Memahami Investasi, Saham, Sukuk, dan Obligasi dalam Pandangan Islam

Memahami Investasi, Saham, Sukuk, dan Obligasi dalam Pandangan Islam

0 43

Bulan Mei lalu, Alhikmah berkesempatan berbincang dengan Pakar Ekonomi Islam jebolah Glasgow University UK, Murniati Mukhlisin, PH. D. Dosen STEI Tazkia ini menjelaskan ihwal investasi dalam pandangan Islam.  Berikut kutipan wawancaranya :

Apa saja bentuk-bentuk investasi, baik itu di bank, asuransi, atau pasar modal syariah?

Alhamdulillah sekarang produk-produk di bank dan asuransi syariah sudah makin beragam dan dapat dijadikan alternatif investasi keluarga. Produk di bank syariah, antara lain tabungan dan deposito.

Ada juga bentuk tabungan di bank syariah yang memilliki jangka waktu dan uang setoran yang ditetapkan sesuai dengan ketetapan awal. Biasanya tabungan jenis ini mempunyai tujuan-tujuan tertentu, yaitu sebagai dana simpanan untuk kegunaan masa depan, seperti pendidikan anak dan pensiun. Dana ini akan dikeluarkan sesuai dengan umur masuk usia pendidikan dan umur masa pensiun.

Selain tabungan, bentuk investasi yang ada di bank syariah adalah deposito berjangka yang menggunakan akad mudharabah mutlaqah atau mudharabah muqayyadah. Simpanan deposito berjangka 1,3,6, atau 12 bulan ini dapat diperpanjang otomatis sesuai dengan permintaan pemilik deposito dengan setoran minimal Rp1.000.000 di kebanyakan bank syariah.

Untuk investasi syariah, jenis investasi yang ada antara lain investasi pendidikan berasurasi yang menggunakan akad mudharabah dan tabarru. Pemilik dana dapat membayar premi asuransi bulanan/ setiap 3 bulanan/tahunan dengan jumlah premi sesuai dengan yang ditetapkan. Dana akan dicairkan sesuai dengan umur anak ketika masuk ke jenjang pendidikan TK, SD, SMP, SMA, dan universitas tingkat 1/2/3. Bedanya, menabung di bank syariah, selain mendapatkan imbalan bagi hasil setiap bulan sesuai dengan keuntungan perusahaan asuransi diproporsikan dengan saldo akhir bulanan, ahli waris pemilik polis asuransi syariah ini berhak mendapatkan klaim sejumlah dana tertentu jika pemilik polis meninggal dunia sebelum masa akad berakhir.

Jenis investasi lainnya adalah dana yang disimpan di perusahaan asuransi syariah akan dileburkan kembali ke bank syariah dan pasar modal syariah. Selain bagi hasil yang didapat dari kedua jenis macam investasi itu, ahli waris akan diberikan klaim asuransi jika pemilik dana meninggal dunia. Jenis-jenis investasi di atas tentunya bukan hanya untuk keluarga muslim, melainkan untuk siapa saja karena Islam adalah rahmatan lil alamin.

Sebetulnya dalam pandangan Islam, bagaimana sukuk, saham, atau obligasi?

Cara melihat saham, sukuk, atau obligasi yang diperbolehkan dalam Islam, adalah tidak boleh meleburnya investasi atau kegiatan bisnisnya yang berkenaan dengan riba, gharar, maysir, haram, zhalim, dan lain sebagainya. Itu sudah ditentukan oleh bursa efek Indonesia, tidak boleh saham yang berkaitan dengan alkohol, rokok, hotel konvensional, makanan yang syubhat, senjata, atau bom. Nah kita tidak diperkenankan membeli saham seperti itu.

Kalau sukuk, merupakan surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prisnsip syariah sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap Aset Surat Berharga Syariah Negara, yang dijual kepada individu. Ia sudah ada fatwanya, insya Allah halal. Ia resmi, dari pemerintah untuk dibeli oleh rakyatnya, dan bukan orang perorangan. Sukuk itu surat utang tapi syariah. Sukuk itu, kalau dimisalkan, pemerintah butuh pembangunan dan untuk itu, dia mengagunkan bangunan-bangunan berharga miliknya, seperti monas, senayan, dan lain-lain. Nanti, jalannya sukuk ini dibantu oleh bank-bank syariah dan konvensional. Pecahannya minimal 5 juta. Ketika masa utangnya selesai, misal diagunkan selama 3 tahun, nanti beli lagi agunannya. Pemerintah akan bayarkan uang pokok kita, tapi tiap bulan dia akan bayar ijarahnya melalui bank. Jadi seolah-olah pemerintah menyewa bangunan-bangunan tadi. Itu sistem sukuk ijarah.

Kalau obligasi?

Obligasi itu surat utang berjangka waktu lebih dari satu tahun dan bersuku bunga tertentu yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menarik dana dari masyarakat guna menutup pembiayaan perusahaan. Tidaklah diragukan bahwa obligasi jenis ini termasuk riba, karena hakikat transaksi ini adalah utang yang membuahkan manfaat tambahan. Dengan demikian, menjual dan membeli obligasi ini, serta keuntungan yang didapatkan darinya, adalah riba.

Bagaimana zakat harta tunai dan investasi keuangan?

Adapun harta yang dimaksud adalah emas, perak, dan yang serupa dengan keduanya, seperti uang (baik logam, kertas, atau sejenisnya), piutang, instrumen keuangan, perhiasan dan mahar, surat-surat berharga, seperti saham, obligasi, cek, dan simpanan investasi di bank. Dari harta investasi tersebut dikurangi oleh: tanggungan jangka pendek, nafkah kebutuhan pokok dan riil, pembayaran untuk pembelian harta tersebut, serta pendapatan bunga/nonhalal yang berasal dari investasi. Adapun haulnya adalah satu tahun hijriyah, nishabnya adalah 85 gram emas 21 karat atau 20 dinar atau 672 gram perak dan kadarnya adalah 2,5%.

Bagaimana zakat kita untuk sukuk? Jumlah uang yang kita investasikan ditambah dengan keuntungan dikalikan 2,5% setiap tahunnya. Nah baru dizakatkan kalau uangnya di atas 42,5 juta. Saham juga sama, jumlah saham yang kita beli ditambah dengan dividen yang dibayarkan setiap tahun. Tapi sekarang banyak perusahaan yang membayar zakat. Jadi semua yang menerima dividen, sudah dibayar zakatnya oleh perusahaan tersebut. Ketika perusahaan itu membayar, sebetulnya dia membayar untuk individu.

Lain hal dengan obligasi. Segala sesuatu yang ada ribanya, tidak wajib dizakatkan. Kenapa? Karena hanya barang-barang suci yang wajib dizakatkan. Terus gimana dong barang-barang yang tadi? Ya dikeluarkan semuanya sebagai sedekah saja, bukan zakat. Memang ada beberapa pendapat. Kalau misalnya itu mau jadi bagian dari zakat, bukan bunganya, tapi uang obligasinya yang dikalikan 2,5%. Sementara bunganya, tetap harus dikeluarkan.