Azam Berhijab Sang Traveller

Azam Berhijab Sang Traveller

0 28

ALHIKMAHCO,– Membincang hijab, pastilah memiliki banyak ceruk pengalaman yang bisa diceritakan. Apalagi bagi seorang mualaf seperti saya. Lahir dari keluarga Kristen tentulah memiliki stigma tersendiri. Terhadap perempuan muslimnya saja sudah ada pandangan yang lain, terlebih kepada mereka yang berhijab. Baik saya pribadi ataupun keluarga secara keseluruhan.

Awalnya saya menganggap hijab sangat mengekang kehidupan seorang perempuan. Dengan hijab kita tidak bisa bebas melakukan apa pun yang kita mau. Gerak kita akan terbatas dengan pakaian yang kita kenakan.

Belum lagi bagi traveler seperti saya. Traveling sudah menjadi hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan. Mengapa? Karena saya bisa sowan ke ragam destinasi yang belum pernah saya temui, atau hanya dilihat dalam layar kaca. Singgah di lokasi-lokasi yang indah. Bukankah dengan berhijab akan sangat mengganggu aktivitas?

Kekeliruan cara berpikir saya itu, perlahan mendapat jawabannya. Terlebih ketika saya mulai memutuskan berpindah agama, meyakini Islam sebagai keyakinan terakhir. Pada akhirnya, hijab saya pandang sebagai konsep yang menarik. Sejuntai kain yang melindungi kehormatan kaum perempuan.

Pendapat ini tentu tak tersimpulkan begitu saja. Mungkin, seperti perempuan muslim lainnya, saat berhijab pun saya mengalami proses yang tidak mudah. Terlebih tantangan itu datang dari keluarga.

Meski pada saat itu saya sudah mualaf, namun tak serta merta menjadikan saya langsung siap mengenakan hijab. Entah mengapa, seolah hati memang belum siap saja untuk menutup aurat.

Kendati demikian, teman-teman saya yang muslim tidak juga begitu menekan dengan perkataan, “Oh kamu harus mengenakan hijab.” Akan tetapi mereka membahasakannya dengan, “Tidak apa-apa jika kamu belum mengenakan hijab.”

Di akhir, saya kemudian berpikir bahwa ini adalah tips bagaimana menjelaskan Islam secara perlahan kepada orang yang baru masuk Islam. Tidak menekan mereka untuk melakukan semuanya, karena ini bisa menjadi bumerang dan mereka bisa meninggalkan agama yang indah ini.

Ketika hasrat berhijab itu mulai tumbuh, Allah pertemukan saya dengan ujian lainnya. Siapa lagi kalau bukan berhadapan dengan pendapat keluarga. Mereka sangat tidak menyukai saya berhijab. Pada masa itu saya masih mencoba mengalah, berusaha mengerti cara pandang mereka walaupun itu menyakitkan.

Apa yang saya lakukan? Saya menutupi rambut dengan memakai topi, untuk shalat pun harus dilakukan dengan rahasia. Pada waktu itu, saya juga masih buka – lepas hijab. Sampai akhirnya ada rasa cemburu yang meletup-letup tatkala melihat perempuan muslim yang bisa mengenakan hijab secara sempurna. Kecemburuan Inilah yang kemudian, membuat saya berazam untuk berani berhijab dan tidak akan melepaskannya oleh alasan apa pun.

Setelah dua tahun saya bersusah payah dengan hijab dan keluarga, mereka tidak menerima saya berhijab. Saya hanya bisa mengatakan bahwa hijab adalah bagian dari kehidupan saya, saya merasa telanjang bila tidak mengenakan hijab.

Setelah saya berhijab, orang-orang mulai melihat saya dengan tatapan picing, bahkan saya mendapatkan pemeriksaan ekstra di bandara. Orang-orang bertanya-tanya karena saya ‘kulit putih’ dan mengenakan hijab.

Tapi, sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, reaksi kebanyakan masyarakat terhadap hijab bisa dikatakan cukup positif. Saya diperlakukan cukup terhormat dan saya hampir tidak memiliki masalah kepada siapapun.

Orang-orang menerima dengan baik saya berhijab. Dan saya rasa bukan karena hijab yang mengganggu mereka. Itu semua tergantung bagaimana kita bersikap. Jika kita bangga dan percaya diri, terbuka, dan yang paling penting menjalankan sunnah, tersenyum. Saya rasa kita tidak akan mendapatkan masalah.

Ya, saya tidak bisa mengatakan itu buruk. Sebab, imej itu dipotret oleh media barat dan menjadikan hijab menjadi bias. Jadi wajar ketika secara alami banyak yang merasa gelisah, terbodohi oleh frame yang dilakukan media sekuler.

Menghadapi itu, saya selalu tersenyum, tetap bersikap sopan. Muslim itu adalah orang-orang yang baik dan tidak ada yang perlu ditakutkan.

Saya juga seorang blogger, saya mempunyai website bernama MuslimTravelGirl.com. Di sana ragam pengalaman jalan-jalan saya. Web itu juga merupakan sebuah proyek untuk teman saya. Mereka selalu saja bertanya bagaimana saya bisa melakukan perjalanan yang berkesan dengan ongkos yang terbilang murah.

Sebagai blogger, saya mempunyai banyak pembaca non-muslim dan sejauh ini komentar mereka baik-baik saja. Saya percaya bahwa merasa terbatasi kebanyakan berasal dari pikiran dan saya menyadari itu telah menghilang. Pada kenyataannya, sering kali hijab membuat hidup saya lebih mudah. Saya mendapatkan pelayanan yang baik hanya karena saya mengenakan hijab. Saya pikir laki-laki khususnya non-muslim secara otomatis akan lebih menghormati kita. Sungguh menyenangkan melihat dan menyadari mengapa Allah menyuruh perempuan untuk berhijab.

Saya sangat bangga menjadi seorang muslimah. Islam adalah agama yang hebat, meskipun seringkali umatnya tidak mempraktekkan apa yang ada di dalam ajarannya. Islam adalah agama yang damai, keadilan sosial dan memberikan hak-hak untuk perempuan. Saya selalu berpikir betapa diberkahinya kita.

Saya ingin, saudara-saudara saya, khususnya yang perempuan untuk tidak merasa malu dan merasa bangga mengenakan hijab. Kita bisa menjadi apa pun yang kita inginkan dan kita tidak harus ditentukan oleh apa yang kita pakai melainkan dengan apa yang kita katakan.

Sebagaimana yang dikisahkan Elena Nikolova, Muslim Travel Girl, pada jurnalis Alhikmah Aghniya