Agar Tak Bingung, Ini Konsep Menutup Aurat yang Syar’i

Agar Tak Bingung, Ini Konsep Menutup Aurat yang Syar’i

2 132
pict. aoklahponblog

PADA saat seorang wanita keluar rumah ataupun ketika ia berada di dalam rumah bersama pria yang bukan muhrimnya, maka syara’ telah mewajibkan kepadanya untuk berjilbab. Pakaian jilbab yang diwajibkan tersebut adalah memakai khimar/kerudung, jilbab/pakaian luar, dan tsaub/pakaian dalam. Jika bertemu dengan pria yang bukan mahromnya/keluar rumah tanpa menggunakan jilbab tersebut, meskipun sudah menutup aurat, maka ia dianggap telah berdosa karena telah melanggar dari syara’. [1]

Khimar (kerudung)

Perintah syara’ untuk mengenakan khimar bagi wanita yang telah baligh terdapat dalam QS An Nuur: 31. “Kata juyuud dalam ayat tersebut merupakan bentuk jamak dari kata jaibaun yang berarti kerah baju kurung. Oleh sebab itu yang dimaksud ayat itu Hendaklah wanita Mukminah menghamparkan penutup kepalanya di atas leher dan dadanya agar leher dan dadanya tertutupi”. Berkaitan dengan ini, Imam Ali Ash Shabuni dalam Kitab Tafsir Ayatil Ahkam berkata: “hendaklah mereka mengulurkan kerudung mereka’‘ itu digunakan kata Adh dharbu adalah mubalaghah dan dimuta’adikannya dengan harf bi adalah memiliki arti ”mempertemukan”, yaitu kerudung itu hendaknya terhampar sampai dada supaya leher dan dada tidak tampak.

Wanita jahiliyah berpakaian berlawanan dengan ajaran Islam. Mereka memakai kerudung tetapi dilipat ke belakang/punggung dan bagian depannya menganga lebar sehingga bagian telinga dan dada mereka nampak. Di zaman jahiliyah apabila mereka hendak keluar rumah untuk mempertontonkan diri di suatu arena mereka memakai baju dan khimar (yang tidak sempurna) sehingga tiada bedanya antara wanita merdeka dengan hamba sahaya.[2]