Akmal Nasery Basral, Dari Sejarah untuk Sejarah

Akmal Nasery Basral, Dari Sejarah untuk Sejarah

0 48

 

“Orang pintar belajar dari pengalaman diri sendiri. Tapi orang bijak, belajar dari pengalaman orang lain.”

ALHIKMAH.CO–Di pedalaman hutan Sumatera Barat, di antara semak belukar. Di sela-sela pepohonan tinggi. Di dalam kegelapan malam. Ditemani pelukan dingin, dan suara gemercik air, juga tatap hewan buas. Selama 207 Hari, Syafruddin Prawiranegara bergerilya. Naik, turun, tiarap, berjalan tiada henti, tak kenal lelah. Membopong radio dan peralatannya, meyuarakan kepada Belanda dan dunia bahwa Indonesia masih ada. Walau Soekarno, Hatta, Agus Salim, dan para pejabat lainnya di tangkap di Yogyakarta.

Dalam perjalanan panjangnya, seorang dalam rombongan Syafruddin memperhatikan keheranan. Kok bisa-bisanya Pak Syafruddin mengatur para menteri, para pejabat, para jendral di pedalaman hutan. Ia yang memimpin semuanya. Lalu anak itu bertanya kepada Syafruddin, “Pak, Bapak Presiden ya?” . Itulah secuplik kisah pada novel ‘Presiden Prawiranegara’, kisah seorang Pahlawan Nasional yang juga aktivis Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) di dalam rimba belantara Sumatera selama 207 hari, menggantikan Soekarno sebagai ‘presiden’ PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia)

“Novel Sejarah,” kata Akmal Nasery Basral kepada Alhikmah, penulis novel Presiden Prawiranegara saat baru saja meluncurkan novel barunya tentang Buya Hamka, Tadarus Cinta Buya Pujangga sepenggal waktu lalu. “Jadi ada dua kaki; kaki novel dan sejarah. Novel mengenai bahasa, fiksi, dan sejarah menyangkut persitiwa penting pada satu tempat tertenu, kapasitas orang-orang tertentu, dan berdampak kepada rentetan peristiwan lain,” kata Akmal.

2005, kali pertama Akmal teratrik membuat novel. Saat itu ia tengah bergabung menjadi salah seorang awak redaksi TEMPO. Tahun 2010, novel Akmal ‘booming’. Novel itu berjudul ‘Sang Pencerah’, kisah tentang KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah digambarkan dengan apik oleh Akmal, hingga akhirnya kita pun dapat menikmatinya di layar lebar.

Kemahiran menulis Akmal terlatih sejak lama. Belasan tahun ia menjadi jurnalis, impiannya sejak kecil. “Dari kecil, saya punya keinginan jadi jurnalis. Saat itu kan saluran TV baru ada TVRI, dunia dalam berita. Reporternya bilang : Saya melaporkan dari Tokyo., Mesir, dan tempat-tempat lainnya. Saya pikir enak banget bisa keliling dunia,” kenang Akmal.

Dari waktu ke waktu, mimpi itu terus dipupuk. Hingga setelah lulus Fisip UI, tahun 1994 ia berkesempatan untuk bergabung di majalah TEMPO. “Awalnya, lulus kuliah ingin jadi dokter, tapi nggak diterima. Jadinya dokter masyarakat , saya masuk sosiologi. Itulah jalan hidup saya,” kata Akmal tersenyum.

Belum lama bergabung, TEMPO di Bredel. Akmal pun pindah ke Majalah Mingguan GATRA.  Tapi sepuluh tahun kemudian, tahun 2004, Akmal bergabung kembali ke TEMPO setelah media yang didirikan oleh Goenawan Mohamad itu bisa kembali terbit.

”Alhamdulillah Allah memudahkan jalan saya meraih mimpi. Usia 26 tahun saya bisa liputan ke Luar Negeri. Di Gatra, saya bahkan sampai menjejak 4 benua,” kata Akmal.

