Mengenal Lebih Dekat Sejarah Arab Saudi dan Sosok Raja Salman

Mengenal Lebih Dekat Sejarah Arab Saudi dan Sosok Raja Salman

ALHIKMAH.CO–Jauh sebelum Kota Riyadh dikenal dengan kepadatan, gemerlap, dan hingar bingar kota besar seperti saat ini. Sama seperti peradaban-peradaban di masa lalu, Riyadh memiliki kisahnya sendiri. Diawali dari anggapan lokasi strategis dan menjanjikan kehidupan dikarenakan tanahnya yang subur, banyak pemukiman yang berdiri serta menggantungkan hidup mereka dari komoditas utamanya, yakni kurma dan kebun orchard. Pada masa pra-islam ini, Kota Riyadh lebih dikenal dengan nama Hajr yang didirikan oleh suku Bani Hanifah.

Perekonomian berkembang pesat di daerah-daerah dikarenakan pengaruh dari 100 tahun kelahiran Islam. Ketika itu kekuasaan Islam terbentang dari Spanyol hingga ke bagian India dan China. Meskipun, dampak dari hal tersebut adalah pusat politik berpindah dari Semenanjung Arab.

Perkembangan ini juga didukung dengan adanya peziarah yang menaruh minat untuk mengunjungi semenanjung Arabia dan beberapa diantaranya memutuskan untuk menetap di Makkah dan Madinah. Keuntungan dari proses tersebut yaitu munculnya siklus pertukaran ide dan budaya dari peradaban lain dari dunia Arab dan Muslim.

Ilmu pengetahuan berkembang pesat bahkan  dapat disebut sebagai Masa Keemasan bagi cendikiawan muslim untuk mengembangkan bermacam ilmu, diantaranya kedokteran, biologi, filsafat, astronomi, seni dan sastra. Selain itu, banyak ide-ide lain dan metode yang digagas oleh para sarjana Muslim menjadi dasar ilmu modern.

Perkembangan ini pun mendorong seorang teolog Muslim, Muhammad bin Abdul Wahhab untuk membersihkan dan mereformasi ajaran islam kembali kepada ajaran yang murni, sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits. Hal ini dipicu karena banyaknya praktik-praktik bidah, syirik, dan khurafat. Ide yang beliau gagas tidak serta merta langsung diterima oleh para ulama dan tokoh yang merasa posisi atau kedudukannya terancam. Sebagai dampak dari pemikirannya, dia pun harus menerima penganiayaan dari ulama atau tokoh yang menolak.

Tak kehabisan akal, Muhammad bin Abdul Wahhab pun mencari perlindungan di Kota Diriyah, yang dipimpin oleh Muhammad bin Saud. Setelah menjelaskan mengenai latar belakang kepergiannya dan pemikiran yang ditolak para ulama dan tokoh di kampung halamannya, Muhammad bin Saud justru mendukung rencana reformasi Muhammad bin Abdul Wahhab.

Muhammad bin Saud bahkan membentuk kesepakatan dengan Muhammad bin Abdul Wahhab untuk membersihkan penyimpangan dalam praktik ajaran islam. Dengan semangat itu, Muhammad bin Saud pun mendirikan negara pertama Arab Saudi, dengan bimbingan spiritual dari Muhammad bin Abdul Wahhab.

Semenjak kesepakatan tersebut, Dewan Saud dan sekutunya memperluas wilayah kekuasaan. Di awal ekspedisi, mereka menundukkan Nejd, hingga ke pantai timur  dari Kuwait sampai Oman.Tanah Tinggi ‘Asir pun berada di bawah kedaulatan mereka

Perluasan kekuasaan masih berlanjut hingga Hejaz berada di bawah kekuasaan. Selama masa berperang, kota dan desa di bawah kepemimpinan Muhammad bin Saud dan Muhammad bin Abdul Wahhab dihancurkan. Setelah gempuran  selama berbulan-bulan, akhirnya Diriyah pun tak mampu bertahan.

Pada tahun 1824, suku Al-Saud kembali menguasai politik sentral Saudi. Pemimpinnya saat itu, Turki bin Abdullah Al-Saud memutuskan untuk memindahkan ibukota ke Riyadh. Pada perkembangannya, terjadi penggulingan kekuasaan oleh keluarga Al-Rashid.

Pemimpin yang memegang tampuk kekuasaan saat itu, Abdulrahman bin Faisal Al-Saud terpaksa mencari perlindungan kepada suku-suku Badui di timur Saudi, Rub ‘Al-Khali (Empty Quarter). Dari sana, Abdulrahman dan keluarganya melakukan perjalanan ke Kuwait, di mana mereka tinggal hingga tahun 1902.

Pada tahun 1902 M, Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud melakukan pergerakan dan berhasil merebut Kota Riyadh. Dia pun melakukan ekspansi ke daerah-daerah secara agresif. Berbeda dengan pendahulunya yang menggunakan jalan kekerasan, yakni melalui perang, Abdul Aziz justru memilih menggunakan cara damai dengan melakukan pernikahan. Hal tersebut merupakan salah satu upayanya dalam menyatukan semua suku dalam dinastinya. Dan dalam dua tahun, dia berhasil menguasai separuh dari Nejd.

