Berkah Bisnis di Lingkungan Pesantren

Berkah Bisnis di Lingkungan Pesantren

0 11

 

“Mungkin syariat saya dinamakan Usman oleh kedua orang tua saya karena Usman Bin Affan adalah pengusaha muslim dermawan. Mungkin itu doa mereka agar saya menjadi pengusaha,”

Hari masih gelap. Keluarga itu sedang sibuk ke sana ke mari. Sang suami bergegas membawa berkarung-karung sayur ke pasar. Sang istri bersiap menggerek pintu toko kelontong di rumahnya. Anak-anaknya tak mau kalah, berlomba membantu sang Ibu membuka warung.

Usman kecil tampil melayani para pembeli warung, menemani Ibu dan kakak-kakaknya. Sesekali ia berikan uang receh kembalian sambil menenteng keresek hitam. Lama-kelamaan, Usman kerasan. Tak hanya menjaga warung di Babakan Ciparay Pasir Koja Bandung, dirinya pun dididik oleh kedua orang tuanya yang pedagang untuk berbisnis.

“Keluarga saya memang keluarga pedagang, dari kakek-nenek sampai orang tua,” kata Usman Hadi, pemilik Tokousman.com, kepada Alhikmah beberapa waktu lalu di kantornya di kawasan Pesantren Daarut Tauhid Bandung.

Di usia dini, Usman tak sadar bahwa dirinya telah memulai bisnis kecil-kecilan. Berawal diminta orang tua berjaga warung, kemudian Usman beralih ‘profesi’ menjadi penjaja es jeruk, gorengan, es papaya dan pelbagai makanan ringan.

Keliling dari satu gang ke gang lain, dari satu tempat ke tempat lain kerap terlakoni. “Dulu saya nggak ngerti maksudnya apa saya diminta dagang sama orang tua, tapi sekarang saya paham bahwa saya dididik untuk mandiri,” kenang Usman.

Walhasil, hasil didikan kedua orang tuanya, Usman bercita-cita menjadi pengusaha. “Mungkin syariat saya dinamakan Usman oleh kedua orang tua saya karena Usman Bin Affan adalah pengusaha muslim dermawan. Mungkin itu doa mereka agar saya menjadi pengusaha,” kata Usman sambil tertawa.

Nama adalah doa, begitulah ungkapan yang kesohor. Dan doa kedua orang tua usman berbuah manis. Empat toko yang menyediakan kebutuhan sehari-hari kaum muslimin, kebutuhan santri, dan toko online bernama tokousman.com kini dikelola Usman sehari-harinya.

Selain keinginan sejak kecil jadi pengusaha, pengaruh 11 tahun ‘nyantri’ sebagai santri karya Daarut Tauhid membuat Usman semakin mantap untuk terjun di dunia bisnis. Perkenalannya dengan Daarut Tauhid bermula semenjak perenungannya lulus dari SMK.

Usman yang lulusan SMK bidang otomotif sempat menjadi montir di Astra dan berencana membuka bengkel sendiri dengan keahliannya. Namun, entah mengapa setelah ia renungi dalam-dalam, hidup tak cukup urusan perut saja.

“Mungkin  itu titik balik, setelah mentafakuri lulusan SMK, sayang hanya begitu saja hidup. ‘Sayang saya masih muda, mungkin harus masuk pesantren saya, dan saya bilang sama orang tua untuk memutuskan ingin pesantren,” kenang Usman. Ia pun mencari pesantren dan jatuh hatilah pada Pesantren Cipasung Tasikmalaya.

Di Pesantren Cipasung, Usman mengejar ketertinggalannya belajar bahasa Arab dan Inggris. Jiwa dagangnya terus tumbuh, sambil kuliah, ia mulai merintis bisnis kecil-kecilan mulai dari alat tulis, makanan ringan, baju koko, sarung hingga memasok keperluan santri ke koperasi pesantren.

