Bait-bait Cinta Sang Buah Hati

    0 5

    Sang Ibu terbaring lemah di salah satu ranjang rumah sakit. Senyap. Matanya pun lebih sering tertutup. Hanya tangan kiri ibunda yang sesekali bergerak-gerak kala Nenet melantunkan zikir. Serupa menyadari surat cinta yang tengah sang putri kirimkan untuknya.

    Jeri, Nenet menatap sang ibunda yang tengah terpejam. Bak sinema, fragmen-fragmen masa lalu itu mulai berkelebatan di benaknya. Di mata Nenet, selalu, sang ibu adalah wanita perkasa. Sosok yang tangguh, tak mau kalah meski ditelan usia. Betapa gesitnya ibunda tercintanya ini dulu. Tangkas mengurus segala sesuatu, hingga kesan perempuan kuat itu kian melekat saja dalam diri beliau.

    Namun, melihat keadaannya kini, sering membuat Nenet merenung. Sang Ibu terbaring lemah di salah satu ranjang rumah sakit. Senyap. Matanya pun lebih sering tertutup. Hanya tangan kiri ibunda yang sesekali bergerak-gerak kala Nenet melantunkan zikir. Serupa menyadari surat cinta yang tengah sang putri kirimkan untuknya.

    Mengingat sosok tangguh ibunda di masa lalu, berbanding terbalik dengan kondisinya sekarang yang tengah menahan lara, mau tak mau memberikan Nenet pelajaran jua. Setiap detik, semua orang beranjak tua. Tak ada pilihan untuk kembali menjadi muda. Tetapi, menghadapinya, tergantung cara setiap orang memaknainya, bukan? Mempersiapkan masa tua atau tidak, itulah yang menjadi pilihan.

    Di sanalah Nenet sekarang, setia mengurus ibunda yang mengidap penyakit stroke di masa senjanya. Bahkan dulu, saat kesadaran ibundanya tak menurun seperti sekarang, ia masih mendapati ibunya begitu keras kepala. Berkeras tak mau merepotkan orang lain. Berusaha mandiri, termasuk soal hidup bersama bungsunya ini. Bukan main susahnya saat Nenet membujuk agar sang ibu mau tinggal di rumahnya.

    Enggan berpolemik panjang, Nenet mengalah. Hanya meminta ibunya agar bersedia dirawat oleh suster. Alih-alih bersepakat, penolakanlah yang ia terima. Tak jarang, Nenet melihat ibunya berupaya mengesankan bahwa ia masih kuat, tak merasa dirinya sakit. Ah, ibu .. Tak masalah meski engkau sakit, Nenet tetap mencintaimu.

    Suatu ketika, tangan sang ibu patah, menyebabkan ia harus menjalani operasi. Barulah, ia bersedia tinggal di rumah Nenet. Awalnya sering teringat rumah lama, dan sesekali ingin kembali. Namun, lambat laun, sudah tidak lagi. Ibunya bersedia dirawat penuh oleh putri bungsunya itu, seraya berbagi hidup di bawah atap yang sama dengan cucu-cucunya.

    Jika ditelaah kembali, sungguh luar biasa cara Allah menggiring Nenet hingga di tahap seperti ini. Dulu, sebenarnya ia jauh lebih dekat dengan sang ayah yang telah lebih dahulu berpulang. Perangai sang ayah yang halus membuat Nenet nyaman. Lain dengan ibunya yang mendidik dengan keras, lagi tegas.

    Pun, ketika sang ayah divonis mengidap kanker, ia dengan sabar mengurusnya. Nenet sendiri merasa, ia bisa sepenuh hati mendampingi ayahanda. Sampai ketika orang tercintanya itu telah kembali ke haribaan-Nya, Nenet bertanya-tanya, apakah jika ibunya sakit nanti, ia akan semaksimal saat merawat ayah?

    Seiring waktu, pertanyaan itu terjawab. Ibunda tercinta kerap sakit-sakitan. Kedua kakaknya tak memungkinkan untuk merawat sang ibu. Apalagi, salah satu diantara mereka terkena stroke juga, meski tak separah ibunya. Nenetlah yang mengambil peran, seakan diberikan jalan agar lebih dekat dengan perempuan terkasih yang telah melahirkannya itu. Sungguh salah satu hikmah sakit yang benar-benar ia syukuri.

    “Lain dengan ayah yang hanya sebentar, ibu ini lebih lama masa sakitnya. Sehingga, ada proses yang Allah ingin saya menjalaninya, agar lebih dekat dengan beliau. Jadi memang, saya kira inilah tugas yang diberikan pada saya,” kisahnya.

    Bukan hal aneh baginya kini, memaksimalkan jam besuk setiap harinya untuk bertemu ibunda. Atau, bolak-balik mengurus administrasi di antara hiruk pikuk rumah sakit. Tak merasa repot, tak jua letih. Nenet ikhlas. Ia anggap, sewajarnyalah anak berlaku demikian. Dengan memahami perannya sebagai anak dengan sebaik-baiknya, itu pula yang melunturkan segala kelelahan dan kejenuhan.