Dalam perkembangannya, pada tahun 1904 dan akhirnya berhasil menguasai sebagian besar Jazirah Arab. Pada tahun 1932, Abdul Aziz menamakan wilayah gabungan Hijaz dan Nejd sebagai Arab Saudi. Dan akhirnya dimulailah, fase Kerajaan Arab Saudi. Ibukota Kerajaan secara resmi dipindahkan dari Jeddah ke Riyadh pada 1980-an, kawasan ini pun mulai berkembang dengan tata kota yang rapi dan terencana.

Tidak semua keturunan dari Abdul Aziz menduduki jabatan penting dalam pemerintah. Hanya keturunan yang dianggap layak dan memiliki kecakapan saja yang dapat duduk memikul tanggung jawab. Setelah Raja Abdullah bin Abdul Aziz Al Saud mangkat, posisinya digantikan oleh Salman bin Abdul Aziz al-Saud sebagai raja ke-7 yang memimpin Arab Saudi.

Salman bin Abdul Aziz al-Saud lahir pada tanggal 31 Desember 1935. Dia merupakan putra ke-25 Abdul Aziz yang dibesarkan di Murabba Palace. Salah seorang putra yang mewarisi darah kabilah al-Sudairi yang terkenal dengan karakter kepemimpinan kaumnya serta kabilah terkuat di Nejd di masa Negara Arab Kedua.

Semasa belia, Raja Salman menerima pendidikan di Sekolah Pangeran di Riyadh. Sekolah tersebut merupakan sarana pendidikan yang dibangun secara khusus oleh Ibnu Saud untuk mendidik anak-anaknya. Selama bersekolah, dia mempelajari ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern.  Begitu pendidikannya selesai dia mengepalai berbagai komite kemanusiaan dan layanan yang memberikan bantuan dari bencana alam dan buatan manusia. Karena tindakannya itu, ia dianugerahi banyak medali, termasuk penghargaan dari Bahrain, Bosnia dan Herzegovina, Perancis, Maroko, Palestina, Filipina, Senegal, PBB, Yaman, dan King Abdulaziz Medal – First Class.

Tidak hanya prestasi di bidang sosial saja, dia pun dipercayakan tanggung jawab menjadi seorang wakil gubernur dan kemudian diberi amanah menjadi gubernur selama 48 tahun di Riyadh, dari tahun 1963 sampai 2011. Pada tahun 2011, dia dipercaya untuk mengisi posisi sebagai Menteri Pertahanan. Dan dalam waktu singkat, diangkat menjadi Putra Mahkota pada tahun 2012. Pada tanggal 23 Januari 2015 silam, dirinya dinobatkan secara resmi menjadi seorang raja.

Begitu menginjak kursi kepemimpinan, Raja Salman mengeluarkan keputusan reshuffle besar-besaran yang pernah terjadi dalam sejarah Saudi. Banyak menteri dan beberapa jabatan di lembaga-lembaga strategis warisan Raja Abdullah diganti. Tercatat, Raja Salman mengangkat 31 anggota kabinet yang meliputi Menteri Kebudayaan dan Penerangan, Menteri Urusan Sosial, Menteri Layanan Sipil, dan Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi. Hal tersebut ditanggapi positif sebagai sinyal perubahan yang signifikan.

Kali ini, ada perbedaan dibanding tradisi reshuffle sebelumnya. Biasanya raja mengganti menteri secara bertahap; bisa 2 atau 3 menteri berdasarkan permintaan raja. Kali ini tanpa basa-basi Raja Salman berani memecat secara langsung, bahkan beberapa menteri yang dipecatnya merupakan menteri yang belum lama dilantik Raja Abdullah.

Dua putra Raja Abdullah pun tak luput dari reshuffle, Gubernur Mekkah Amir Mishaal bin Abdullah dan Gubernur Riyadh Amir Turki bin Abdullah diberhentikan. Putra Raja Abdullah yang tersisa di lingkaran kekuasaan adalah Amir Miteb sebagai kepala Garda Nasional. Raja Salman kemudian mengangkat putranya, Pangeran Muhammad bin Salman  sebagai Menteri Pertahanan.

Raja Salman sangat menghormati ulama. Dia pun mengejutkan banyak pihak dengan mengangkat  Syaikh Saad Assitsry sebagai anggota dewan penasehat kerajaan yang sebelumnya dipecat dari Lembaga Ulama Saudi pada masa Raja Abdullah. Syekh Saad Assitsry dikenal sebagai kalangan konservatif. Ia pernah mengkritik Raja Abdullah yang membolehkan bercampurnya laki-laki dan perempuan di kelas-kelas kampus King Abdullah University of Science and Technology (KAUST). Raja Abdullah dikenal tegas pada para ulama dan cendekia yang mengkritiknya. Tercatat beberapa ulama dipenjarakan akibat kritik mereka ke Raja Abdullah. Salah satunya Syaikh Al-Arifi yang mengkritik kebijakan Raja Abdullah untuk mendukung kudeta militer di Mesir.

Selain mengangkat ulama ke kursi pemerintahan, dia pun mengangkat tokoh liberal yang merupakan mantan kepala Channel Al-Arabia; Adel al-Turaifi sebagai Menteri Penerangan. Karenanya banyak pengamat mengatakan hal ini menandai kembalinya era moderasi model Raja Fahd. Seperti kebijakan pendahulunya saat terjadi Arab Spring, untuk menyenangkan rakyatnya sang Raja  memberikan dua bulan gaji kepada seluruh PNS Saudi, anggota militer dan mahasiswa (termasuk mahasiswa asing) serta para pensiun.  (Nurma Mustika)

Sumber: Dari berbagai sumber