Alhamdulillah, karena saya berwira usaha, orang tua malah merasa tidak merasa menguliahkan anaknya. Orang tua Ustman pernah bertanya, ‘Man benar tidak kuliah teh?’ karena mereka merasa jarang mengeluarkan uang,” katanya sambil terkekeh.

Di lingkungan pesantren, Usman pun sering mencari bahan-bahan keislaman dan bertemulah ia dengan radio MQFM besutan Aa Gym. Semakin hari, Usman sering mendengar radio MQ. Sesekali kalau luang, Usman menyempatkan mengikuti kajian Aa Gym di Daarut Tauhid sekaligus berdagang menjadi agen buku Aa Gym untuk dijualnya.

Menjelang kelulusannya, Usman mendengar di radio bahwa DT membuka kesempatan santri karya beasiswa dengan syarat lulus S1 dan menguasai bahasa Arab dan Inggris. “Saya coba ikut tes itu, saya lulus. Selama tiga bulan dididik, tiga bulan lagi magang. Setelah lulus beasiswa, 30 orang yang lulus seleksi didedikasikan untuk DT,” kenangnya.

Saat itu, Aa Gym menekankan bahwa selain santri tauhid, santri DT juga santri wirausaha. Selama dididik dalam program santri beasiswa, Usman banyak mendapatkan ilmu agama sekaligus kewirausahaan, dan itu membuatnya merasa lebih berkah ketimbang ia bekerja di luar lingkungan pesantren.

Aa Gym, kata Usman menanamkan nilai Zikir- Pikir – Ikhtiar kepada setiap santrinya. “Nah, saya dominan ahli ikhtiarnya ini kelihatannya. Jadi ketika saya ditempatkan di suatu tempat pasti saya sambil jualan. Bada subuh pun sebelum masuk kerja sudah jualan, jadi jualan terus,” kata Usman.

Dalam proses Magang, Usman mengisahkan selain berdakwah, dirinya harus bisa tetap hidup dari nol. Mulailah otak kanannya mencari cara. Segala usaha dikerahkan mulai dari mencuci motor, mobil, menyemir sepatu. Hasilnya digunakan untuk usaha produk.

“Kalau saya dulu jualan rujak. Beli buah-buahan saya kemas bagus, kasih sambal, jual. Dan itu untungnya luarbiasa, misalnya modalnya ada 80 ribu pendapatan 200 ribu,” kenangnya. Usman pun menjadi santri karya DT selama 11 tahun di DT. Pelbagai aktivitas mulai menjadi MC, pengisi training di Lembaga Pelatihan DT hingga mengajar di SMA DT ia lakoni sambil berbisnis.

Setelah 11 tahun, sepenggal 2013, Usman memutuskan untuk fokus berbisnis, mengembangkan usaha yang sudah ia kelola di lingkungan DT. “Setelah kita memutuskan fokus di bisnis, Alhamdulillah, dulu berawal dari satu sekarang ada empat toko. Cepat  hanya dalam 2 tahun, berarti harus lebih fokus lagi,” kata Usman.

Keluar dari struktur DT, tak berarti Usman meninggalkan pesantren. Justru, jaringan bisnisnya telah terbangun. Ruko tiga lantai kini yang mentereng di Geger Kalong melayani kebutuhan santri setiap harinya seperti: jasko, jasket, dan audio haji dan penghafal Quran.

Selama dua tahun, kini Usman memiliki 10 orang karyawan dan memasok lebih dari 120 jenis barang di supermarket Daarut Tauhid lengkap dengan kebutuhan lainnya ditambah tokousman.com yang semakin laris hingga sebulan Usmam bisa meraup omzet hingga lebih dari 150 juta.

Usman mengakui, banyaknya pertolongan Allah dalam berbisnis. Mungkin, salah satunya karena berkah di lingkungan pesantren.

“Kalau saya cita-cita besarnya ingin di setiap pesantren ada toko Usman dan tau tokousman.com. contoh  di Cipasung, Gontor, ada brand tokousman.com, karena saat di haji tiap tiap ada toko Ali, kenapa tidak di Indonesia ada toko Ustman?” harapan Usman. Kita doakan bersama. Aamiin. []