Bagaimana Penentuan Awal Ramadhan?

Bagaimana Penentuan Awal Ramadhan?

0 69
ilustrasi hilal (www.panoramio.com)

ALHIKMAH.CO–Penentuan awal dan akhir Ramadhan merupakan hal yang penting. Karena penentuan awal dan akhir Ramadhan akan menyangkut dengan ibadah kita dibulan Ramadahn, khususnya puasa dan tarawih.

Di Indonesia sendiri, penentuan awal dan akhir Ramadhan biasanya dilakukan setelah para pemuka agama melakukan sidang Isbat. Sejatinya, penentuan awal dan akhir Ramadhan dapat dilakukan melalui salah satu dari tiga cara yatu  Rukyatul hilal ( melihat bulan sabit ), menyempurnakan bulan sya`ban manjadi tiga puluh hari dan memperkirakan bulan sabit.

Rukyatul hilal.

Cara ini dilakukan dengan melihat hilal (bulan baru/sabit) setelah ijtima’ (konjungsi) dan setelah wujud/muncul di atas ufuk pada ahir bulan dengan mata telanjang atau melalui alat. Cara ini berdasarkan sabda Rasulullah saw:

“Janganlah berpuasa (Ramadhan) sehingga kalian melihat hilal dan janganlah berhari raya sehingga kalian melihat hilal.” ( HR Bukhori dan Muslim)

Cara ini merupakan cara yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh semua orang sepanjang yang bersangkutan tidak termasuk cacat penglihatan. Hal ini sangat sesuai dengan kondisi ummat pada awal keisalaman dimana mayoritas kaum muslimin pada waktu itu masih banyak yang belum bisa baca dan tulis.

Jumhur ulama mencukupkan bahwa hasil rukyat yang dilakukan seorang muslim yang dapat dipercaya dan tidak cacat dalam agamanya (adil) dapat dijadikan sebagai landasan untuk memutuskan tentang awal bulan Ramadhan. Hal itu berdasarkan hadits Ibnu Umar dia berkata bahwa ketika semua orang sedang memantau awal bulan maka sayalah yang melihatnya, lalu saya laporkan kepada Nabi kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  berpuasa dan menyuruh seluruh kaum muslimin untuk berpuasa”. ( HR Abu Dawud, al-Baihaqi dan ad-Daruquthni ).

Memperkirakan bulan sabit.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:

“Janganlah berpuasa (Ramadhan) sehingga kalian melihat hilal dan janganlah berhari raya sehingga kalian melihat hilal, apabila terhalang olehmu mendung maka perkirakanlah” ( HR Bukhori dan Muslim).

Pendapat Abul Abbas Ibnu Siraj dari kalangan ulama Syafi`iyyah, mengatakan bahwa orang yang mengetahui awal Ramadhan melalui ilmu falaqnya, maka dia wajib berpuasa. (lihat al-Majmuk oleh an-Nawawi; 6/279,280).

Cara ini untuk penentuan awal bulan mengundang perhatian lebih luas bagi para ulama kontemporer dan ahli dengan berkembangnya ilmu falaq modern. Sebagaimana dikutip oleh alQardhawi dalam risalah Ramadhan dimana sebagian ulama besar pada abad modern ini seperti Ahmad Muhammad Syakir, Mustafa Zarqa` berpandangan bahwa perlunya ummat Islam beralih dari cara yang sederhana menuju cara yang lebih modern dan terukur dalam menentukan awal bulan Ramadhan yaitu dengan berpedoman kepada ilmu falaq modern yang mana teori-teori yang dibangun berdasarkan ilmu yang pasti dan perhitungan yang sangat teliti.  Memanfaatkan falaq modern ini dimaksudkan sebagai pendukung melakukan rukyat hilal, dan rukyat hilal sebagai dasar utama penetapan bulan Ramadhan dan Syawal.

Menyempurnakan bulan Sya`ban manjadi tiga puluh hari 

Ketika para perukyat tidak berhasil melihat hilal pada tanggal 29 bulan Sya`ban baik keadaan langit berawan, mendung atau cerah, maka cara menentukan awal bulan Ramadhan dalam keadaan seperti ini adalah menjadikan bilangan bulan Sya`ban menjadi tiga puluh.

Pandangan ini didasarkan kepada hadits dari Abu Hurairah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “berpuasalah jika telah melihat hilal dan berharirayalah bila telah melihat hilal, apabila terhalang oleh mendung maka sempurnakanlah bulan sya`ban menjadi tiga uluh hari”. (HR Bukhori dan Muslim).

“Bulan (sya`ban) itu dua puluh sembilan malam, maka jaganlah puasa hingga kalian melihatnya (hilal) apabila terhalang olehmu mendung maka sempurnaan menjadi tiga puluh malam” ( HR Bukhori ) 

Semoga bermanfaat. [dini/alhikmah]

Sumber:  Fiqih Panduan Ibadah Ramadhan/Penyunting Iman Santoso, Lc