Akhlak terhadap Hewan

Akhlak terhadap Hewan

Maka ketika kita dikagetkan oleh penilaian bahwa orang Indonesia, orang Islam memperlakukan hewan tidak  pada tempatnya, sesungguhnya tinggal kita kembali kepada bagaimana ajaran Islam mengajarkan ini.

Pembaca, Allah adalah sosok yang sangat lembut, sangat santun. Karenanya Allah sangat menghargai memuji kelembutan dan kesantunan. Kepada siapa kita harus berlaku lembut dan santun?  Apakah hanya kepada sesama manusia? Tentu saja tidak.

Kita manusia ditugaskan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Ketika kita mengerjakan tugas sebagai rahmatanlil’alamiin, kita mengemban tugas, fungsi-fungsi keilahian.

Jika Allah Maha Lembut, jika Allah Maha Penyantun, maka kita juga di ajarkan untuk berlaku santun, bahkan kepada hewan.

Pembaca, kita pernah mendengar  hadits tentang seorang perempuan dikisahkan masuk neraka. Mengapa? Ia menyiksa, mengurung kucing peliharaannya sehingga tidak bisa mendapatkan makanan, sampai kucing itu mati kelaparan.

Kita juga tahu saat Rasulullah melarang orang-orang menjadikan hewan sebagai sasaran berlatih memanah. Di saat yan lain, Rasulullah juga melarang hewan yang akan disembelih untuk di aniaya dan diperlakukan dengan kasar.

Islam mengajarkan kesantunan bahkan ketika kita memperlakukan hewan yang akan disembelih. Sesuatu yang berbahagia, begitu luas ajaran Islam melingkupi berbagai segi-segi kehidupan.

Maka ketika kita dikagetkan oleh penilaian bahwa orang Indonesia, orang Islam memperlakukan hewan tidak  pada tempatnya, sesungguhnya tinggal kita kembali kepada bagaimana ajaran Islam mengajarkan ini.

Islam mengajarkan agar kita santun, penuh kelembutan bahkan kepada hewan. Rasulullah mengajarkan bagaimana beliau menjadi orang yang sangat sayang kepada kucing.

Rasul memberi nama kepada unta yang sangat berjasa dalam perjalanan sejarah hidup beliau.  Qashwa, adalah unta yang sangat luar biasa yang instingnya diikuti oleh Rasulullah.

Ketika Rasul berhijrah dari Mekkah ke Madinah, tunggangannya adalah Qashwa. Ketika Rasul melakukan perjalanan Futuh Mekkah, tunggangannya adalah Qashwa. Bahkan ketika Rasulullah melalui perjalanan yang sangat heroik, yang disebut dengan Perjanjian Hudaibiyah, Rasul pun menggunakan unta yang sama.

Kita diajarkan penuh kelembutan, penuh kesantunan. Bahkan ketika kita memperlakukan binatang yang akan kita disembelih,  dengan pisau yang sangat tajam, dengan cepat-cepat dan tidak menyakiti. Itulah syarat-syarat yang diberikan kepada mereka yang bahkan hendak memperlakukan hewan yang menjadi kurban di Hari Raya Idul Adha.

Hewan kurban diberikan perlakuan yang sangat baik dan mereka pun disembelih dengan cara yang baik sehingga mereka seakan-akan tidak merasakan kesakitan. Perlakukan penuh kelembutan yang di bumi maka kita akan mendapatkan perlakuan yang lemah lembut dari yang langit.

Bahagiakan penduduk bumi, kita akan dibahagiakan oleh penduduk langit. Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang berjalan di muka bumi dengan penuh kelembutan, penuh kesantunan dan tidak ada rasa sombong, karena sombong menghindarkan kita untuk bisa masuk surga.

“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nuur, 24 : 45). []

BERITA TERKAIT

0 34

0 92

0 462