Bagaimana Cara Merelakan Suami Berpoligami?

Bagaimana Cara Merelakan Suami Berpoligami?

0 772

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ustadz yang Insya Allah senantiasa dirahmati Allah, saya seorang wanita yang sudah berkeluarga sekian lama. Belakangan ini, saya mulai berpikir jika suami saya mungkin saja suatu waktu nanti menikah lagi. Sebagai seorang wanita biasa, tentu saja bersamaan dengan pikiran itu, rasa hati ini begitu cemas. Bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi? Bagaimana saya harus bersikap nanti jika suami saya sampai melakukan poligami sebelum dan sesudahnya? Mohon pencerahannya, ustadz.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

SMW di Pandeglang – Banten

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullaahi wabarakatuh.

Ibu SMW di Pandeglang, pertama-tama yang harus kita pahami adalah, bahwa hukum poligami adalah hukum yang sudah ditetapkan Islam.

“…….., maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (Q.S. An-Nisa : 3)

Sehingga seperti halnya hukum-hukum Islam yang lain, maka setiap orang mu’min harus mengakui itu sebagai sebuah aturan Allah SWT. Artinya, jikalau mengkufuri hukum ini, maka yang bersangkutan jatuh kafir. Walaupun ia masih melakukan kewajiban ibadah-ibadah lainnya, semisal: shalat, puasa, dan lainnya, kalau dia sudah menganggap hukum ini adalah hukum yang menzalimi wanita, maka sudah gugur keimanannya.

Meski demikian, bahwa saya memahami poligami dalam Islam, kalau boleh diibaratkan betapa syarat adil itu sangat sulit dilakukan. Seperti firman Allah dalam Alqur’an, yang artinya:

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. An-Nisa : 129)

Artinya Allah ingin menyatakan bahwa pintu poligami ini jangan dibuka, kalau tidak dalam keadaan yang memang sudah darurat. Hingga saya menganggap hukum poligami itu pintu darurat. Suatu waktu memang harus dibuka, manakala dalam situasi dan kondisi darurat.

Dulu, di akhir Perang Dunia ke-II, wanita-wanita Jerman turun ke jalan menuntut perubahan kebijakan pemerintah tentang larangan poligami. Hal tersebut disebabkan karena banyak para janda yang ditinggal mati suaminya. Andaikata Islam tidak menyiapkan, maka bagaimana Islam menjawab kondisi darurat seperti itu.

Contoh lain kondisi darurat: ketika pasangan suami istri yang telah sekian lama membangun rumah tangga, namun belum juga dikaruniai anak, tersebab ada kelainan pada diri sang istri. Padahal, sang suami sangat mendambakan keturunan. Tentu saja, Poligami menajdi salah satu alternatif solusi yang dapat ditempuh untuk menjawab persoalan seperti ini.

Selanjutnya, tentang kekhawatiran Anda bahwa mungkin saja suatu waktu nanti suami berpeluang menikah lagi, itu sah-sah saja. Namun, hemat saya, kecenderungan seorang lelaki berpoligami itu sebagian di antaranya lantaran tidak menemukan sesuatu yang dia inginkan pada diri sang istri. Logika sederhana, apa perlunya mencari dari wanita lain, jika semua ada pada istrinya?

“Bila engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu! Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal yang dimiliki oleh wanita yang engkau lihat itu.” (H.R. At-Tirmidzi).

Maka, kemudian, jawablah kekhawatiran itu dengan mempersiapkan diri semaksimal mungkin agar suami tidak memiliki alasan untuk berpoligami. Mempersiapkan diri di sini, tentu saja bukan sekedar mempercantik fisik. Lebih dari sekedar itu, bagaimana menjadi seorang istri yang benar-benar menjadi belahan jiwa suami. Sosok yang membangkitkan optimisme menggapai keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.

Menukil seorang ahli hikmah: “Seringlah-seringlah Anda melihat wajah Anda di cermin. Jika Anda melihat wajah Anda itu kurang cantik, percantiklah dengan akhlak yang baik. Jika Anda melihat wajah Anda itu sudah cantik, ya jangan dirusak dengan akhlak yang kurang baik.”