Syawal, Bulan Bersejarah Lahirnya Imam Bukhari

Syawal, Bulan Bersejarah Lahirnya Imam Bukhari

0 25
pic by wikiwand

ALHIKMAHCO,– Syawal, bulan yang juga menjadi momentum penting dalam Sejarah Islam. Salah satunya, kelahiran imam besar dalam bidang hadits. Adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari atau yang terkenal dengan sebutan Imam Bukhari, yang lahir di bulan Syawal.

Ia lahir pada 13 Syawal 194 H di Bukhara, sebuah wilayah di sisi Sungai Jihun, Uzbekistan. Tempat itu dikenal banyak melahirkan ilmuwan-ilmuwan muslim. Ayah sang Imam sendiri, adalah ulama yang shaleh. Tak heran, jika Imam Bukhari tumbuh di lingkungan yang memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu.

Sejak kecil, ia telah menunjukan kecerdasannya. Ketajaman ingatan dan hafalan yang dimiliki Imam Bukhari melampaui anak seusianya. Di umur 10 tahun, ia yang berguru pada Ad Dakhili, tak pernah absen mempelajari hadits.

Baru setahun kemudian, ia mulai menghafal hadits. Pelajaran itu dimulai dengan mengoreksi beberapa kesalahan penghafalan matan dan rawi hadits yang diucapkan sang guru. Di usia ke -16 tahun, ia khatam menghafal hadits di kitab karya Waki al-Jarrah dan Ibnu Mubarak.

Guna memperkaya khazanah keilmuan, Imam Bukhari tak hanya berguru pada satu ulama. Siapa saja yang dipandang memiliki kapasitas dalam sebuah hadits, ia akan menjadikannya guru. Dalam sebuah riwayat, Imam Bukhari disebut memiliki lebih dari 1.000 guru. Pun, dalam kitab fenomenan Jami’as Shahih, dijelaskan bahwa ia menemui lebih dari 1.080 pakar hadits.

Imam Bukhari tersohor gigih dalam memburu hadits. Jika mendengar sebuah hadits, ia ingin mendapat keterangan terkait hadits tersebut secara lengkap, bahkan langsung menemui sendiri orang yang meriwayatkan hadits. Ia melanglang buana ke daerah Syam, Mesir, Aljazair, dan Basrah. Ia sempat menetap di Makkah dan Madinah selama enam tahun, lalu bertolak ke Kufah, dan Baghdad.

Perjalanan panjang itu pun membuahkan hasil. Sedikitnya, Imam Bukhari telah mengumpulkan 600 ribu hadits. Separuh dari angka itu, Imam Bukhari menghafalnya. Hadits-hadits yang dihafal itu terdiri dari 200 ribu hadis tidak shahih dan 100 ribu hadis shahih.

Tak semua dari hadits shahih itu ia masukkan dalam Shahih Bukhari. Setelah diseleksi dengan metode yang sangat ketat, ia hanya mencantumkan 7.275 hadits dalam kitab tersebut. Tak heran, jika para ulama menempatkan Shahih Bukhari sebagai kitab pertama dalam urutan kitab-kitab hadits yang muktabar.

Selama hidup, selain Jami’as as-Sahih, Imam Bukhari juga menulis kitab-kitab lain seperti Tarikh As Sagir, Asami As Sahabah, Al Kuna, dan Al ‘Illal yang kesemuanya membahas tentang hadits. (rol)