Ada Gelatin (Sapi/Babi) dalam Proses Pelunakan Bahan Kain?

Ada Gelatin (Sapi/Babi) dalam Proses Pelunakan Bahan Kain?

0 196
ilustrasi (pixabay)

“… gelatin yang salah satunya berasal dari babi, bisa digunakan sebagai medium pertumbuhan mikroba.

ALHIKMAH.CO,– Pingkan Aditiawati, Peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITB kepada Alhikmah beberapa waktu lalu  mengatakan, bahwa di Indonesia, makanan-makanan fermentasi kian banyak variannya. Sebut saja tape, oncom, tempe, yoghurt, dan beberapa lainnya. Akan tetapi, menurut Pingkan, standardisasi untuk masing-masing produk fermentasi itu dirasa masih sangat kurang, baik dari SOP bahan, SOP proses, dan sebagainya, yang berakibat pada keragaman rasa, kualitas hingga keamanan produk.

Menurutnya, keamanan merupakan salah satu unsur pertimbangan dalam menyatakan kehalalan suatu produk. “Halal dan thayyiban itu dari awal sampai akhir harus dikerjakan dengan cara yang benar, keamanannya pun diperiksa,” katanya.

Dr. Pingkan
Dr. Pingkan

Instrumen penelitian di laboratorium memiliki perannya sendiri. Ia menjelaskan, untuk menentukan kadar alkohol, yang menjadi salah satu senyawa dalam penentuan kehalalan produk, dapat digunakan kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) juga kromatografi gas (GC). Sedang pemisahan, penentuan berat molekul, muatan, serta penentuan jenis protein, dapat digunakan Elektroforesis 2 Dimensi.

Gelatin, misalnya, merupakan protein yang berasal dari tulang sapi atau babi yang dicairkan. Untuk mengetahui jenis gelatin dan kadarnya dalam suatu produk, maka dapat digunakan Elektroforesis 2 Dimensi hingga didapatkan persentase atau kadar serta jenis asam aminonya, apakah berasal dari sapi atau babi.

Sedikit mengulas, katanya, gelatin biasa digunakan dalam proses  pelunakan bahan kain, terutama jeans. Kain yang keras, dapat dilunakkan menggunakan enzim tertentu. Enzim dihasilkan dari mikroba, sedang mikroba perlu nutrisi untuk makan serta medium pertumbuhan.

“Nah, gelatin yang salah satunya berasal dari babi, bisa digunakan sebagai medium pertumbuhan mikroba,” kata Pingkan.

Tidak hanya penelitian itu, LPPM juga kerap menggagas pelatihan-pelatihan pembuatan produk makanan fermentasi. Setiap tahun, dibantu oleh mahasiswa, ia pamerkan 10 produk yang telah memenuhi standard, baik dari SOP bahan, SOP pembuatan, dan sebagainya, hingga menghasilkan rasa, kualitas dan keamanan yang baik. Lantas, bersama rekan penyelenggara yang lain, ia undang guru-guru SMA, dharma wanita, hingga masyarakat pedesaan di Jawa Barat.

Melihat kompleksitas persoalan halal dan haram di Indonesia, ungkapnya, tak lantas membuatnya diam saja. Sebagai akademisi, ia memahami bahwa informasi lengkap terkait produk merupakan hal penting dalam menentukan kehalalan.

Maka, Pingkan berharap, melalui kontribusinya sebagai peneliti riset produk fermentasi dapat membantu para ulama dalam membuat putusan. “Jadi, ketika data yang diinformasikan baik, keputusannya juga benar,” pungkasnya.

(Asih/Alhikmah)