Asa Pusat Peradaban di Sudut Bandung

Asa Pusat Peradaban di Sudut Bandung

0 40
pic by tandapagar.com

ALHIKMAHCO,– Apa yang terpikir ketika mendengar kajian Islam untuk anak muda? Tak salah jika salah satunya mengarah pada Masjid Al Lathif Bandung. Ya, masjid ini sedikit banyaknya telah menginspirasi ragam muslim muda untuk berhijrah dan memakmurkan masjid. Kegiatan taklim dan jumlah jamaahnya tak kalah dengan masjid yang lebih dulu kesohor seperti Masjid Darut Tauhid, Masjid Istiqomah, dan Masjid Pusdai Bandung.

Di antara anak muda yang juga turut tercelup oleh darah semangat perubahan ini adalah Fahmi Fauzan lewat Komunitas Pemuda Al Ashr Soreang Bandung. Nah, bagaimana sepak terjang komunitas ini? Apa saja yang dilakukan komunitas ini? Alhamdulillah, Alhikmah berkesempatan berbincang di sepenggal siang yang santai, menggali ceruk inspirasi dakwah darinya.

“Bandung ini kan banyak kajian yah, banyak pemuda dan masyarakat yang dari Bandung selatan dan lainnya merapat ke kota. Saya terpikir bagaimana kalau di daerah saya juga dijadikan pusat kajian, pusat peradaban,” kata Fahmi sapaan karibnya.

Hal ini dikarenakan, Masjid Al Ashr tersebut merupakan masjid yang letaknya strategis dan cukup besar. Setiap Jumatan sering kali tidak tertampung. Ini yang membuat lelaki kelahiran Bandung 7 April 1992 merasa optimis akan mimpinya.

“Dulu-dulu, Masjid Al Ashr cukup ramai, kebanyakan oleh para pekerja dan juga musafir. Kendati demikian untuk kajian-kajian rutin dan tabligh akbar juga suka ada. Cuma yang belumnya itu pemuda. Itu mengapa gerakan saya ini lebih dikhususkan ke sana,” lanjut Fahmi.

Ia tak menampik bagaimana masih mirisnya kondisi pemuda di zaman ini. Banyak yang jauh dari masjid kendati jumlah dan kondisinya jauh lebih representatif. “Ya, ini kan salah satu tanda kiamat yang baginda Rasulullah sebutkan. Masjidnya besar-besar, megah nan cantic, secara kuantitas juga meningkat, tapi tidak signifikan dengan jumlah pengisi shaffnya terbilang sedikit. Banyak pemuda yang menghabiskan waktu luangnya dengan kongkow dan melakukan kemaksiatan lainnya,” katanya.

Karenanya, imbuh Fahmi, bagaimana masjid menjadi destinasi yang dicintai anak muda. Ketika lagi galau, larinya ke masjid untuk shalat dan berdoa.

Dorongan yang dialami Fahmi juga bukan hal yang terjadi begitu saja. Ia mengutarakan sebelum membangun Pemuda Al Ashr, ia kerap aktif di pelbagai kegiatan aktivis dakwah. Di antaranya Santri Siap Guna program jebolan Pesantren Darutt Tauhid Bandung. Ia juga sempat melakukan ragam baksos.

Dari sanalah bekal-bekal keislamannya tertanam. Ia mulai mengenal hijrah dan jatuh cinta dengan dakwah.

Melihat keaktifannya ini, salah seorang uwanya ‘menyindir’ halus. Kenapa memakmurkan masjid lain, tapi masjid di daerah sendirinya enggak?

“Kalimat itu menyadarkan saya juga untuk berkiprah di masyarakat lingkungan terdekat. Kenapa tidak dengan segala potensi yang ada, bismillah saya coba berusaha sebaik mungkin memakmurkan masjid Al Ashr ini,” ujar alumnus UPI tahun 2015 kemarin ini.

“Mungkin ladang dakwah dan pahala saya ya di sini,” lanjutnya.

Sederhana harapan awal Fahmi kala itu, Masjid Al Ashr bukan sekadar masjid transit para pesowan, tetapi juga menjadi tempat ibadah yang memfasilitasi kajian-kajian di area Bandung Selatan.

Ia mulai merangkul para pemuda yang memiliki ghirah dan semangat perubahan. Para pemuda tersebut dikumpulkan dalam satu ikatan bernama Fata. Terinspirasi dari buku kajian Ustaz Budi Ashari, bahwa Fata itu adalah pemuda yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan.

“Saya lihat dari absen kajian sih awalnya. Siapa nih yang aktif datang ke kajian. Setelah diajak ngobrol, mereka tertarik dan bersedia membantu perjuangan ini,” katanya.

Bekal yang ia terima dari para asatiz coba diterapkan di Masjid Al Ashr. Dari jaringan pertemanan tersebut, ia mendapatkan banyak Ustaz yang tak kalah bagus. Terlebih ternyata tinggalnya juga di daerah Soreang.

Agar lebih mengundang peminat, selain mengundang ustaz-ustaz yang kompeten, kajian-kajiannya pun berkisar Kajian Ilmiah, Sirah Nabawi dan kajian tauhid. Selain itu ada kegiatan-kegiatan di luar kajian yang sifatnya hiburan namun sarat Sunnah Nabi, berenang dan memanah.

Ya, kekinian biar tidak jenuh juga kita ada pelatihan memanah, menggandeng salah satu komunitas yang concern di bidang tersebut,” aku Fahmi.

Di luar dugaan, ikhtiar kecilnya bersama kawan-kawannya itu berbuah juga. Masjidnya mulai ramai bukan saja oleh orang-orang yang rehat dari perjalanannya, tapi juga oleh insan-insan yang hatinya rindu akan cahaya ilmu.

Dulu masih terhitunglah jumlah jamaah kajiannya. Tapi sekarang kerap membludak. Bahkan saat mabit di tahun baru pun Masjid Al Ashr banyak dipenuhi jamaah yang ingin melalui malamnya dengan lautan zikir.

Fahmi berharap mudah-mudahan Allah menjaga niatnya dan para pemuda yang ingin hijrah dalam komunitas Pemuda Al Ashr. Ia menekankan bahwa untuk beramal soleh itu tidak susah.

“Yah bisa dengan harta dengan harta. kalau dengan tenaga yah dengan tenaga, kalau dengan pikiran yah dengan kreativitasnya mungkin,” lanjutnya.

Tak lupa, dengan adanya Pemuda Al Ashr ini, Fahmi juga berharap memberikan sedikit sumbangsih untuk kemenangan Islam. Syukur-syukur, ada kader yang mewujudkan nubuwah Nabi dalam menaklukan Roma.

“Kan Nubuwah Nabi begitu, kelak konstantinopel dan Roma kan jatuh. Terbukti hadir Muhammad Al Fathih yang mewujudkan penaklukan konstantinopel. Roma kan belum, semoga ada kader Al Ashr yang mewujudkan hal tersebut,” tandasnya. (maharevin)