Nabi dan Para Amil Zakat

Nabi dan Para Amil Zakat

0 24

 ALHIKMAH.CO–Madinah sudah benar-benar tenang, setelah perjanjian Hudaibiyah. Sang Nabi menyebarkan dakwah hingga mancanegara. Semua hal mulai dari kehidupan sosial, dakwah, politik hingga ekonomi tumbuh subur.

Kewajiban Zakat yang sudah diwajibkan sejak di Mekah kini di Madinah semakin stabil setelah Negara langsung mengurus pengelolaan zakat. Para petugas pemungut dan penyalur zakat (amil) ditunjuk langsung oleh sang Nabi menarik harta dari para orang yang berkecukupan.

Para amil bertugas menghimpun harta benda dari berbagai distrik dan pedalaman, sekaligus dipercaya atas harta tersebut. Seperti biasa, untuk mengemban tugas ini Nabi tidak sembarang menunjuk orang. Beliau menyeleksi dan memilih orang yang tepat, sehingga sumber keuangan negara tetap sejalan dengan ajaran syariat.

Tugas ini berbentuk ketika negara telah stabil, Arab telah tunduk dan memeluk Islam, dan kekuasaan Islam telah mencapai garis batas negara Syria dan Irak. Mereka menghimpun khumus (seperlimandari harta kekayaan) dan sedekah lalu menyerahkannya kepad Nabi. Suatu jumlah yang belum pernah dihimpun untuk raja mana pun waktu itu, kecuali untuk sebagian kecil saja. Sejumlah penguasa lokal pun menandatangani pakta damai dengan beliau.

Memasuki bulan Muharram tahun kesebelas Hijrah, Nabi mengutus amil zakat dan sedekah ke negara-negara yang berda di bawah kekuasaan Islam. Muhajir ibn Abi Umayah dikirim ke Shan’a, Ziyad ibn Labid al-Bayadhi ke Hadramaut, Adi ibn Hatim ke Thayyi’ dan Bani Asad, Malik ibn Nuwairah al-Yarbu’i ke Bani Hanzhalah, mengalokasikan zakat dan sedekah Bani Sa’d kepada dua orang dari mereka.

Beliau jugu mengtus Zarbarqan ibn Badr dan Qais ibn Ashim ke distrik terpisah, Uyainah ibn Hushn ke Bani Tamim, Walid ibn Uqbah ke Bani Mushtahliq, Buraidah ibn al-Hushaib—menurut versi lain, Ka’b ibn Malik ke Aslam dan Ghifar, Ibn al-Latbiyah al-Azdi ke Bani Salim dan Bani Dzabyan, Rafi’ ibn Makits ke Juhainah, Umar ibn al-Ash menurut versi lain, Uyainah ibn Hush ke Bani Fizarah, Dhahhak ibn Sufyan ke Bani Kilab, Busr ibn Sufyan ke Bani Ka’b, Ali ibn Abi Thalib ke penduduk Najran, dan mengutus Abu Ubaidah ibn al-Jarah untuk menarik pajak di Bahrain.

Bersama Mu’adz ibn Jabal, Abu Ubaidah ibn Jarah juga pernah ditugaskan oleh untuk memungut pajak kaum Nasrani Najran, penduduk Yaman yang terdiri dari bangsa Arab dan non-Arab, dan penduduk Bahrain yang Majusi. Khalid ibn Sa’id ibn al-Ash, Arqam ibn Abi al-Arqam, dan Hudzaifah ibn al-Yaman diutus beliau untuk menghimpun zakat dan sedekah atas kaum Hudzaifah sendiri, Bani al-Uzd; Kahl ibn Malik al-Hadzali juga atas kaumnya sendiri, Bani Hudzail; Abu Jahm ibn Hudzaifah, Sahl ibn Munjab al-Tamimi atas kaum Sahl sendiri, Bani Tamim; Ikrimah ibn Abi Jahl atas kaum Hawazin; Malik dan Mutammam, putra Nuwairah , atas kaum mereka sendiri, Bani Tamim; Mirdas ibn Malik al-Ghanawi juga atas kaumnya sendiri.

Ketika hendak diberangkatkan, para amil itu diberi nasihat terlebih dahulu oleh Nabi. Mereka diperintahkan untuk tidak mengambil harta pilihan. Menyalurkan seluruh zakat dan sedekah kepada kaum miskin, dan tidak diperkenankan amil mengambil sedikit pun dari harta tersebut kecuali ada kelebihan.

