Bacalah, dengan Cara Pandang Allah

Bacalah, dengan Cara Pandang Allah

0 110
ilus: dfiles

Dengan menyebut asma Allah, Rabb.. Sang Pencipta..  

Bacalah…

Mari kita membaca dengan menyebut nama Allah. Bukan sekadar melafalkan asmaNya. Karena yang demikian mudah adanya. Sering pula kita melakukannya. Apalagi ketika dalam keadaan terhimpit. “Ya Allah,, Allah,, Allah..” Benarkah kita tengah memangil-Nya?

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakanmu. Yang kemudian dengan itu menjadikan kedudukanmu sebagai makhluk. Sebagaimana buah ciptaan lain-Nya. Binatang, tumbuhan, lautan, gunung. Langit, planet, bintang, hingga alam semesta yang lebih luas, yang tak lagi kasat di mata.

Perhatikan, alam dunia di sekeliling kita. Atau bila memungkinkan, teroponglah langit dan semesta sejauh yang bisa kita cermati. Galilah tanah sedalam yang bisa kita gali. Dalami lautan sejauh yang bisa kita selami.

Lihat, tentang semesta dan seisinya yang kita tahunya sudah ada begitu saja, bergerak dengan sendirinya. Perhatikan juga, kekayaan alam di perut bumi. Aneka binatang yang belum pernah kita temukan. Lalu, bacalah dengan menyebut nama Allah. Benarkah ke semuanya itu muncul sendirinya?

Kemisteriusan alam raya yang bergerak dalam harmonisasi yang kompleks. Derap demi derap saling berarak serempak, tak ada mata yang tak kesilap dibuatnya. Satu ke sini dua ke sana, yang lain berjalan sesuai garis peredarannya.

Hanyalah satu kekuatan yang Maha, yang dapat mengatur semua ini. Tak berbilang tak berawal. Dialah Allah yang Maha Pengatur lagi Maha Kekal.

Gugusan bintang dijaga jaraknya, peredaran planet jelas ke mana tiap detiknya, atau takaran udara yang pas di satu tempat, Dialah yang telah menetapkannya secara terperinci. Hingga daun yang jatuh dengan lembut di malam hari pun, Ia tahu. Apalagi cuma aliran air yang kemudian menyatu dengan lautan.

Seolah semua ini berlalu begitu saja, mereka bergerak seperti tanpa komando. Namun, bukankah barisan yang teratur itu, pasti ada yang menginstruksikannya? Dan semuanya taat pada instruksi yang telah dikumandangkan entah sedari kapan.

Atau apabila terlalu jauh dan teramat susah meneropong apa-apa di luaran sana. Cobalah melihat diri sendiri. Mengilas kehidupan di saat kita belum berwujud bayi. Perhatikan proses demi proses yang terjadi secara alami. Bagaimana sel sperma berjuang mencari sel telur. Kemudian masuk, lalu berlipat menjadi banyak, dan masing-masing tahu perubahan dirinya. Ada yang menjadi jari, kaki, badan, daging, otot, dan sebagainya.

Dengan menyebut asma Allah, adakah kekuatan lain yang bisa memproses itu? Dokter? Teknologi? Bukan. Tiada lain hanyalah Allah yang Maha Terpuji. Dengan kasih sayangNya, Ia proses satu demi satu, hingga saat berhasil keluar pun, semata atas kehendak Rabbul ‘alamin.

Maka pantaslah kita memuji kebesaran Allah Ta’ala, sekaligus menghina dinakan diri sendiri di hadapanNya, hanya padaNya. Dokter yang ratusan kali berhasil melakukan operasi, bila ilmunya bukan Allah yang memberikan, dari mana? Bagaimana bisa seorang ibu yang belum punya pengalaman melahirkan, lalu di tengah jeritan yang luar biasa memekik, bisa selamat melahirkan sesosok manusia kecil yang juga tiba-tiba menangis. Mengapa bayi itu tidak tertawa, seolah dia bahagia bisa berjumpa dengan ibunya? Tiada jawaban lain, selain karena itu semua kuasa dan kehendak Allah. Qudrah dan iradahNya.

Kuasa dan kehendakNya adalah kata-kata yang juga karib di telinga. Terkadang kita salah kaprah, seolah keterpurukan yang kita alami, ketersesatan jalan yang kita pilih, juga adalah kehendakNya. Hingga dengan pongah dan zalim kita menyalahkan Tuhan sendiri. Naudzubillah.

Karenanya, bacalah dengan nama Allah yang kedudukannya sebagai Rabb alam semesta. Yang berkuasa dan berkehendak atas ciptaan-ciptaanNya. Dia menentukan di rahim mana kita kan dilahirkan. Kita tak bisa memilih siapa orang tua kita.

Seandainya kita merasa diri berkuasa, mengapa saat di alam ruh tak menyalak pada malaikat, untuk nanti saja ditiupkannya. Atau mengancam agar disegerakan kendati usia janin calon ibu kita masih seminggu? Saudaraku, itu semua bukti bahwa kita memang tiada upaya. Atau dengan kata lain, kita ini lemah. Allah yang Maha Kuat, Allah yang Maha Bisa.

Lantas, pantaskah kita menyalak di dunia? Mengenakan jubah kesombongan hanya karena memakai selimut jabatan yang lebih tinggi tinimbang lainnya? Atau sebaliknya, kita merendah diri di hadapan sesama, berputus asa atas segala nikmat? []

Senandika Maharevin, Penulis adalah Jurnalis Tabloid Alhikmah cum alumnus UIN Bandung

Komentar ditutup.