Apa sih yang Dimaksud Muhkam dan Mutasyabih?

Apa sih yang Dimaksud Muhkam dan Mutasyabih?

0 101
PICT_www.opoae.com

AYAT-ayat yang terkandung dalam Al Qur’an adakalanya berbentuk lafadz, ungkapan, dan uslub yang berbeda tetapi artinya jelas, sehingga tidak menimbulkan kekeliruan bagi orang yang membacanya. Di samping ayat-ayat  yang sudah jelas tersebut, ada lagi ayat-ayat Al Qur’an yang bersifat umum dan samar-samar yang menimbulkan keraguan bagi yang membacanya sehingga ayat yang seperti ini menimbulkan ijtihad bagi para mujtahid untuk dapat mengembalikan kepada makna yang jelas dan tegas. Ayat-ayat tersebut dikenal dengan istilah muhkam dan mutasyabih. [1]

Menurut bahasa, muhkam artinya suatu ungkapan yang makna lahirnya tidak mungkin diganti atau diubah. Adapun mutasyabih adalah ungkapan yang maksud maknanya samar.

Sedangkan secara istilah, muhkam dan mutasyabih diungkapkan para ulama seperti berikut ini :

  1. Al-Jahiz, ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengnangamblang baik melalui takwil atau tidak, sementara itu, ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnyahanya dapat dikertahui Allah, seperti datangnya kiamat, keluarnya dajjal, dan lain sebagainya.
  2. Ibn Abi Hatim, ayat-ayat muhkam adalah ayat yang menghapus (nasikh) berbicara tentang halal-haram, ketentuan (hudud), serta yang diimani atau diamalkan. Adapun ayat-ayat mutsyabih adalah ayat dihapus yang berbicara tentang perumpamaan, sumpah dan yang harus diimani tetapi tidak harus diamalkan. [2]
  3. Menurut Manna’ Al Qaththan, Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung tanpa memerlukan keterangan lain. Sedangkan Mutasyabih tidak seperti itu, ia memerlukan penjelasan dengan menunjuk kepada ayat lain. [3]

Dari beragam pengertian di atas, yang dimaksud dengan muhkam adalah ayat yang sudah jelas baik lafadz maupun maksudnya, sehingga tidak menimbulkan keraguan dan kekeliruan bagi orang yang memahaminya. Sedangkan Mutasyabih adalah merupakan kumpulan ayat-ayat yang  terdapat dalam Al Qur’an yang masih belum jelas maksudnya, hal itu dikarenakan ayat mutasyabih bersifat mujmal (global) dia membutuhkan rincian lebih dalam dan pentakwilan. [4]

[1] Abu Anwar, (2005), Ulumul Qur’an; Sebuah Pengantar. Pekanbaru: Amzah, cet. II, hlm. 77

[2] Rosihan Anwar, (2007), Ulum al-Qur’an, Bandung : Pustaka Setia, hl. 121-122

[3] Manna, Al Qaththan, (1975), Mabahits fi Ulum Al Qur’an, (Riyadh: Mansyurat Al Ashri Al Hadits, hlm. 232

[4] Dar Al Subhi Soleh, (1993), Mabahits fi Ulumul Qur’an, Jakarta : Pustaka Firdaus, hlm. 372