    Sering, di sela-sela membagi kesibukan antara merawat ibunda dan mengurus anak-anak, Nenet membagi kisahnya di media sosial. Bukan untuk mengeluh, sekadar memberi kabar juga meminta doa pada kawan-kawan. Hasilnya, doa-doa kesembuhan atas sang ibu tumpah ruah. Tak lupa diikuti dengan kalimat-kalimat yang meminta Nenet agar selalu bersabar, dan menjadikan sakit sang ibu adalah ladang pahala.

    Nenet mencerna banjir komentar yang datang. Dalam benaknya, tak pernah setitik pun ia menganggap bahwa merawat sang ibu adalah ladang pahala. Tidak, bukan seperti itu ia melihat rentetan takdir ini. Ia merasa, jika pun ia memandangnya begitu, tentu tak pantas bersikap perhitungan pada Sang Maha Pencipta.

    Bagi Nenet, merawat orangtua serupa menyelesaikan PR-PR kehidupannya. Utamanya, tentu karena bisa mengakrabkan hubungan Nenet dengan ibunda. Satu hal yang tak pernah berhenti ia syukuri. Pun pada anak-anaknya, Nenet bisa menunjukkan cara ia membagi kasih sayang pada nenek mereka. Yang ia harapkan, hal yang ia lakukan bisa direkam oleh empat buah hatinya, sehingga mereka bisa meneladani itu.

    “Saya sudah tak lagi memikirkan pahala, karena sudah banyak sekali pelajaran hidup yang saya dapatkan,” ungkap Nenet.

    Membimbing Spiritual

    Di waktu besuk, sudah tak aneh lagi jika melihat Nenet menggumamkan lafaz-lafaz zikir di samping ibunya. Sesekali ia menggantinya dengan bacaan zikir yang dianggap lebih menenangkan. Dengan kondisi yang sudah stroke, memori ibunya sedikit demi sedikit mulai pudar. Tentu adalah kewajiban Nenet, untuk membimbing kembali, sekaligus memberikan persiapan spiritual pada ibunya yang kini beranjak 77 tahun itu.

    “Kalaupun ini adalah fase akhir hidupnya di dunia, saya ingin bisa mempersiapkan bekal spiritual bagi ibu,” katanya.

    Maka, bukan hanya zikir, sering ia juga mengingatkan ibunda agar menjalani sakitnya dengan ikhlas. Karena bukan tak mungkin, Allah menjadikan penyakit ibunya itu sebagai penggugur dosa-dosa di masa lalu. Bagaimana bisa mengugurkan dosa, jika dihadapi dengan keluhan? Nenet terus menenangkan ibunya, mengisi ucapan dengan kalimat spiritual menyemangati.

    Menatap raut wajah menua itu, sering mengingatkannya pada sang ayah. Betapa di akhir hayatnya, Nenet tak terbuka pada ayahandanya itu. Tak sepatah pun mengatakan bahwa ia terkena kanker. Seakan tabu membincang kematian yang bisa tiba-tiba datang, juga takut jika ayahnya itu akan putus asa. Padahal, jika saja ia terbuka, barangkali ia bisa mendampingi spiritualitas ayahandanya dengan lebih baik.

    “Hanya pas akhir-akhir saja, saya baru membimbing ayah. Dan itu ternyata kesalahan besar. Saya tidak mau mengulanginya,” tegasnya.

    Pada sang ibu, Nenet berjanji ingin membimbingnya lebih baik. Ia melepaskan jubah ketabuan yang sempat ia kenakan. Disampaikannya apa yang ibunda hadapi dengan apa adanya. Memintanya ikhlas, jika kematian itu datang menjemput. Nenet ingin, ibundanya benar-benar dapat memaknai fase hidupnya yang satu ini.

    “Kalau ibu tak ikhlas, sulit. Yang saya pahami, salah satu kesulitan seseorang melepas nyawa itu karena ia masih terikat dengan hal-hal di dunia, termasuk soal anak. Padahal, saat meninggal, kita harus ingat pada Allah, bukan pada dunia ini. Nah itu pula yang saya sampaikan pada ibu,” tutur Nenet.

    Bukan berarti ia ingin menyegerakan malaikat Izrail melakukan tugasnya atas sang ibu. Ia tentu amat bersyukur jika ibundanya kembali pulih. Bisa kembali berkumpul dengannya di rumah. Namun, bekal kematian itu tetap harus dipersiapkan, bukan? Pun bagi Nenet, ia ingin lebih siap jika pada akhirnya nyawa sang ibu harus dicabut.

    “Saya bilang ke beliau, sing ikhlas menjalani ini, supaya tenang. Baik tenang ketika sakit, tenang juga sampai akhir hayat,”tutupnya. (agh/alhikmah)