16 tahun sudah, mulai 1994-2010 Akmal berkarir sebagai wartawan. Menulis sudah menjadi santapan sehari-hari. Pengalaman reportase, turun ke lapngan, riset, wawancara, mengumpulkan data, membaca, juga menuangkannya dalam tulisan, memanggil jiwa akmal agar ‘bebas’ menulis. Akmal mulai membuat cerpen-cerpen, hingga tahun 2005 membuat Novel.

“Saya coba cerpen, lebih sregnya di historika novel… Tapi, saat awal itu, saya mengalami dua kehidupan yaitu sebagai jurnalis dan sebagai penulis kreatif, dan saya memutuskan untuk fokus menulis,” kata Akmal. Akhirnya, dalam pergulatan batin selama 5 tahun, tahun 2010, Akmal memutuskan untuk mundur dari jurnalis, dan fokus pada dunia menulis kreatif (novel).

“Justru saya berani resign tahun 2010, karena istri mendukung, ya udah Bismillah, insya Allah ini jalan kita.” tegas Akmal mantap. Sekarang, ia berpikir, mengapa tak dari dulu ia mulai menulis kreatif. Namun, menurutnya semua itu proses, saling berkaitan. “Saya melewati masa kritis keragu-keraguan. Saya sudah tidak bisa kembali ke jembatan masa lalu saya sebagai jurnalis. Menulis kreatif jalan terus!” ungkap Akmal.

“Sekarang, sudah tiga tahun saya full menulis. Pagi sekali saya menulis. Kini, sebuah kenikmatan, bisa antar jemput anak sekolah pada pagi hari. Dari siang sampai sore menulis. Lalu,  setelah diatas jam 10 malam, saya nulis sampai jam 12,” kata Akmal. Selain menulis, Akmal rutin berolahraga juga untuk menjaga kebugara tubuhnya di usia 45 tahun ini.

”Kadang kita suka terpaku dengan tulisan, lupa dunia, sama kaya dulu saya wartawan, lupa dunia. Saya pernah begadang-begadang tiap deadline, tiap hari, minggu. Faktor usia dan umur, membuat saya lebih menjaga kesehatan,” kata Akmal.

Lalu, mengapa sejarah menjadi minat Akmal, Lebih khusus lagi, mengapa tokoh-tokoh Islam seperti KH Ahmad Dahlan, Syafruddin Prawiranegara, dan juga HAMKA yang novelnya laris dinikmati masyarakat?

“Kehidupan manusia itu bisa menjadi pembanding bagi pembaca, bahagia duka, naik, turun, menaklukan lingkungan, kalah ditaklulakn lingkungan. Orang pintar belajar dari pengalaman diri sendiri. Tapi orang bijak, belajar dari pengalaman orang lain. Saya ingin kita bisa mengambil pelajaran sejarah dari tokoh-tokoh itu,” kata Akmal.

Ia mencontohkan, tentang KH Ahmad Dahlan pada usia 44 tahun mendirikan Muhammadiyah. “Umur 44 tahun sekarang, saya sudah berbuat apa untuk bangsa? Saya tidak ada apa-apanya. Belum bisa menyamai prestasi Ahmad Dahlan, dengan Muhammadiyah sekaran ada rumah sakitnya, kampus, sekolah, dan lainnya. Hal itu muncul setelah membandingkan dengan orang lain,” papar Akmal.

Pada akhirnya, karena keterbatasan waktu, juga konsentrasi, Akmal bertahap baru menyelesaikan beberapa tokoh. Sang Pencerah ditulis saat momen 1 Abad Muhammadiyah. Juga novel Presiden Syafruddin Prawiranegara ditulis saat peringatan 1 Abad Syafruddin. “ yang ketiga tentang Buya Hamka, insya Allah karyanya nggak akan hilang. Tapi kalau tidak disebarluaskan mungkin bisa terlupakan,” pungkas Akmal.

(Lesus/ed:hbs)