, jika dilaksanakan akan mendatangkan pahala.

“Sejatinya, menjadi kewajiban negara  menerapkan sistem pendidikan berbasis aqidah Islam sehingga mampu mewujudkan generasi yang berkepribadian Islam. Negara pula yang akan menjamin kesejahteraan bagi para pendidik dan menyediakan sarana prasarana yang memadai,” pungkas Ustazah Nafidah. (pn/alhikmah)