Menyalurkan zakat atau sedekah yang diambil dari setiap orang kaya kepada kerabat mereka masing-masing, dimulai dari kerabat terdekat. Jika mereka tidak mempunyai kerabat miskin, zakat atau sedekah tersebut disalurkan kepada tetangga-tetangga mereka yang membutuhkan, dimulai dari tetangga terdekat.

Para amil yang terpercaya itu melaksanakan tugas mereka dengan bersih dan adil sesuai yang diajarkan  Rasulullah. Pernah di antara mereka datang ke salah satu kaum lalu diberi unta besar oleh seseorang , tetapi ia tolak. Ia berkata, “ Langit mana yang akan melindungiku, bumi mana yang akan menyembunyikanku, jika aku menghadap kepada Rasulullah sementara aku telah mengambil unta terbaik seorang muslim?”

Pengiriman para petugas zakat dan sedekah tersebut tidak dilakukan sekali gebrak, tetapi melalui proses penangguhan hingga waktu yang tepat. Yaitu, ketika para kabilah dan penduduk berbagai distrik telah memeluk Islam dengan teguh.

Salah satu peristiwa dalam catatan sejarah pengumpulan zakat dan sedekah adalah bahwa Rasulullah pernah menugaskan Walid in Uqbah untuk menarik zakat dan sedekah Bani Mushthaliq. Mereka telah menerima Islam dan membangun beberapa masjid.

Mendengar Nabi mengirim utusan, mereka senang bukan kepalang. Sepuluh orang pria segera naik binatang tunggangan untuk menyambut kedatangan utusan itu. Tetapi, begitu melihat mereka, Walid malah takut. Maklum, di zaman Jahiliah dulu ia dan mereka saling dendam. Ia mengira mereka bermaksud membunuhnya.

Maka kembalilah ia ke Madinah dan mengabarkan kepada Nabi bahwa Bani Musthaliq menyambut kedatangannya dengan senjata, bermaksud membunuhnya, dan menolak membayar zakat.

Nabi, dengan dukungan sejumlah sahabat, telah bulat untuk memberikan pelajaran kepada merke. Untung pada saat yang sama delegasi mereka datang, lalu berkata, “ Wahai Rasulullah, kami dengar engkau mengirim utusan kepada kami. Kami keluar dengan maksud menyambutnya, kami siap menyerahkan zakat dan sedekah kami. Tetapi, ia malah kembali dan memacu tunggangannya seperti kilat. Demi Allah, wahai Rasulullah, kami datang tidak untuk itu.”

Lalu turunlah firman Allah kepada Nabi :

Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu. Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘ cinta ’ kepada keimanan dan menjadikan keimana itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (Q.S Al-Hujurat : 6-7)

Ayat tersebut kemudian dibacakan oleh Nabi kepada mereka. Bersama mereka beliau mengutus Ubbad ibn Basyar untuk memungut zakat dan sedekah Bani Mushtaliq, sekaligus mengajari mereka syariat Islam dan membacakan Al-Quran. Ia tinggal di sana selama beberapa waktu, kemudian kembali kepada Rasulullah dalam keadaan puas dan memuaskan.

Para amil tidak dibiarkan oleh Nabi lepas dari pantauan dan pengawasan. Pulang dari tugas, mereka diurus dan dicela bila berbuat kesalahan. Ibn al-Lutbiyyah diperiksa oleh Nabi ketika ditemukan pulang membawa sejumlah barang . “ Ini hartamu, dan ini hadiah.”

Nabi marah dan berpidato di depan khalayak. Setelah memuji Allah beliau bersabda,” Telah kutugaskan seorang di antara kalian untuk pekerjaan yang diperintahkan Allah kepadaku. Lalu setelah datang ia berkata kepadak, ‘ Ini hartamu, dan ini hadiah untukku.’ Kalau ia memang benar, tentu ia cukup duduk di rumah bapak dan ibunya, lalu hadiah itu akan diantarkan kesana! Demi Allah, jika seorang dari kalian mengambil sesuatu dengan cara tidak benar, ia akan menjumpai Allah dengan memikul sesuatu itu kelak di hari kiamat. Kuperkenalkan seorang dari kalian yang menjumpai Allah dengan memikul seekor unta yang menguik, seekor sapi yang mengeluh, atau seekor kambing yang mengembik.”

Kemudian beliau mengangkat kedua tangan hingga tampak kedua ketiak beliau yang putih sambil bersabda, “ Ya Allah, apakah sudah kusampaikan penglihatan mataku dan pendengaran telingaku?”

(mr/ disarikan dari buku Ketika Nabi di Kota karya Dr. Nizar Abazhah)